Guess The Ghost

Guess The Ghost
Halaman 8


__ADS_3

Berada diruang yang sunyi dengan hanya ada dirinya disana adalah keadaannya saat ini di dalam kelas. Ia baru menyadari bahwa pada saat pergi menemui Nina murid-murid lainnya telah pergi pulang terlebih dahulu. Namun itu tidak menjadi masalah.


Dengan cepat ia mengambil tas nya dan mengambil sampah yang ada di laci nya tanpa terkecuali.


Meskipun ia ingin sekali membersihkan se-isi kelas, tetapi ia tidak bisa membiarkan seseorang menunggunya, oleh karena itu ia hanya meninggalkan senyuman lalu menutup pintu kelas begitu saja.


Saat berjalan kembali.. sampah-sampah kertas yang digenggamnya langsung dia buang pada tempat sampah terdekat, dan sosis matang yang tadi belum digigit sedikitpun, sekarang ia langsung memakannya.


Setelah apa yang selama beberapa hari ini ia alami, sekolah terasa sedikit berbeda. Mungkin itu hanya perasaannya saja.


Terus berjalan melewati lorong sekolah, tak sengaja Zaidan melihat sekelompok orang-orang yang bermain bola di tengah lapangan, dan sesaat memerhatikan mereka, beberapa detik kemudian ia menyadari bahwa mereka adalah kawan-kawan yang saat itu ikut menimbrung mendengar cerita berkesan horor milik Eja. "Bisa-bisanya aku mengingat mereka. Padahal ini baru beberapa hari sejak kenaikan kelas" gumam Zaidan.


Tak ingin terlalu memikirkannya, buru-buru ia berjalan ke belakang gedung sekolah dengan pikiran yang dipenuhi janjinya kepada Nina.


Sesampainya ditempat yang sama ia berhenti dengan nafas yang sedikit terengah-engah dan mata yang menyelisik kesana-kemari. Zaidan terlihat kebingungan karena tidak mendapati sosok Nina di sudut tempat manapun, dan itu membuat dirinya resah.


"Dimana Nina?," "Apakah dia sudah pergi duluan?" pikirannya langsung mengarah lurus. Mengetahui bahwa Nina sepertinya tidak sabar untuk pergi ke Pohon Besar itu, Zaidan lalu memutar arah tubuhnya.


Terdiam sejenak, Zaidan merasakan jantungnya melemas.


Perasaan itu benar-benar aneh hingga nafasnya mulai terdengar berat karena rasa sakit yang benar-benar menusuk.


Ia menoleh ke belakang perlahan-lahan.


Begitu terkejutnya ia ketika melihat seseorang berdiri dibelakangnya dengan tangan yang menyentuh punggungnya.


Dan disana Zaidan juga menyadari bahwa tangan itu telah menembus tubuh dan menyentuh jantungnya.


Zaidan terdiam tak berkutik. Ia juga tidak tahu mengapa dirinya hanya bisa terdiam dan tidak mengelak, namun tak berselang lama tiba-tiba ada seseorang lain yang dengan cepat menarik lengannya dari depan dan membuat dirinya seketika tersadar.


————


Sebuah kejadian mengejutkan penuh drama terjadi di salah satu rumah kecil diantara rumah-rumah lainnya... dan rumah itu adalah rumah Zaidan beserta anggota keluarga yang lain.


Sesosok pria tiba-tiba berada didalam dapur tanpa menunjukkan tanda-tanda yang membuat 2 perempuan disana langsung kegelimpungan. Mereka terlihat tidak menduga kedatangan pria itu. Pria tersebut 'pun memberikan salam.


"Selamat pagi Nyonya Rosemary dan Nyonya Vivienne."


"Sudah sangat lama kita tidak berjumpa, " lanjutnya.

__ADS_1


Kesti dan Vivie saling menatap dengan tatapan mata yang memiliki berbagai arti.


Beberapa waktu kemudian Kesti memundurkan kursinya dan berdiri untuk menjawab salam pria itu.


"Aku tak menduga kau akan datang secepat ini. Ngomong-ngomong selamat datang kembali, Lou Yan."


"Terima kasih banyak Nyonya Rosemary, apa aku mengagetkan kalian?, tadi sebenarnya aku sudah mengetuk pintu depan namun kebetulan sekali Zaidan lah yang membukanya"


"Dan sepertinya ada sesuatu yang baru disekitar sini, ya..."


Meski kedatangan Lou Yan benar-benar diluar dugaan, tetapi mereka telah memprediksi bahwa hal 'ini' cepat atau lambat akan diketahui. Dan karena tidak ada jalan lain, Kesti langsung mengajak pria berwibawa tersebut untuk berbincang ditempat yang lebih nyaman.


"Bagaimanapun, kau tetaplah orang luar dirumahku ini, jadi mari kita berbincang bersama di ruang tamu saja" ia memegangi keningnya yang terasa nyeri.


"Nyonya Rosemary benar, kalau begitu aku akan ke ruang tamu terlebih dahulu yah"


Pria itu 'pun berbalik dan berjalan menjauh dari ruang makan.


