Guess The Ghost

Guess The Ghost
Halaman 9


__ADS_3

Apa yang dia lakukan disini?


——————


Seseorang menarik lengan Zaidan begitu erat hingga pemuda itu langsung tertarik kedepan.


"huff... hufff..."


Menyadari apa yang terjadi, Zaidan mendongakkan kepalanya dan begitu terkejut ketika melihat Nina yang ia kira meninggalkannya, sekarang berdiri dihadapannya sembari memegang kedua lengannya.


"Nina...?"


Pandangan wanita itu lurus menatap ke sesuatu, sontak Zaidan ikut menoleh kebelakang.


"..."


Disana terlihat seorang perempuan kecil dengan pakaian seragam yang melekat pada tubuhnya. Namun aneh nya perempuan itu tidak mengenakan sepatu ataupun alas kaki lainnya.


Dan yang lebih membuat Zaidan ketakutan ialah... pada tangan perempuan itu terdapat darah yang menetes, dan Zaidan sangat yakin saat ini juga, bahwa perempuan itulah yang tadi membuat ia merasakan sakit yang menyesakkan.


"Huh, siapa dia?..."


Perempuan yang awalnya melihat kearah tangannya sendiri, menoleh melihat kearah Zaidan.


Disana Zaidan bisa melihat dengan jelas kedua bola mata yang tajam dan mengintimidasi itu.


"Jangan mengganggu manusia ini. Kau hampir membunuhnya." Nina bersuara.


Disetiap detik yang terlewatkan adalah detik-detik yang menegangkan.


Zaidan tentu tak ingin terjebak disituasi ini, namun apa dayanya yang hanya bisa menempel pada hantu satu-satunya yang ia percayai, yaitu Nina sang wanita bebaju putih panjang.


"Aku tidak akan mengganggu. Tetapi bisakah kau membantu temanku?..."


Hantu kecil tersebut menurunkan tangannya.


Zaidan yang tidak dapat mencerna kata-kata nya hanya mengerutkan alisnya. Zaidan berpikir, sebenarnya siapakah yang dia maksud teman?, apakah 'dia' adalah hantu jenis lain?, Akankah lebih aneh dari sosok-sosok yang ia sudah lihat?...


"Manusia disana tahu mengenai temanku..., tolong bantu temanku yang terkasih.. aku tidak tahan merasakan penderitaannya....."


"Aku memohon kepadamu, manusia."


Raut wajah hantu kecil itu sangat pucat, namun tidak dapat menutupi kesedihan yang tiba-tiba muncul dari mata hantu itu.


Belum saja bertanya lebih, atau setidaknya menanyakan apa yang dia maksud... hantu kecil itu langsung menghilang dalam sekejap. Membuat Zaidan membatu ditempat.


"... Zaidan?"


"Oh!" ia tersadar dan berganti menatap Nina.


Karena begitu dekat dengan Nina, Zaidan sampai salah tingkah dan memundurkan dirinya hingga pegangan tangan Nina terlepas dari tubuhnya.


'Ini terlalu nyata untuk disebut sentuhan hantu...' setelah kontak fisik sebelumnya di dekat pohon besar dan di beberapa detik yang lalu, ia masih terkejut dan masih tidak dapat percaya pada kenyataan itu. Tidak ada satupun orang yang memberitahunya bahwa manusia dan hantu bisa berinteraksi fisik.


"Apa tubuh Zaidan terasa sakit?"


"T-tidak lagi!", Zaidan menggeleng. " Aku hanya kaget karena Nina masih berada disini..."

__ADS_1


Nina langsung melihat kesekelilingnya dengan seksama.


"Aku sedari tadi berada disini, kenapa Zaidan bisa berpikir begitu?"


Mendengar kata-kata itu, Zaidan menjadi memusatkan perhatiannya yang sudah teracak-acak oleh segala hal yang telah terjadi. Zaidan lalu bertanya apa yang Nina maksud dengan kata-kata tersebut. Dan Nina menjawabnya dengan sangat baik.


"Zaidan sepertinya terkena tipu daya yang ditegaskan kepada Zaidan oleh hantu itu. Ketika pikiran Zaidan tidak jernih, tipu daya itu dapat langsung menyerang dan membuat sang terkena tipu daya terbawa ke alam bawah sadarnya dan pikiran Zaidan akan dikendalikan sepenuhnya oleh hantu itu."


Zaidan tercengang. Ia tidak menduga masalah ini serumit itu, dan sekarang ialah yang 'diduga' terkena tipu daya.


"Apa itu benar??, aku.. aku tidak tahu ada hal seperti itu sebelumnya" Zaidan tetap menyangkal.


"Sekarang mungkin Zaidan masih bisa berpura-pura tidak merasakannya, namun tidak keesokannya."


"Oleh sebab itu, perhatikan udara dimana Zaidan berada. Setiap hantu tidak bisa dipercayai begitu saja"


"Huh..?"


"Nina, tetapi kamu adalah hantu juga, kenapa berpikir begitu?"


Pada tempat yang minim penerangan itu hanya ada Zaidan dan Nina yang berbeda jenis makhluk. Tidakkah itu terasa tidak masuk akal jika wanita tersebut mengatakan bahwa tak ada satupun hantu yang bisa dipercayai?, Zaidan hanya berharap Nina tidak pernah merasa dirinya lebih rendah dari hantu jenis apapun karena Zaidan menganggap Nina 'lebih' dari yang lainnya.


Namun jawabannya cukup mengecewakan. Dalam masalah ini lagi-lagi Nina bersikap misterius dan sulit ditebak.


"Itu adalah sesuatu yang seharusnya kau sudah lakukan." Nina menegaskan, "Tidak ada yang istimewa."


