
"Dan kau tidak usah membawa-bawa nama Allah segala. Karena percuma, yang ada malah menambah dosamu, wanita murahan. Karena yang kau ucapkan adalah dusta. Kau wanita licik, wanita tidak mempunyai hati. PELAC*R." Lanjut lelaki itu lagi.
"Terserah! Asal kamu tahu. Aku akhir-akhir ini berubah jadi cuek, tidak memperdulikanmu itu semua karena ulahmu sendiri. Aku capek, aku jenuh melihat kamu tidak ada usaha sedikit pun. Dari awal menikah beberapa tahun lalu, sepeser pun kamu tidak pernah memberiku nafkah. Bertahun-tahun aku banting tulang mencari nafkah, mulai pagi hingga malam aku kerja jahit hanya untuk memenuhi kebutuhan anakku, kamu, dan juga kedua anakmu. Meskipun anakmu bukanlah darah dagingku, aku tetap berusaha mencukupi kebutuhan anak-anakmu. Bahkan anakku sendiri kadang tidak aku hiraukan, anakku meminta sesuatu dariku tidak aku penuhi karena aku lebih mengutamakan anakmu. Jadi sekarang salah jika aku capek di fase seperti ini? hah? Seharusnya kamu sebagai lelaki dan kepala rumah tangga punya rasa tanggung jawab. Berusaha mencari pekerjaan, bukan setiap hari diam dirumah tidak ada usaha mencari pekerjaan. Bukankah tugas seorang suami adalah menafkahi keluarga? Ini malah sebaliknya. Seorang istri harus banting tulang sendiri mencari nafkah demi sesuap nasi, sedangkan kamu di rumah enak-enakan. Makan, tidur, nonton tv. Itu saja. Kadang juga kamu bersenang-senang dengan temanmu. Kamu menjadikan aku sebagai ATM-mu saja, semua keluargamu aku yang mencukupi. Sekarang kamu malah menuduh aku selingkuh dan mengatakan bahwa aku adalah pelac*r. Sungguh tidak berperasaan. Dimana hatimu." Isakan tangis wanita itu semakin terdengar dan menggema diseluruh ruangan.
"Oh, jadi sekarang kamu mau mengungkit-ungkit semua pemberianmu pada keluargaku? iya? Jawab." Teriak lelaki itu
"Bukan maksud aku mengungkit. Kamu salah. Aku seperti ini hanya ingin kamu tidak salah paham dan aku ingin kamu ada sedikit usaha untuk merubah nasib. Bagaimana kebutuhan bisa tercukupi, bagaimana nasib akan berubah menjadi lebih baik jika tidak ada niat dan usaha yang sungguh-sungguh. Tidak ada orang sukses hanya dengan di rumah berbaring tidak melakukan apa-apa."
"Berbaring dirumah tidak melakukan apa-apa layaknya seorang pelac*r, begitu maksudmu? Haha kau pintar sekali wanita tidak tahu diri. Oh jelas kau pintar, aku baru ingat. Kan ini adalah pekerjaanmu, menjadi wanita murah*n yang dihargai berapa saja oleh lelaki lain yang kamu mau."
"Terserah, aku capek menjelaskan begitu secara baik-baik. Tetapi, kamu tetap tidak mempercayaiku seperti ini. Yang ada hanyalah sakit hati yang aku dapatkan dari perkataanmu yang menyakitkan itu." Nada bicara wanita itu mulai melemah yang terdengar cukup keras adalah isakan tangisnya yang tidak kunjung berhenti, dadanya semakin sesak menahan pilu yang melanda.
"Sudahlah kau tunggu saja ajalmu besok, aku akan membawamu ke tempat peristirahatan terakhirmu. Menemani almarhum suamimu. Sampai aku melihatmu berdekatan dengan teman kerjamu atau dengan lelaki manapun, maka dengan segera akan aku habisi kalian semua. Paham kamu." Nada bicara lelaki gila itu semakin meninggi membuatku semakin terkejut dan tidak menyangka bahwa dia adalah iblis yang berwujud manusia. Akan aku pastikan suatu hari nanti engkau akan mendapat pembalasan yang lebih dari ini lelaki brengs*k. Lelaki bajing*n.
Aku yang berada didalam kamar tidurku yang gelap hanya bisa mendengarkan kata-kata menyakitkan itu dengan air mata yang menghujani pipiku dengan begitu deras. Aku menutup mulutku dengan kedua telapak tanganku agar setiap isakan tangisku tidak terdengar oleh siapa pun. Ibu maafkan aku yang tidak bisa membantu apalagi membelamu disaat engkau di hakimi seperti ini. Aku anak tidak berguna Ibu, aku tahu engkau tidak sekeji itu. Engkau wanita baik, hanya saja suami gilamu itu yang jahat layaknya iblis tidak berperasaan. Maafkan aku, Ibu.
Iya. Suara yang terdengar cukup menyakitkan itu adalah suara suami Ibuku, lelaki itu menikah dengan Ibuku pada saat aku memasuki kelas 8 SMP. Entah lelaki gila itu nama aslinya siapa, hanya saja dia selalu mengaku kepada semua orang bahwa nama panggilannya adalah A____. Padahal bukan. Dasar lelaki pendusta, tidak tahu malu.
