Goresan Takdir

Goresan Takdir
Dia Bukan Ayahku!!!


__ADS_3

Setelah aku merintih kesakitan dan orang yang melaju dengan kecepatan tinggi sampai tanpa sadar dia menabrakku hingga kakiku terjepit tadi, orang asing itu meminta maaf kepadaku. Aku hanya menanggapi dengan anggukan dan senyum paksaan, karena sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya.


Perlahan aku kembali menghidupkan mesin motorku, lalu mengendarai motorku kembali dengan hati-hati.


Setelah sampai di depan rumah, aku mendapati Ibuku duduk di depan pintu rumahku. Lalu Ibu bertanya padaku, "Suara apa itu tadi, Alira?"


Iya.. Kan aku sudah bilang tempat laundry dengan rumahku tidak begitu jauh. Hanya beda gang saja, jadi ketika aku tertabrak Ibuku bisa mendengar suara tabrakan itu.


"Aku habis ditabrak orang. Dia melaju dengan kecepatan tinggi, jadi tanpa sengaja dia menabrakku." Aku menjelaskan dengan suara lemah karena aku sedang menahan rasa sakit di kakiku.


"Ya sudah kamu masuk dulu, istirahat. Ibu mau pergi sebentar, jika ada yang bertanya keberadaan Ibu. Bilang saja tidak tahu, Ibu pergi tidak pamit."


"Hmm." Jawabku singkat.


Aku turun dari motorku dengan membawa pakaian yang aku ambil dari tempat laundry tadi. Aku berjalan dengan langkah yang begitu lambat. Sakit sekali, gumamku.


Saat aku telah berada didalam rumah dekat dengan pintu. Aku melihat Ibuku sedang sibuk menekan-nekan handphonenya. Berkali-kali Ibuku mencoba menghubungi seseorang namun sepertinya tidak di angkat. Lalu untuk panggilan yang terakhir, telepon Ibuku diangkat oleh seseorang di seberang sana.


Ternyata lelaki tidak jelas itu, gumamku dalam hati.


"Alira, Ibu pergi sebentar. Kamu istirahat, sudah malam."


"Ah iya." Lirihku


Lalu Ibu menutup pintu rumahku dan melangkahkan kakinya menuju motor. Kemudian menghidupkan mesin motor, dan melajukan motor dengan kecepatan sedang. Aku berjalan pelan-pelan menuju kamar mandi untuk mencuci kakiku yang terjepit ban motor tadi.


"Aww." Pekikku


Setelah selesai mencuci kaki, aku kembali melangkahkan kaki menuju kamar tidurku dan ku rebahkan tubuhku ke kasur kesayanganku. Rasanya lelah sekali hari ini.


Keesokan hari tepat setelah melaksanakan sholat isya', lelaki itu datang lagi kerumahku dengan didampingi satu anggota keluarganya, yang sepertinya adalah Pamannya. Ah, iya Pamannya.


Kemudian datang lagi 1 orang, yaitu Bapak Penghulu yang bernama Bapak Syamsudin. Apa maksudnya ini.


Disusul dengan hadirnya beberapa saudara dan tetanggaku.


Saat pernikahan siri antara kedua mempelai Ibuku dan orang gila itu hendak dimulai. Listrik dirumah padam, ternyata semuanya padam. Semua jalan menjadi gelap gulita, tidak ada cahaya yang menerangi sama sekali. Bahkan para bintang dan bulan pun seakan tidak ingin menyaksikan pernikahan gila ini. Mungkin ini pertanda bahwa Allah SWT tidak mengizinkan adanya pernikahan bodoh ini.


Ini adalah kesempatanku untuk kabur dari tempat ini, tempat yang banyak orang berdatangan untuk menyaksikan pernikahan gila ini. Dengan niat membara, aku melangkahkan kakiku begitu cepat menuju mushola peninggalan kakek dan nenekku yang berada tepat disebelah rumahku. Aku duduk di ujung mushola itu dengan memegang dan mengetik sesuatu pada ponselku layaknya orang yang sedang mengetik balasan kepada lawan chatnya. Padahal mah, ponselku sepi sekali, tidak ada notifikasi masuk karena signal hilang akibat lampu yang padam secara keseluruhan ini. Hisss kasihan sekali nasibmu, Nak..


