Guess The Ghost

Guess The Ghost
Halaman 14


__ADS_3

Dia buru-buru membuka pintu supaya cahaya luar masuk ke dalam rumah. *Klek!... Pria yang tadi mengetuk dan memanggil terus-menerus sekarang tersenyum ketika melihat seseorang membukakan pintunya. Pria itu lalu memberikan salam dan memberikan alasan kedatangannya kepada anak laki-laki yang membukakannya.


"Selamat pagi nak Eja. Kamu mau pergi ke sekolah, ya? Apa saya bisa menemui ayahmu?" Tangan pria itu menggenggam sesuatu semacam dokumen yang diberi sampul rapi diluarnya.


Mata anak laki-laki pemilik rumah tersebut tentu memandang curiga, tetapi karena itu bukanlah urusannya, maka ia hanya mengabaikannya dan tidak menjawab satu 'pun pertanyaan dari pria itu.


"Oh, hai! Mau bertemu dengan Pak RT, ya? Silahkan masuk. Saya akan memanggilnya" Dia menghidupkan kembali sekring yang ada di dekat pintu.


"Terima kasih" ucap pria tersebut.


...


Wanita itu melihat kepergian anaknya dengan tatapan berharap lalu menutup pintu dengan rapat-rapat.


***


Ternyata gerimis tidak benar-benar berakhir. Saat tangan mengadah ke atas, tetesan kecil air dari langit bisa dirasakan siapapun, jalanan juga menjadi rusak sebab air hujan yang menggenang.


Udara yang dingin dan suasana yang sepi digunakan laki-laki itu untuk menikmati waktu menyantai di jembatan yang berada di daerah yang lebih dalam atau bisa disebut jembatan menuju desa lain. Untuk pergi dan balik memerlukan waktu 7 menit-an kalau memakai motor, dan memang benar jika ia tidak benar-benar langsung pergi ke sekolah, ia berniat menunggu matahari bersinar dan menghampiri seseorang yang ada di pikirannya saat ini.


-------- ••• --------


"Aku membawa pr nya atau tidak, ya?" ...


Di depan kelas, para pelajar laki-laki maupun perempuan tampak resah dan mengecek tas mereka masing-masing. Ini bukan pertama kalinya situasi seperti ini terjadi, di tahun-tahun sebelumnya 'pun begitu menurutnya, jadi Zaidan hanya melewati orang-orang itu seperti biasa.


Sekarang Zaidan sudah hampir sampai di depan kelasnya, tetapi perasaannya menjadi aneh tiba-tiba, ia merasa seakan mendapat kejutan yang membuat jantungnya berdebar, tetapi apa yang mengejutkan tubuhnya?, Zaidan berusaha tidak mempedulikannya.


Di ambang pintu kelas, perasaan menggebu-gebu tadi berakhir. Seorang anak laki-laki yang mempunggungi Zaidan berbalik arah, disaat itu seluruh orang kelas juga menatap kearahnya.


"Zaidan! Kamu ternyata benar-benar Zaidan yang ada dikelas ini, wah!" Eja kegirangan melihat sosok Zaidan yang baru melangkah ke dalam kelas. Seluruh orang yang kebetulan disana langsung membicarakan Zaidan yang biasanya jarang bergaul namun tiba-tiba diajak bicara oleh salah satu anak terkenal. Mereka sangat penasaran sampai-sampai tidak bisa menutupi niat mereka yang kelihatan jelas.


Zaidan sampai ketakutan mendapati situasi yang baru ini, ia berusaha menghindar saat Eja mulai berjalan ke arahnya.


"Halo, kamu adalah anak yang kemarin, 'kan? Karena kita sudah sah menjadi teman, nanti saat jam istirahat kita pergi bersama, ya?" Ia tersenyum sangat cerah.