Dia mengatai orang seenak hatinya sendiri tapi dia tidak pernah berkaca bagaimana buruknya dia. Haha. mungkin saja dia tidak punya kaca dirumah, mungkin tidak mampu membeli, buktinya dia juga tidak mempunyai attitude baik.
__ADS_1
Namanya bagus tapi sayang kelakuannya minus, jika saja Indonesia bukanlah Negara hukum. Maka sudah bisa dipastikan bahwa saat ia melontarkan kata-kata menyakitkan itu, saat itu pula yang tertinggal hanyalah namanya saja. Ia sudah ku bunuh dengan tanganku sendiri. Aku geram sekali dengannya, aku benci dengan lelaki tidak punya hati seperti dia. Aku sangat ingat dulu waktu pertama kali Ibuku mengenalkan dia padaku dengan membawa sebuah bingkisan berisi handphone baru yang di hadiahkan untukku dan katanya itu yang membeli adalah lelaki brengs*k itu. Tapi aku tetap tidak yakin, aku hanya yakin handphone itu dari Ibuku yang dibeli dengan menggunakan uang Ibuku juga.
Jangan dikira aku mudah untuk di bohongi oleh seorang pecundang seperti dia, Cuih..
Dan aku ingat betul, dulu setelah Ibuku memperkenalkan dia kepadaku. Sikapku sangatlah tidak bersahabat dengan lelaki itu, aku sudah mengira bahwa dia bukanlah laki-laki baik.
Beberapa hari kemudian, dia datang lagi ke rumahku dengan maksud ingin meminta izin menikahi Ibuku. Karena anak-anak Ibuku yang berdekatan dengan Ibuku hanyalah aku dan mas Anam. Ibuku mengundang mas Anam untuk datang ke rumahku dengan maksud memperkenalkan lelaki itu kepada mas Anam. Aku tidak menanggapi apapun soal rencana pernikahan itu, aku muak melihatnya.
Aku sengaja meminta izin kepada Ibuku untuk keluar bermain bersama teman - temanku. Ya walaupun sebenarnya Ibuku tidak mengizinkan, namun aku tetap keluar. Aku tidak peduli jika pulang nanti akan di hukum atau di marahi. Aku pergi pada saat orang - orang selesai sholat isya' dan lelaki itu datang pada saat selesai sholat isya' juga. Saat dalam perjalanan, aku berpapasan dengan mas Anam. Dia memanggilku, "Alira" teriaknya
"Iya" kataku
"Main sebentar." Lalu aku kembali melajukan motorku. Aku tidak ingin kepergianku kali ini digagalkan seseorang. Walaupun itu kakakku sendiri. Aku tetap tidak mau, aku ingin menenangkan hatiku.
Aku kembali ke rumah sekitar jam 21.00, saat aku kembali ternyata mas Anam hendak pulang karena dia sudah berada di depan pintu. Namun yang aku dapatkan dari raut wajahnya sepertinya dia sedang menahan amarah. Raut wajahnya tidak bersahabat sekali. Ada apa ini, pikirku.
Aku melihat Kakak Iparku (Istri mas Anam) sedang mencium punggung tangan Ibuku sembari mengucapkan kata 'Maaf'.
Aku mengerutkan keningku, aku semakin tidak mengerti dengan situasi saat ini.
__ADS_1
Kemudian pandanganku beralih kepada seorang wanita yang sangat aku kenali, dia Ibuku. Aku melihat Ibuku, matanya berkaca - kaca. Ada apa ini?
Saat aku menghampiri Ibuku, dia bertanya "Kamu dari mana Alira?"
Nada bicaranya tidak bersahabat sekali denganku.
"Main." ucapku santai
"Sudah malam baru pulang kamu." Nada bicaranya sedikit meninggi
Aku tidak menghiraukannya, aku menerobos masuk ke dalam rumah dan duduk diruang tamu yang ternyata masih ada lelaki asing itu. Aku memandangnya tidak suka. Dia menatapku.
Saat aku mengetahui dia menatapku, dengan segera ku alihkan pandanganku menuju televisi. Aku muak dilihat olehnya. Rasanya ingin ku cakar saja wajah munaf*knya.
Saat semua sudah kembali ke rumah masing-masing. Aku disuruh Ibuku mengambil laundry yang kebetulan tempat laundry tidak begitu jauh dari rumahku. Namun naas, saat aku berusaha hati-hati mengendarai motor dengan membawa laundry yang tidak terlalu banyak, musibah datang menghampiriku.
Di lawan arah ada seorang lelaki mengendarai motornya begitu laju dan berakhir menabrakku. Oh malang sekali nasibmu, Alira. Sehingga membuatku berhenti seketika. Kakiku terjepit diantara ban motorku dengan ban motor orang itu. Sakit dan perih sekali rasanya.
Aku mengalami luka dan memar dikaki sebelah kiriku, aku tertabrak dengan posisi yang masih berdiri. Aku tidak jatuh hanya saja terjepit. Namun ini sakit. Sakitnya sampai satu minggu lebih susah dibuat jalan, jika sakitnya kambuh aku selalu menangis. Lukanya kelihatan tidak seberapa namun sakitnya luar biasa.
__ADS_1
Bersambung...