
Tidak lama setelah aku mendengar bisikan itu, aku mencium harumnya bunga seperti melintas tepat didepanku dan aku kembali mendengar bisikan dari suara lain yang tidak asing menurutku.
Suara itu berbisik,
"Nak, kamu adalah wanita tangguh yang pernah kami miliki, jangan bersedih.
Hapus air matamu sayang, jangan biarkan air matamu terjatuh karena suatu kepedihan. Biarlah air matamu terjatuh karena hal yang dapat membahagiakanmu, Nak. Yaitu, sebuah tangisan dan senyum haru.
Kami sungguh menyayangi dan mencintaimu, tetapi kami harus memenuhi panggilan Allah.
Yakinlah bahwa kami disini bahagia, kami juga tak ingin adanya perpisahan. Tetapi, ini semua sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT. Tidak ada yang dapat mengembalikan detak jantung yang telah terputus selain Allah nak. La tahzan, anakku.
Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami.
Kesedihanmu juga merupakan kesedihan kami, Nak. Jika kamu menyayangi kami maka hapuslah air matamu. Kami selalu bersamamu, anakku."
Setelah kalimat terakhirnya terucap aku merasakan seperti ada yang mengusap kepalaku dengan lembut, seketika membuatku terdiam dan memejamkan mata dengan air mata yang masih setia membasahi kedua pipiku.
Rasanya aku tidak ingin tangan itu berhenti mengusap kepalaku dan meninggalkanku seorang diri, lagi.
Aku tahu suara itu, dia Ibuku..
Ibu, aku rindu padamu, aku ingin memelukmu dengan erat.
Aku ingin bercerita banyak hal kepadamu, Bu.
•••
Pasti bertanya-tanya kan kapan Ibuku meninggalkanku seumur hidup? mengapa tidak pernah dengar ceritanya? Setahuku Ibumu masih hidup, Alira?
Iya, benar. Ibuku memang masih hidup, Ibu kandungku.
__ADS_1
Terus yang kamu maksud siapa?
Jadi gini, dari pertama kali aku dilahirkan dan dapat melihat indahnya alam semesta ini, aku sudah memiliki dua Ibu.
Ibu tiri? Jawabannya bukan.
Lalu? Jawabannya adalah aku tidak pernah memiliki Ibu tiri, aku hanya memiliki Ibu kandungku yang masih hidup dan Ibu keduaku adalah yang telah dipanggil oleh Allah SWT.
Maksudnya bagaimana? Aku jadi tidak mengerti. Baiklah, akan aku jelaskan. Jadi, dulu ketika aku baru dilahirkan kedunia, aku sudah memiliki dua orang Ibu, yang sama-sama saling menyayangiku.
1 Ibu kandung (Ibu S) dan 1 Ibu yang lain.
Dia adalah Bibiku sendiri, dari awal menikah sampai mempunyai anak dia tak pernah dikaruniai anak perempuan.
Oleh sebab itu, dari aku bayi dia ikut merawat dan membesarkan aku.
Dia bernama Ibu Rastani, entah dia lahir dimana. Mungkin sama sepertiku, di Kota Surabaya.
Ibu Rastani lahir tepat pada tanggal 15 September 1971.
Dia menikah dengan lelaki yang merupakan adik dari Ibu kandungku (Ibu S) yang bernama
Mereka sama-sama menyayangiku, mereka menjagaku dengan sepenuh hati.
Dari awal aku dilahirkan, Ibu Rastani selalu setia membantu Ibu kandungku untuk merawatku. Aku bahagia mempunyai orang tua sebaik dan sesayang mereka.
Ketika aku sudah berumur sekitar 2 bulan dan saat itu juga Ibuku sudah diwajibkan masuk kerja kembali.
Saat itulah aku semakin dekat dengan Ibu Rastani(Bibiku) dan Ayah M(Pamanku).
Dikarenakan pada saat Ibu berangkat kerja, Ibuku selalu meminta tolong kepada Ibu Rastani untuk menjagaku karena mulai pagi hingga sore rumahku selalu kosong seakan tak pernah dihuni.
Kakak-kakakku sekolah sampai sore, Ibuku juga bekerja hingga menjelang sore. Ayah kandungku? Dia kerja keluar Kota yang dekat dengan tempat dimana ia dulu dilahirkan, yaitu Nganjuk.
Ibu Rastani dan Ayah M selalu menjagaku dengan baik dibantu dengan nenek yang sangat menyayangiku.
__ADS_1
Bahkan, nenekku tak pernah membiarkanku sendiri. Ia selalu menggendongku dan membawaku kemanapun ia pergi.
Jika aku dibiarkan bermain dengan anak yang sebaya denganku, nenek selalu berkata, "Aduh nak. Sini sini biar nenek gendong saja, nanti kamu dicubit anak lain"
Aku mendengar cerita dari Ibu kandungku (Ibu S) saja sudah bisa menebak bahwa begitu sayangnya nenek dulu kepadaku.
Tapi sayang..
Allah lebih menyayanginya, Allah memanggil nenek ketika aku berumur sekitar 2 tahun
••••
Jadi oleh sebab itulah aku memanggilnya dengan sebutan Ibu dan Ayah selayaknya anak yang memanggil orang tuanya
Walaupun sebenarnya Ayah M dan Ibu Rastani adalah Paman dan Bibiku.
Yang pasti hanya aku yang memanggil mereka dengan sebutan Ayah dan Ibu sedangkan kakak-kakakku, mereka tetap memanggil dengan sebutan Paman dan Bibi layaknya keponakan kepada Paman dan Bibinya.
Aku menyayangi Ayah M dan Ibu Rastani sama seperti aku menyayangi orang tua kandungku sendiri.
Ya walaupun dulu aku pernah mempunyai masa lalu yang begitu kelam, hingga aku sempat membenci orang yang sangat berarti dalam hidupku.
Kalau boleh jujur, aku menyesal untuk saat ini.
Bersambung...
Mau tahu cerita selanjutnya Kan? Ikuti terus ceritaku, dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian
Terima kasih juga untuk siapapun yang selalu mendukung Saya untuk terus berkarya❤️
Assalamualaikum
__ADS_1
Sampai bertemu di Next
jangan lupa untuk like, komen, rate 5 yaa😉