Tak tahan dengan suasana yang aneh ini, Zaidan akhirnya memutuskan untuk melupakan hal-hal yang belum ia cerna dan mengajak Nina mengunjungi Pohon Besar seperti janji mereka.


"Umm..., kamu tidak akan membatalkan janji itu karena apa yang terjadi, 'kan?"


"Tidak. Apakah Zaidan ingin pergi sekarang?".


"Iya, saat berjalan nanti, bolehkah aku menanyakan sesuatu?"


Ia melirik Nina.


"Sesuka Zaidan saja."


***


*Tab. Tab. Tab...,


Sambil berjalan, ia sempat mengangkat pandangannya keatas untuk melihat ke langit. Lingkaran yang begitu menyilaukan pada saat itu belum sepenuhnya berada diatas, dan entah mengapa itu membuat dirinya lega.


Ia mengingat kembali kesehariannya yang beratus-ratus kali terjadi kepadanya. Belajar, pulang sekitar jam setengah 12, pergi ke toko, langit berubah menjadi ke-orenan, dan pulang. Itu telah terjadi terus-menerus, dan bahkan ia merasa sangat senang ketika bisa merusak keseharian itu meskipun hanya sekali.


Disamping tubuhnya saat ini terdapat Nina, dia tidak pernah membawa topik pembicaraan jika tidak diperlukan. Namun dia ada dan sangat baik dalam menjawab. Zaidan sungguh merasa bahwa hubungan mereka bertambah dekat.


"Mengenai hal yang ingin aku bicarakan..."


"Bagaimana bisa Nina tahu tentang pohon itu?, Padahal hari itu adalah hari pertama mu ketempat ini?"


Ia semakin meneruskan pertanyaannya.


"Apakah kau merasa ada sesuatu yang aneh ketika melihat tempat ini, dan teringat akan sesuatu?..."


Alasan mengapa Zaidan mengungkit ini dikarenakan perkataan moma nya yang masih terbayang-bayang di benaknya.

__ADS_1


"Teringat sesuatu? ..... Apa maksud Zaidan?"


Tiba-tiba Zaidan menarik kembali kata-katanya sendiri seakan tahu bahwa itu terdengar seperti ia yang memaksa dan mencurigai Nina.


"Ah, tidak. Lupakan saja ya"


"Jika ada sesuatu yang ingin Nina ceritakan, maka ceritakan saja."


Zaidan dan Nina berhenti. Didepan mereka kini terlihat pintu besi yang tidak terkunci. Lalu di sebelah kanan dan kiri pintu itu terdapat tembok yang membuat siapa saja tidak dapat melihat sisi lain dari tembok tersebut. Satu-satunya cara untuk kesana hanyalah dengan melewati pintu besi.


*Seettle.....


Pintu bergerak perlahan kearah yang berlawanan.


Zaidan mulai melewatinya dan terus berjalan.


"Hmm?"


Ia menajamkan pandangannya saat melihat sesuatu yang jauh didepannya.


Tampaknya, ada orang lain yang berdiri dan menikmati terpaan angin dibawah pohon. Ketika Zaidan berjalan semakin mendekat, seseorang itu terlihat menyadari kedatangannya dan berbalik sampai Zaidan benar-benar bisa menebak siapakah orang tersebut.


Beberapa menit yang lalu~~


Eja yang setengah sadar dan setengah melamun terkejut karena tiba-tiba dilempar bola oleh salah satu temannya.


Spontan ia menangkapnya.


"Eja! maukah kamu bermain bola bersama kami?, ku dengar guru sedang rapat mendadak jadi seharusnya kita pulang cepat" mereka bersorak.


Meskipun telah diajak dan sebenarnya Eja juga sudah lumayan lama tidak bermain... tetapi ia menolaknya dengan halus.


"Maaf ya, kurasa aku sedang tidak ingin bermain untuk hari ini. Sampai jumpa lagi besok!" ia melempar balik bola itu.


Mengerti situasi temannya, segerombol anak laki-laki itu mengiyakan dan melambaikan tangannya kemudian langsung memulai permainan tanpa keikutsertaan Eja. Mereka kelihatan tidak masalah dengan itu.


Sejujurnya Eja akhir-akhir ini disibukkan oleh isi pikirannya sendiri dan mengurangi kegiatan sosial yang biasa ia lakukan. Alasannya hanya satu, yaitu ingin mencari tahu apakah hantu itu benar-benar ada, dan ternyata kejadian saat 'malam itu' tidak membuat ia merasa ketakutan dan malah ingin terus mencari-cari kebenarannya.


***


Saat mendengar berita bahwa di pohon besar belakang sekolah ada penampakan, ia segera mencari tahu.


Dihadapan pohon ia berdiri tegak.


Saat memerhatikan setiap ranting, daun, dan lain-lainnya ia tidak menemukan apapun, dan malah ia mendengar suara kucing yang tiba-tiba menyentuh kakinya.


"Sebuah kucing?"


Ia lalu mengangkat kucing tersebut dengan perlahan.


Setelah satu jam berdiri melihat pohon dan tidak menemukan apapun, ia mulai merasa lelah dan memutuskan untuk pulang.


***


Dan keesokan harinya, ia kembali ke pohon itu dan menemukan kembali kucing yang kemarin ia temukan, karena sudah menduganya.. kali ini ia membawa makanan yang sekiranya bisa dimakan oleh kucing.


Tetapi ketika sedang mengelus-elus kucing tersebut sembari menatap kearah pohon dengan sedikit kecewa, Eja tiba-tiba mendengar tapakan kaki seseorang dari belakang. Dan itu adalah Zaidan.

__ADS_1


__ADS_2