Aku duduk seorang diri disini. Sampai pada akhirnya aku di kejutkan oleh datangnya seorang perempuan yang menghampiriku. Dia adalah tetangga depan rumahku, "Loh kok disini Alira? tidak masuk, kan Ibumu menikah."


"Tidak, di dalam panas. Aku ingin diluar saja, lagian ngapain juga menyaksikan pernikahan yang tidak berarti ini." Jawabku jujur


"Kamu ini ada-ada saja. Itu kan akan menjadi pengganti Almarhum ayah kamu."


"Tidak! Sampai kapanpun tidak akan ada yang menggantikan posisi ayah dalam hidupku, kecuali pamanku sendiri yang selama ini selalu ku panggil dengan sebutan Ayah." Tegasku.


"Aku tidak pernah peduli Ibuku menikah lagi atau tidak. Itu haknya, yang terpenting sampai mati pun aku tidak akan pernah sudi mengakui suami barunya sebagai ayahku. TIDAK AKAN PERNAH." Kataku penuh penekanan.

__ADS_1


"Tapi Alira.."


Sebelum tetanggaku menyelesaikan ucapannya aku sudah memotong ucapan tersebut terlebih dulu.


"Tidak ada tapi-tapi. Silakan pergi dari sini, jangan pernah mengganggu ketenanganku. Aku ingin sendiri, paham tidak." Kali ini rasanya kesabaranku sudah semakin menipis sehingga membuat nada bicaraku terdengar begitu tegas, nyaring, dan menahan gejolak amarah yang siap untuk meledak seketika. Siap-siap ku terkam kalian semua.


Setelah aku berucap seperti itu, tetanggaku pergi meninggalkan ku seorang diri. Namun, kepergiannya meninggalkan jejak tatapan sinis kepadaku. Ah biarlah, karena dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya jika berada diposisiku.


"Sah?"


"Sah..."


Astaghfirullah, ternyata pernikahan bodoh ini tetap berlanjut walaupun keadaan gelap seperti ini. Hanya ditemani oleh senter yang meneranginya. Memang tidak punya otak, padahal sudah diberi pertanda bahwa pernikahan ini bukanlah yang terbaik. Tetapi mengapa masih nekad meneruskan, lihat saja. Sampai mana kebahagiaan ini berlangsung, selamanya atau hanya sehari dua hari.


Flashback off..


•••


Aku terus saja menangis tanpa suara di dalam kamarku karena mendengarkan semua caci maki lelaki brengs*k itu kepada Ibuku yang tidak bersalah. Lelaki bodoh.


Hanya karena teman kerja Ibuku titip sebuah kopi sachet, dia menuduh Ibuku berselingkuh. Sungguh tidak masuk akal, kekanak-kanakan sekali. Sampai aku mati pun, aku tidak akan pernah melupakan caci makimu terhadap Ibuku, lelaki bangs*t.


Dalam air mata yang mengucur deras tanpa henti aku meluapkan segala kesedihan dan emosiku melalui aplikasi WhatsApp.


Aku mengetikkan sesuatu pada story WhatsAppku. Banyak di antara mereka yang begitu peduli kepadaku mengomentari story whatsAppku. Dan aku hanya menjawab 'Tidak apa-apa'. Hanya itu saja.


Hanya orang tertentu yang ku beritahu, diantaranya adalah dia, teman-teman baikku, keluargaku. Selain itu tidak sama sekali.


Aku mengetik sesuatu sebagai balasan disela isakan tangisku, "Aku tahu sifat Mas Anam seperti apa. Dia akan marah besar, tidak akan memberi ampun pada siapapun yang menyakiti keluarganya. Dia tidak akan tinggal diam, suasana hati Ibuku sedang tidak baik. Aku takut nanti malah semakin menjadi buruk dan aku takut akan berdampak buruk pada hubungan Ibuku dengan anak-anaknya."