Zaidan sungguh tidak dapat ide kenapa laki-laki itu sangat ingin dekat dengan dirinya. Bukannya merasa senang karena mendapatkan teman yang sekiranya baik, ia malah ketakutan dengan situasi yang menuntutnya untuk mengiyakan perkataan orang lain di depan kelas dengan banyak pasang mata yang melihat.

__ADS_1


"Ee... Aku tidak tahu...."


Ia menunduk dan menghindari bertatapan dengan Eja yang lebih tinggi beberapa centi.


"Apa yang kamu katakan? Maaf, aku tidak mendengarnya" Sebelum Zaidan bisa menjawabnya, dia kembali meneruskan suaranya, "Aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu, tetapi aku tidak yakin kau mau mendengarnya. Tapi misalnya tidak keberatan, maukah kamu nanti menemuiku?" Suaranya meninggi, terdengar cukup jelas bahwa dia sangat antusias untuk sesuatu. Hal ini membuat Zaidan dilema.


'Apa yang harus aku katakan sebagai gantinya...?' Pikirannya berkutat. "Emh... baiklah, baiklah... a—aku akan duduk," ucapnya menahan air mata yang hampir menetes.


Zaidan melangkah gugup ke di mana kursinya berada. Dilihat dari wajahnya yang berbinar-binar, pasti laki-laki itu puas dengan jawaban Zaidan yang tadi. Dan sekarang Zaidan berpikir keras mencari bagaimana cara untuk tidak jadi bertemu dengan teman sekelasnya itu sesuai apa yang tadi diminta, namun kira-kira bagaimana?


--------


*Kringgg!!!


Seluruh pelajar berbondong-bondong keluar dari kelas meraka dan menunju kantin.


...


Ada yang namanya perbedaan derajat yang ada di sekolah Seonarkaya(sonarkaya), yaitu perbedaan kewargaan yang dapat mengubah kekuasaan orang tersebut di sekolah Seonarkaya. Mudahnya, sekolah ini dapat menampung anak-anak yang berasal dari luar daerah yang tempatnya lebih dalam, tentunya tidak akan ada bangunan sekolah dan pendidikan disana, oleh karena itu kebanyakan murid ini berasal dari desa yang sangat jauh dan pergi ke daerah Merak Merah hanya untuk bersekolah. Itulah mengapa sekolah memiliki banyak murid dan pelajar, namun meski begitu, perbedaan ini membuat anak-anak tidak akur "Dibalik" pengawasan guru.


...


"Zaidan..."


Suara lembut Nina menggugah Zaidan dari lamunannya. Sepertinya Nina sungguh khawatir kepada dirinya, ia rasa akan lebih nyaman membicarakan "Kesulitannya" Kepada Nina yang pasti mendengarkan dengan baik.


"Nina, di kelas tadi aku diajak bertemu oleh seseorang... ia adalah teman kelasku. Mungkin. Tetapi aku bingung harus menemuinya atau tidak, bagaimana kalau kita tidak cocok untuk menjadi teman?" ia menatap memelas ke Nina.


"Oh, apa kau ingat laki-laki yang kita temui di pohon besar itu? Dia adalah orangnya!" Ia tiba-tiba merasa bersemangat, tetapi seketika lesu kembali memikirkan apa yang harus ia lakukan, dan sedangkan jam istirahat terus berjalan, sekitar 10 menit lagi akan selesai.


"Pergilah temui dia, kenapa takut tidak cocok?"


"Aku hanya takut, Nina. Bunda sering mengatakan kalau pertemanan harus berada di situasi yang sama agar saling mengerti satu sama lain dan juga harus memiliki sifat yang sama."


"Dan laki-laki itu pastinya jauh berbeda denganku, dia selalu bersinar dimanapun dia berada, semua orang pasti mengenalnya," kedua matanya melirik kebawah.


