
Sebelum melangkahkan kaki keluar rumah, Ayahku membaca 'Basmalah' terlebih dahulu dan kemudian membaca ayat kursi, memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Setelah membacanya ayahku membuka payung yang dibawanya kemudian memayungiku dan mulai melangkahkan kakinya menuju ketempat kediaman nenek.
••••••
Ayah berjalan dengan sangat hati-hati karena guyuran air hujan yang begitu deras membuat jalan yang ayah dan aku lewati menjadi sedikit licin, ayah terus saja berjalan dengan menggendongku dan tangan sebelah kanannya digunakan untuk memayungiku. Agar aku terhindar dari guyuran hujan malam ini.
Sholawat demi sholawat ia lantunkan ketika berjalan diderasnya hujan malam ini, sedikit demi sedikit tangisanku mulai reda tidak seperti tadi.
Lantunan sholawat dari ayah mampu membuatku sedikit tenang.
"Alhamdulillah, tangisanmu mulai berhenti, Nak." Ucap syukur ayahku.
Aku sebagai bayi mungil itu hanya menanggapinya dengan senyuman manis.
Tidak butuh waktu lama, kurang lebih hanya 10 menit ayah sudah sampai di rumah kediaman Nenek, Ibu Rastani, dan Ayah M.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum." Ucapan salam dari ayah ketika selesai mengetuk pintu
"Assalamu'alaikum" ini adalah salam kedua yang di ucapkan oleh ayah.
Suara pintu terbuka mulai terdengar yang di iringi dengan balasan salam, "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Ternyata yang membukakan pintu adalah Ibuku, Ibu Rastani.
__ADS_1
"Eh mas Fahri. Masuk, Mas." Ucap Ibu Rastani ramah
Ayahku pun memenuhi permintaan Ibu Rastani, ia berjalan masuk kedalam rumah dan berhenti tepat di ruang tamu.
"Silakan duduk, mas." Ibuku berkata lagi
Ayahku menanggapi dengan kalimat "Iya"
"Tumben malam-malam kesini, mas? Padahal masih hujan juga. Apa Alira rewel lagi?" pertanyaan yang di ajukan Ibu Rastani seakan tahu keadaan hatiku yang sepertinya sangat merindukan seseorang sehingga aku menangis tanpa henti.
"Iya. Ini Alira rewel dari tadi, minta ketemu Ibu. Ibu ada?" Ayah bertanya keberadaan nenek karena ayah tidak melihat nenek, mungkin saja sudah tidur, Pikirnya.
"Oh ada kok, dikamarnya. Biar aku panggilkan dulu."
Setelah kalimat itu terucap dari bibir Ibu Rastani, ia melangkahkan kaki menuju kamar milik mertuanya (Kamar nenekku).
Saat Ibuku sudah tidak terlihat lagi, Ayah M keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu dimana Ayah dan aku berada saat ini.
Ayahku mengira bahwa Ayah M sudah tidur, ternyata salah.
"Tidak kok, baru saja sampai"
"Bajumu kok sedikit basah, Mas?" tanya ayah M kepada ayah Fahri karena melihat baju ayah Fahri sedikit basah terkena guyuran hujan lebat tadi.
Namun karena rasa sayangnya kepadaku, sehingga ia rela kehujanan demi mengantarkanku, memenuhi keinginanku. Ia rela menahan dinginnya malam, ia relakan payung yang dibawanya hanya untuk memayungiku tanpa memayungi dirinya pula.
Sungguh, engkau adalah pahlawanku, Ayah.
"Iya diluar kan masih hujan lebat disertai angin yang sedikit kencang, jadi payungnya aku gunakan untuk memayungi Alira saja. Biar aku yang merasakan dinginnya." Ucapan ayah Fahri begitu tulus, perjuangannya sungguh luar biasa untuk membuat anak-anaknya bahagia. Masya Allah.
"Sebentar ya, mas." Pamit ayah M kepada ayah Fahri
__ADS_1
"Iya"
2 menit setelahnya
Ayah M kembali ke ruang tamu yang berbarengan dengan munculnya Ibu Rastani dan Nenek. Ayah M keluar kamarnya dengan membawa 1 baju dilengkapi dengan handuk lalu menyerahkan baju itu kepada Ayah Fahri.
"Ini mas ganti dulu, biar tidak masuk angin." Kata Ayah M menyarankan Ayah Fahri agar segera mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian yang kering.
"Ah iya makasih." Ucapan terima kasih Ayah Fahri kepada Ayah M
"Sini alira biar aku yang menggendong"
Ucapan ini adalah ucapan nenek kepada Ayah Fahri.
Ibu Rastani, masuk kembali kedalam menuju dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk Ayah M, Ayah Fahri dan juga Nenek.
Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar kurang lebih 5 menit. Ibu Rastani telah selesai menyiapkan minuman hangat buatannya. Kemudian ia sajikan dimeja ruang tamu.
Ayah Fahri pun menyerahkanku kepada Nenek, dan gendongan itu beralih kepada nenek juga.
Saat aku telah berada dalam gendongan nenek, ayah Fahri pamit untuk numpang ke kamar mandi. Ia ingin mengganti pakaian yang tadi diberikan Ayah M.
"Kesayangan nenek, kenapa rewel sayang. Kangen ya sama nenek"
Aku hanya tersenyum menanggapinya dan memeluk tubuh nenek.
Sungguh aku merasakan kerinduan yang mendalam kepada nenek, padahal baru sore tadi aku berpisah dengannya karena Ibu S setelah pulang kerja menjemputku untuk pulang ke rumah kami yang tidak jauh dari rumah yang nenek dan Ibu Rastani tinggali.
Rasanya aku begitu tak ingin kehilangan nenek, aku merasakan ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Padahal sebelum-sebelumnya aku tidak pernah seperti ini.
Ada apakah ini?
__ADS_1
Bersambung ...