Guess The Ghost

Guess The Ghost
Halaman 4


__ADS_3

Pohon Yang Tidak Pernah Disebut Itu Kembali Didengar.


---


Di perjalanan melewati komplek, Zaidan dan nyonya hantu menghabiskan waktu dengan hanya saling berdiam dalam kecanggungan. Zaidan bingung bagaimana harus bereaksi tentang apa yang tadi terjadi. Dan sepertinya nyonya hantu 'pun tidak ingin membicarakannya juga.


"Emmm... Kelihatan nya mereka sangat menghormati anda, ya"


Jemari-jemarinya bergerak menggapai rambut dan memainkan nya.


"Menghormati?"


"Bukankah mereka ketakutan?"


"Oh, ma-mana mungkin! Nyonya hanya berpikir berlebihan, mereka pasti menghormati anda!"


Dengan sebaik mungkin Zaidan menjaga perasaan nyonya hantu agar tidak tersinggung dengan perkataan nya barusan.


"Ee.. terima kasih telah membantu ku"


"..."


"Ngomong-ngomong, apa benar jika nyonya hantu tidak memiliki nama?"


Ragu-ragu ia melirik ke wanita disebelahnya dan memandangnya dengan kebingungan.


Meski wajah wanita itu tidak terlihat, Zaidan begitu yakin jika saat ini wanita tersebut tidak menunjukkan ekspresi apapun.


"Dahulu... aku adalah penunggu suatu rumah. Dan tidak tahu bagaimana, aku tiba-tiba berada di sekitar pohon yang sangat besar, dan disitulah aku menemukan wanita itu. dia berkata akan membantuku."


"Karena tidak ingat apapun... Aku tidak ada nama untuk dipanggil." nyonya hantu berbalik menatap Zaidan.


Dari cerita nyonya hantu yang tidak begitu panjang, Zaidan tiba-tiba mendapat pencerahan yang mungkin bisa membantunya dimasa depan.


'Rumah...?, pohon..? Apa mungkin ini adalah sebuah tujuan??' Matanya berbinar-binar dengan ide baru ini.


"Baiklah! Kalau begitu aku akan memanggil kau sebagai nyonya hantu saja. Ya walau sebenarnya Aku ingin memberi mu nama"


"Memberi nama?..."


Seakan ingin mengetahui apa yang ingin Zaidan sampaikan, nyonya hantu langsung berhenti bergerak dan terus menatap kearah samping.


Zaidan yang menyadari itu, juga ikut berhenti berjalan.


"Eh, nyonya hantu ingin diberi nama, ya?"


"Bagaimana dengan nama Nina? Apa itu bagus?"


Meski awalnya nyonya hantu hanya terdiam dan membatu, namun, setelah beberapa detik kemudian ia langsung mengangguk suka. Dan secara spontan Zaidan terkekeh karena ini pertama kalinya ia memberikan nama kepada seseorang wanita. Terlebih lagi makhluk halus.


'Aku tahu bahwa nama mu yang sebenarnya pasti lebih indah dari yang kuberikan. Tetapi, kau juga akan melupakan nya ketika kau tidak lagi membutuhkan nya".


"Nina, mulai sekarang kamu harus memanggil ku dengan kata 'kamu' atau Zaidan, yang adalah nama ku. Dan begitu juga dengan aku memanggil kamu, Nina!"


Karena begitu senang ia sampai-sampai tidak menyadari bahwa warga komplek yang tidak sengaja melirik Zaidan kini menatap Zaidan dengan tatapan bingung dan risih.


Zaidan yang sudah tahu apa yang mereka tengah pikirkan, hanya menyuruh nyonya hantu untuk cepat-cepat mengikutinya pergi ke sekolah sebelum terlambat.


***


*kringggg!!


Jam pelajaran berakhir dengan pak guru yang memberi beberapa pekerjaan rumah(pr) kepada murid-muridnya. Zaidan cukup senang.


Ketika sedang merapikan buku-buku nya, perhatiannya tiba-tiba teralihkan oleh percakapan teman sekelas yang terlihat akan segera pergi ke kantin.


"Eja, apa yang terjadi padamu tadi malam?", Dia mendekat ke sebuah meja salah satu murid sebaya nya.


"Aku dengar dari orang tua mu bahwa kau mengalami insiden. Apa kau sungguh baik-baik saja?"


"Iya, tidak ada yang terluka kecuali telapak tangan ku dan dengkul ku"


Dia menunjukkan telapak tangan nya yang penuh goresan kasar, yang membuat kulitnya terkelupas sedikit demi sedikit setelah diberi obat.

__ADS_1


"Jangan perlu khawatir, luka nya tidak parah, dan kulit ku bisa tumbuh kembali besok"


Seketika pukulan keras melandas ke bahu anak itu.


"Dasar! Lelucon mu itu tidak lucu. Oh ya, dan bagaimana dengan rumah yang ingin di beli orang tua mu?"


Permasalahan rumah sudah didengar oleh Zaidan kemarin.


Laki-laki yang dipanggil Eja itu berkata kepada teman laki-laki lainnya bahwa dia akan mengecek suatu rumah baru karena rumah yang sebelumnya akan diberikan ke kakak ayah nya. Yang juga paman nya.


Lalu, kemarin dia juga menceritakan pengalaman orang tua nya yang sudah pernah mengunjungi rumah baru tersebut.


"Tadi malam sebenarnya aku hanya tertabrak oleh anjing disekitar sana yang tiba-tiba mengamuk"


"Tetapi kedua orang tua ku berkata bahwa mereka melihat 'makhluk' yang sama seperti hari itu."