***


Seperti apa yang mereka inginkan, perbincangan di ruang tamu akhirnya segera dimulai. Beberapa toples kue manis ditaruh oleh Vivie untuk melengkapi perjamuan ini, dan tak hanya itu, Vivie juga sengaja menyiapkan kue sagu yang terlihat lebih menarik daripada kue lainnya.


Kesti mengambil secangkir teh lalu menyeruputnya dengan sangat menghayati.


"Ohh, sekitar 2 hari yang lalu" "Namun karena sementara masih banyak hal yang perlu diurus, sekarang aku masih tinggal di hotel Perakpali."


Berbicara dengan santai seperti ini membuat ruang tamu itu menjadi tempat yang sejuk dan cerah. Selain hari yang masih pagi, ternyata salah satu penyebab kedamaian ini adalah teh yang diseduh oleh mereka. Bukan teh wanggy ataupun teh siap saji lainnya yang terdapat pada minuman itu, melainkan teh yang diberikan khusus dari sebuah perkebunan teh yang kemarin baru dibawa oleh Kesti.


Dan faktanya, aroma dari teh itu sangat harum melebihi teh hijau lainnya, tetapi rasanya sungguh pahit dan asam. Itulah sebabnya ada beberapa orang yang tidak menyukainya.


"Apakah teh nya tidak sesuai dengan selera mu?, mengapa kau tidak meminumnya?, padahal Vivie sudah menyiapkannya ini dengan susah payah"


Sembari memegang gagang cangkirnya, Kesti sedikit menggoda pria itu sebagai penyambutan biasa karena sudah kembali lagi ke tanah Indonesia setelah sekian lama, dan itu juga hanya didasarkan untuk membalas dendam kecil atas kedatangan pria itu yang sangat tiba-tiba.


"Nyonya Rosemary... sepertinya anda begitu berantusias untuk menjahili ku.." Luo Yan berpasrah.


"Baiklah, lupakan saja itu.


Sebenarnya, apa yang membuatmu kemari sangat cepat?, apakah pekerjaanmu disana sudah selesai?"

__ADS_1


Luo Yan menggelengkan kepalanya perlahan.


"Sebenarnya ada beberapa musibah yang menimpaku karena salah satu karya lamaku. Tetapi tenang saja, itu sedang dalam penanganan"


"Ngomong-ngomong... bagaimana bisa hantu itu muncul disini?, dan juga Zaidan sepertinya bisa melihatnya..., apa ada sesuatu yang terjadi disini selama aku berada diluar negri?"


*cling.


Setelah mendengar pertanyaan-kebingungan Luo Yan, Kesti meletakkan cangkirnya diatas meja dan dengan serius ia bertanya, "Jadi kau bermaksud mengambilnya?"


Pria itu langsung menghembuskan nafas kasar. Sesungguhnya itu bukanlah apa yang aslinya ia pikirkan, dan karena wanita lanjut umur itu sudah terlanjur mengatakannya, niat Lou Yan yang semula baik tiba-tiba menjadi terdengar buruk.


"Tolong jawab pertanyaanku sebelumnya, Nyonya Rosemary."


"Sudah cukup. Wanita itu kutemukan disuatu pohon besar sekitar sini, dia tidak ada sangkut pautnya dengan 'hantu itu', jadi berhentilah bertanya." Kesti melemparkan tatapan dingin.


Meski itu bukanlah jawaban yang ia inginkan, Luo Yan pada akhirnya memendam rasa penasarannya. Tetapi, bersikerasnya tidak berhenti sampai disitu saja. Tak lama kemudian ia mengeluarkan sebuah kertas yang memiliki tanda tangan dengan tercantum nama Kesti disana...


"Kalau begitu bisakah aku menggunakan kertas ini untuk meminta sesuatu?, kurasa sudah waktunya untuk aku menggunakan ini, bukankah begitu Nyonya Rosemary?" ia tersenyum miring.


"..."


Karena kertas tersebut sangat penting, Kesti terpaksa mengikuti kemauan pria itu.


"Baiklah, apa yang kau inginkan?" ia menunduk sedikit tanpa melepas pandangannya dari mata Luo Yan.


"Ini bukan permintaan yang besar. Aku hanya ingin kembali bekerja sama dengan Nyonya Rosemary dan Nyonya Vivienne tentang lukisan yang tidak pernah tuntas itu... "


Kali ini Vivie yang langsung menjawabnya dengan tenang.


"Oke. Itu adalah keinginanmu, tetapi jangan sampai kau lupa untuk bertingkah laku seperti apa yang selalu kau lakukan. Jika kamu berani sekali-kali melupakan siapa yang mengangkat derajatmu saat ini dan membuat Zaidan menyadarinya, hubungan 'pertemanan' ini akan berakhir seketika."


"Apakah Luo Yan merasa keberatan?"


Pria itu langsung menjawabnya tanpa rasa takut.


"Tidak. Nyonya Vivienne."


Merasa cukup puas, Vivie mempersilahkan Lou Yan untuk memakan kue-kue yang ada.

__ADS_1


__ADS_2