"Apakah itu yang Zaidan khawatirkan?" ia mengaitkan kedua tangannya di depan, "Rasa takut memang merupakan musuh, tapi tidak ada salahnya mencoba melawan musuh itu dengan segenap harapan yang Zaidan punya. Seperti waktu itu di pohon besar, Zaidan juga menyuruhku jangan menyerah. Sekarang, Zaidanlah yang harus menunjukkan hal itu."

__ADS_1


Rangkaian motivasi itu mungkin terdengar pendek dan juga sulit dipahami pada beberapa akhir kalimat, tetapi dampak dari rangkaian kata yang dibuat Nina berhasil membuat kagum Zaidan. Ia merasa telah membesarkan sesuatu dari yang susah untuk berkomunikasi menjadi teman yang selalu menghiburnya. Lagi-lagi air keluar dari kedua matanya, kali ini salah satu kelopak matanya tidak bisa membendungnya lama-lama dan akhirnya terjatuh.


Sembari mengusap tetesan air itu, Zaidan bergumam, "Sekarang Nina sudah percaya kepada Zaidan, ya?"


Nina melihat keseluruhan arah seperti mencari-cara jawaban, "... Apa mungkin begitu?"


***


Sejauh ini orang-orang tidak pernah melihat Nina secara langsung kecuali gadis-gadis yang tidak sadarkan diri kemarin-kemarin. Zaidan merasa senang dan sekaligus beruntung, namun ia juga sempat bingung kenapa ia bisa mengajak Nina ke sana-ke mari tanpa dilihat satu orang 'pun.


Bukankah seharusnya ada setidaknya segelintiran orang yang mampu melihat hal seperti itu disekolah ini? tetapi yasudahlah, toh, itu hal yang melegakan untuk bisa membawa Nina pergi tanpa rasa takut.


"Hei, Zaidan!" Seseorang melambai-lambaikan tangannya dan memanggil nama Zaidan, ketika diperhatikan seksama, orang itu benar adalah Eja.


Zaidan menoleh kebelakang untuk memastikan bahwa Nina baik-baik saja. Lalu berjalan menghampiri teman sekelasnya tersebut dengan hati yang sekarang lebih ringan dari sebelumnya. *Drap. Drap. Drap. Ia berjalan melewati keramaian dan berhenti tepat disamping Eja.


"Kupikir kamu tidak akan menemuiku, hampir saja aku merasa sedih, hahaha. Oh, ya. Apa kamu ingin memesan sesuatu? Bakso di kantin bagian ini sangaaaaat enak! Sudah coba??"


Zaidan menggerutu dalam hatinya, "Menemui laki-laki seperti ini apakah pilihan yang tepat....?" ia mempertanyakan kembali kehadirannya di kantin ini bersama Eja.


...... ...


"Iya, Aku sudah mencobanya.. Sepertinya begitu beruntung jika bisa mendapatkan Bakso itu akhir-akhir ini. Apakah kamu pernah memakan Nasi Goreng bu Weni juga?" tanya Zaidan.


"Iya, iya!! Itu juga enak, bagaimana jika kita memakan itu hari ini? Aku akan membelikannya untukmu," balas Eja.


"Eh, eh! Itu tidak perlu... aku sudah sarapan tadi pagi, aku 'pun tidak lapar juga..."


Zaidan mengangkat kedua telapak tangannya dan menolak halus tawaran laki-laki itu. Eja lalu bersuara lagi mengatakan sesuatu yang membuat Zaidan langsung terdiam.


"Ey, terima saja~ Sebenarnya saat ini aku benar-benar memerlukan bantuanmu. Kumohon dengarkan ceritaku dulu, ya? Ini tentang keluargaku, jika tidak bisa membantu tidak masalah, setidaknya bersedialah untuk mendengarkan ceritaku ini.." Raut wajah laki-laki itu yang semula dipenuhi senyum senang, sekarang perlahan terkikis menjadi senyum miris.


"Sebentar, ya. Aku pesankan Nasi Goreng-nya dulu"


...-------- ⧼ ••• ⧽ --------...


__ADS_1


__ADS_2