Goresan Takdir

Goresan Takdir
Eps 2


__ADS_3

Malam haripun sudah tiba, pertemuan antara keluarga Adipati dan Trisujaya.


Tania tampak sudah siap merias diri seadanya, ia menggunakan dreas putih selutut dengan model sabrina.


Tiara memang memilik pesona yang kuat, ia tak perlu repot-repot untuk merias diri berlebihan cukup dengan berpenampilan sederhana sudah memikat kaum adam.


"Huft, andai aja ini mimpi, pasti gw bakalan bahagia banget." Ucap Tania sambil menatap dirinya melalui pantulan cermin.


Setelah merasa cukup, Akhirnya Tania memutuskan untuk keluar dari kamar dan langsung menuju ke ruang keluarga.


"Maafin ayah Tania, tapi ini semua demi kebaikan kamu, semoga kamu selalu bahagia." Ucap Theo sambil menatap Tania yang berjalan kearahnya.


"Dimana Tere, bukankah ini acara makan malam keluarga ?" Tanya Tania yang tak melihat saudara tirinya.


"Ia sedang pergi dengan kekasihnya, katanya ia meminta maaf karena tidak bisa ikut acara makan malam." Jawab Theo.


"Baiklah." Jawab Tania dengan ketusnya, ia masih marah dengan keputusan ayahnya.


"Maafin ayah yang gak bisa buat kamu bahagia, bahkan ayah harus melibatkanmu dalam masalah ini." Ucap Theo sambil menunduk sedih.


"Tidak apa-apa, aku menerima pernikahan ini demi kebahagiaan ayah, jadi ayah jangan bersedih lagi." Ucap Tania sambil memeluk erat ayahnya.


"Maafin ayah sayang." Ucap Theo sambil membalas pelukan hangat dari putrinya Tania.


"Pokoknya ayah jangan banyak kepikiran yah, Tania bisa jaga diri baik-baik, ayah juga harus jaga diri ayah, harus jaga kesehatan dan jangan banyak kepikiran." Ucap Tania sambil memaksakan senyum manisnya, mungkin ia akan menangis tapi melihat kesedihan ayahnya membuat ia enggan untuk menangis, ia pikir ini saatnya ia membantu ayahnya.


"Terima kasih, sifatmu sama seperti ibumu, kamu sangat baik dan cantik, semoga calon suamimu adalah orang yang baik dan rendah hati." Ucap Theo sambil tersenyum menatap Tania, ia membalas senyum hangat putrinya Tania, meski dalam hati ia merutuki dirinya yang tak bisa menjadi ayah yang baik untuk putrinya satu-satunya.

__ADS_1


Ting tong... suara bel rumah berbunyi, pertanda ada yang datang.


"Permisi tuan, nona, tamunya sudah datang." Ucap kepala pelayan yang diketahui bernama mamat, atau bisa dipanggil pak mamat.


"Persilakan mereka untuk masuk, dan langsung tuntun mereka ke meja makan." Jawab Theo.


"Baik tuan." Ucap pak Mamat sambil berlalu pergi meninggalkan Theo dan Tania.


"Kamu sudah siap ?" Tanya Theo pada putrinya.


"Sudah ayah." Jawab Tania sambil tersenyum.


Theo hanya membalas dengan senyum dan anggukan kecil, ia tahu jika putrinya berusaha untuk tersenyum didepannya.


"Tania ke kamar sebentar yah." Ucap Tania yang langsung beranjak dari tempat duduknya tanpa menunggu persetujuan dari daddynya.


"Selamat datang dirumahku tuan Andreas, nyonya Anita dan tuan muda Alex." Ucap Theo dengan sopannya.


"Terima kasih, tapi tidak perlu memanggil kami denggan embel-embel tuan,nyonya, dan tuan muda." Jawab Anita dingin.


"Baik, silakan duduk." Ucap Theo memaklumi sifat dingin dari Anita.


Andreas dan Alex tampak bingung karena tiba-tiba saja Anita bersikap dingin, sebelumnya Anita tidak pernah bersikap dingin kepada orang lain.


Theo tahu benar kenapa Anita bersikap dingin kepadanya, ia tak bisa menyalahkan Anita karena bersikap dingin, ia tahu benar apa penyebab Anita bersikap dingin padanya.


"Sebenarnya ada apa, kenapa sampai istriku bersikap dingin kepada Theo, apa ada yang tidak aku ketahui." Batin Andreas.

__ADS_1


"Kenapa mommy bersikap dingin dengan calon besannya, bukankah tadi mommy sangat antusias dengan ini semua." Batin Alex.


"Dimana calon mantuku ?" Tanya Anita tanpa basa-basi, ia malas berhadapan dengan Theo.


"Tunggu sebentar." Jawab Theo ramah.


"Pak Mamat, tolong panggil tania." Ucap Theo kepada kepala pelayan.


"Baik tuan." Jawab pak Mamat.


Setelah kerpergian pak Mamat, suasana menjadi sangat canggung, Anita menatap tajam ke arah Theo, bahkan tatapan itu adalah tatapan penuh kebencian.


Andreas dan Alex yang melihat suasana canggungpun berusaha untuk mencairkan, Andreas tidak pernah melihat istrinya semarah ini ia sampai bergedik ngeri melihat tatapan istrinya, sedangkan Alex ia juga merasa takut dengan tatapan mematikan yang ibunya keluarkan, meski tatapan itu tidak tertuju pada keduanya, tapi tetap saja suasana canggung tak terhindarkan.


Baiklah kalian juga harus mengetahui satu hal, Tere sebenarnya sengaja di minta untuk pergi selama jamuan makan malam, karena jika Anita melihat Tere, mungkin suasana bukan hanya canggung lagi, tapi akan menjadi sangat menegangkan.


Theo tidak ingin rahasia yang sudah ia simpan rapat-rapat terbongkar karena acara makan malam tersebut, akan lebih baik mengirim Tere keluar dari rumah.


"Selamat malam, maaf aku terlambat." Ucap wanita yang tak lain adalah Tania.


Semua orang menoleh ke arah suara tersebut, tatapan penuh kebencian Anita berubah menjadi tatapan hangat, ia bahkan tersenyum bahagia melihat kedatangan Tania, calon mantunya.


Andreas dan Alex yang melihat Tania, tampak perpesona, Alex bahkan tak berkedip karena kecantikan Tania.


Sudah pernah dikatakan bukan, jika Tania memiliki pesona yang kuat, pesona yang mampu mengikat kaum hawa.


"Ehem" Dheman Anita membuyarkan tatapan semua orang.

__ADS_1


"Selamat malam tuan,nyonya dan tuan muda."


__ADS_2