"Tapi ini sudah keterlaluan, Alira." Balasnya


"Kalau saja aku adalah bagian dari keluargamu, akan aku pastikan sekarang juga aku akan kesana menemuimu dan menolong Ibumu. Tapi saat ini aku tidak mempunyai hak apapun, aku hanya bisa memberi saran dan support. Tidak bisa lebih. Maafkan aku. Kamu sabar ya, tenangkan dirimu dulu jangan banyak bersedih. Berdoa sama Allah semoga masalah ini cepat terselesaikan." Lanjutnya lagi


Disaat yang bersamaan pula, ada sebuah chat whatsApp masuk di ponselku. Ternyata dari saudaraku (TJ) yang berada di Riau, rumahnya tidak jauh dari kakakku yang bernama Sofiana.


Setelah melihat story whatsAppku dia mengirimiku chat yang berisi, "Ada apa, Bik? Kamu kenapa?"


Aku pun menceritakan semuanya. Dia menanggapi, "Yang sabar ya, Bik. Aku gak bisa bantu apa-apa selain bantu doa. Semoga segera selesai ya masalahnya, jangan kebanyakan mikir. Istirahat gih, tenangkan hati dulu."


Keesokan harinya.


Ponselku berdering terus menerus, ku lihat di layar ponselku sudah ada panggilan tak terjawab sebanyak 10 kali. Panggilan telepon itu tak lain berasal dari kak Sofiana.


Saat ponselku kembali berdering, aku segera mengangkat telepon itu. Tanpa ku duga ternyata kak Sofiana sudah tahu semuanya karena saudaraku (TJ) yang semalam aku bercerita kepadanya, pagi hari tadi dia menghampiri kakakku dan menceritakan semuanya.


Karena hatiku masih begitu sakit, sehingga aku mudah sekali untuk kembali meneteskan air mata kepedihan saat ditanya dengan pertanyaan yang sama. Aku menjawab pertanyaan kakakku dengan suara parau, sehingga tidak terdengar begitu jelas.


Saat sambungan telepon itu berakhir, aku meletakkan handphoneku ke sembarang arah. Aku menangis histeris karena semalam aku tidak bisa menolong Ibuku. Maafkan aku Ibu, aku bodoh.

__ADS_1


Ibuku hari ini tidak bekerja, dia berada dirumah tidak diperbolehkan keluar rumah. Namun dia mengurung diri dalam kamarnya, tidak beranjak sedikit pun. Dia tidak bekerja karena lelaki brengs*k itu mengancam Ibuku terus menerus. Dan dia mengancam akan membunuh teman lelaki Ibuku yang di anggap berselingkuh dengan Ibuku.


Karena Ibuku merasa takut akan ancaman itu akan terjadi kepada temannya. Oleh sebab itu, Ibuku mengurungkan niatnya untuk nekad berangkat bekerja demi keselamatan semua orang. Ibuku tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika ancaman itu sampai terjadi.


Ibuku di dalam kamar hanya mampu menangis dan menangis. Tidak ada hal lain yang dilakukannya saat ini. Aku kasihan melihat Ibu. Mengapa cobaan hidupnya begitu berat, mampukah dia menopang semua rasa sakit ini seorang diri. Ibu kuatlah, aku janji suatu hari nanti aku akan berusaha membuat orang - orang menyesal yang pernah menggoreskan luka dihatimu. Pembalasan dendamku akan selalu ada untuk manusia berhati iblis.


Tunggulah saatnya tiba wahai manusia - manusia sampah!


Ingatlah lelaki bodoh, kau mempunyai 2 orang anak perempuan. Bagaimana hatimu jika kedua anakmu dihina dan diperlakukan seperti sama seperti Ibuku. Kau bertindak tanpa memikirkan dampaknya terlebih dulu. Hahaha hatimu akan hancur laki - laki bodoh. Tunggu saja pembalasan setimpal itu, jangan bermain-main dengan diamnya air jika tidak ingin mendapat balasan yang setimpal, bahkan mungkin bisa lebih dari itu.


Ketahuilah, diamnya air bisa mencelakakanmu tanpa harus bertindak lebih keras dari usahamu menghancurkan hati orang-orang yang telah kau sakiti.