Karena penasaran, sebagian kawan-kawan yang mendengarnya 'pun ikut mendekat. Mereka bersamaan bertanya apa yang terjadi pada keluarga laki-laki remaja itu.


Dan Eja yang tertekan mulai menceritakan rentetan hal-hal yang terjadi pada malam tadi. Bisa disebut juga sebagai pengecekan ke-2 sebelum rumah nya sah terbeli.


"Yang jelas, penampakan itu kembali terjadi namun dengan tempat yang berbeda, Yaitu di salah satu kamar dilantai 2."


"Ayah ku yang masih bingung dengan keanehan yang terjadi di pengecekan sebelumnya lalu bertanya-tanya tentang sejarah rumah itu kepada pemilik rumah, dan ternyata, rumah itu sebenarnya adalah tempat bekas kematian tidak disengaja, dimana putrinya mati mengenaskan jatuh dari tangga yang membuat kakinya tertekuk tidak wajar saat mati. Sebab itulah ibu ku melihat penampakan nya didekat area itu"


"Kami mendengar kisah itu disaat berada diluar bangunan karena masih ketakutan, namun saat keluargaku mempertimbangkan keputusan pembelian rumah.. Kaca salah satu kamar yang ada di lantai 2 tiba-tiba pecah begitu saja. Itu membuat kami merinding, dan tidak terkecuali anjing pemilik rumah sebelah"


"Dan begitulah awal mula aku mendapatkan luka cukup mengesankan ini. Dan tenang saja, bukan hanya aku yang terluka."


"Ayah dan ibu ku juga sudah memutuskan untuk membatalkan pembelian itu pada akhirnya" "hehe.."


Setelah cerita berakhir, teman-teman yang tadi begitu penasaran sekarang terbungkam karena mereka mulai merasakan kengerian yang ada sesudah mendengar cerita itu.




Sekarang Zaidan mendapat informasi baru.


Di hari lampau ia mendapatkan fakta-fakta dan cerita-cerita bagus yang bisa dipikirkan lebih lanjut dari teman-teman nya itu. Fakta yang pertama kali Zaidan dengar adalah 'keberadaan' hantu.




Dari SD hingga SMP Zaidan selalu merasakan suasana kelas yang berbeda disetiap tahunnya, alasan nya adalah saat SD kebanyakan teman-teman Zaidan selalu tidak mau berinisiatif berbincang dengan Zaidan setelah Zaidan pernah beberapa kali menolak ajakan mereka. Dan ketika SMP, murid-murid yang berasal dari kelas A beberapa nya di bagi ke kelas B, C maupun D setiap kenaikan kelas. Itupun secara acak.


Dan sekarang Zaidan hanya memiliki 3 hingga 4 teman saja yang berasal dari kelas sebelumnya. ...



Dan ternyata perpindahan bagian A, B, C, D secara acak itu tidak buruk juga setelah Zaidan menemukan SESUATU YANG BARU pada tahun ini. Sesuatu yang baru ini tak lain adalah cerita-cerita seram teman Zaidan yang terkadang tidak masuk akal dan sulit untuk dimengerti.



'Mereka selalu menceritakan cerita unik. Dan aku yang sebelumnya membantahnya sekarang merasakan hal itu sungguhan...'



Zaidan jadi berpikir, akankah teman-teman nya itu kegirangan jika Zaidan menceritakan pengalaman nya yang baru saja diantar oleh sesosok hantu?



...


"Haish...!"


Zaidan berdesis frustasi.



Dari pada menyibukkan dirinya dengan segala pemikiran aneh itu, Zaidan lebih baik mencari segala informasi untuk membantu nyonya hantu agar bisa tenang berada ditempat dia seharusnya berada.


__ADS_1


.



.



.



\*Ssrak.. Srakk...!



Zaidan yang tadi tidak merasakan apapun tiba-tiba merasa cemas.


Untuk mengalihkan kecemasan nya itu, ia mencoba menendang kerikil yang ia temui selama berjalan.



Itu membantu, karena bunyi yang diciptakan sangat tajam membuat ia bisa memfokuskan pikiran nya ke suara itu dan melupakan kecemasan nya.



"Hei, Hei!!"


Dari kejauhan terlihat seseorang gadis bersama 1 teman nya berlari dengan terengah-engah kearah Zaidan. Wajahnya yang terasa asing bagi Zaidan mestinya adik kelas yang tak pernah ia lihat sebelumnya.



Semakin mendekat kearah Zaidan, gadis itu terlihat semakin panik dan menunjuk-nunjuk ke belakang.



"Kak.. Itu kak...!!"


"teman saya...."



"Uhh.. Ada apa dengan teman kamu?.."


Zaidan menajamkan pandangan nya.



"Kak... Tadi salah satu teman kami tidak sadarkan diri di depan pohon besar!!"



"Pohon besar..?"



"Iya! Kami tadi lihat sesuatu putih-putih di atas pohon!!!"


"Tolong kami kak... "



"..Apa kalian yakin tidak salah lihat?",



Mereka berdua mengangguk.



Melihat dua gadis didepan nya yang seolah akan menangis ditempat, Zaidan akhirnya menyetujui untuk membantu teman mereka yang tidak sadarkan diri.


"Baiklah, ayo."

__ADS_1



Pohon besar yang disebut adalah pohon yang terletak di belakang gedung sekolah, dan dua tempat itu terhalang oleh sebuah tembok. Maka tak heran jika Zaidan sempat kebingungan, karena tempat itu sebenarnya sangat jarang dikunjungi oleh warga sekolah meski pengurusnya sekalipun.


__ADS_2