••


Malam harinya aku mengunjungi keponakanku yang bernama Seviana Anisa dikost annya. Aku berjalan kaki menuju kost-an itu, setelah sampai aku menetralkan senyumku. Namun tidak bisa di pungkiri, mata sembabku membuat keponakanku curiga. Hingga akhirnya dia bertanya, "Kamu kenapa, Mbak?"


Iya memang semua keponakanku memanggilku dengan sebutan 'Mbak' bukan 'Tante'.


"Gak papa kok." Jawabku dengan sebuah senyuman yang sangat aku paksakan.


Tapi tidak bisa dibohongi, hatiku menolak untuk berpura-pura baik-baik saja. Mataku memanas, berkaca-kaca.


"Coba cerita." Pintanya


Lalu aku menceritakan hal yang sama kepada orang yang berbeda. Air mataku selalu berlomba-lomba menetes tanpa henti setiap kali aku menceritakan kata-kata menyakitkan itu. Aku tak habis pikir, mengapa ada orang setega dan sekejam itu. Berkata tanpa di saring terlebih dahulu.


Berhati-hatilah dalam berbicara, jangan sampai menyakiti hati seseorang. Memaafkan adalah hal yang mudah, tetapi untuk melupakan? Itu sangatlah sulit. Jangan sengaja menjerumuskan diri ke dalam lubang penyesalan, cobalah untuk berhati-hati dalam berucap.


Aku menceritakan semuanya pada Seviana tanpa ada yang ku rahasiakan. Namun dipenutup kalimat yang aku ucapkan, aku berpesan padanya. Agar dia tidak menceritakan ini kepada Mas Anam terlebih dahulu.


Setelah bercerita semuanya, hatiku sedikit lega. Lalu aku mencoba mengalihkan rasa sedih dan piluku dengan mengajak Al Risky, anak Seviana bermain. Setidaknya aku sedikit bisa mengalihkan perasaan yang sedang tidak baik ini. Aku bersyukur masih banyak orang yang peduli dan mau mendengarkan semua keluh kesahku.


Saat sedang sibuk bermain dengan Al Risky, tiba-tiba ponselku berdering pertanda ada panggilan masuk. Aku segera mengangkat panggilan itu, dengan suara yang masih sedikit serak aku menjawab, "Hallo, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Jawab seseorang di seberang sana.


Dia adalah kakakku, Sofiana. Dia bertanya bagaimana keadaan Ibu dan aku saat ini. Sudah membaik atau belum.


"Kamu dan Ibu sudah yakin untuk kesini?" tanya kak Sofiana. Karena memang awal kak Sofiana menghubungi Ibu, Ibuku sudah meminta kak Sofiana untuk membelikan tiket. Ibu ingin sgera pergi dari sini secara diam-diam tanpa ada yang mengetahui. Sebelumnya Ibuku juga menghubungi Kak Ami, Kak Ami juga menyarankan Ibu dan aku tinggal di Kalimantan saja bersama dia.


Aku hanya menjawab, "Kasihan Ibu." dengan suara yang tidak begitu jelas karena saat ini aku kembali menangis lagi. Dadaku begitu sesak, hatiku hancur berkeping-keping. Baru kali ini ada seseorang yang begitu menyakiti hatiku dan Ibu.


Ternyata dugaanku selama ini benar, dia bukanlah lelaki baik-baik. Aku menyesal dulu tidak mencegah Ibuku agar tidak menikah dengan lelaki tidak tahu diri itu. Stupid.


Keponakanku, Seviana. Melihat dan mendengarkan isakan tangisku, matanya ikut berkaca-kaca seakan tahu keadaan hatiku saat ini. Begitu sakit sekali rasanya.


Berpuluh-puluh tahun Ibuku menikah dan tinggal bersama Almarhum Ayahku dulu, tetapi tidak pernah sekali pun aku mendengar Ayah mencaci maki Ibuku.


Hanya lelaki bodoh dan tidak mempunyai hati yang tega membuat seorang wanita menangis dan menahan sakit hati karena ulahnya.

__ADS_1


Nantikan next...


__ADS_2