Guess The Ghost

Guess The Ghost
Halaman 3


__ADS_3

Fajar mendatang. Matahari dengan sinar terangnya menyapu gelapnya malam yang penuh bintang, dan ayam jantan yang terbangun lalu berkokok begitu lantang menghadap langit-langit... Pada saat itu, cicitan burung ikut menghiasi pagi ini seperti di pagi sebelum-sebelumnya.


Zaidan membuka pintu kamar mandi.


Ia baru saja selesai mandi dan rambutnya kini masih basah. Memerhatikan Vivie yang terlihat sedang memasak, ia tiba-tiba penasaran dengan dimana nyonya hantu berada. Sejak pagi, Zaidan diganggu dengan sosoknya yang berpindah-pindah tempat.


Mulai dari membuka kedua matanya ia sudah dikejutkan dengan rambut panjang yang menutupi wajahnya, dilanjutkan lagi saat Zaidan berada di kamar mandi, wanita itu tanpa sepengetahuan nya ikut masuk dan menatap intens kearahnya... Beruntungnya Zaidan menyadarinya dan belum membuka baju yang ia kenakan.


"Wanita yang tidak tahu malu...!"


Zaidan langsung menuju kamar dan menyiapkan perlengkapan sekolahnya.


***


Sesudah menyiapkan itu semua, ia dengan tak sabar mendatangi dapur untuk bertemu bunda nya.


Disana juga terdapat Kesti yang kelihatan nya menikmati waktu dengan memotong bawang-bawang untuk dimasak Vivie.


"Berhati-hatilah Moma. Bawang itu bisa membuat mata moma perih!"


"Haha... Baiklah, Terima kasih sudah mengkhawatirkan moma"


Zaidan tersenyum hangat mendengar kata manis dari Kesti.


Karena jam sepertinya benar-benar mengejarnya saat ini, ia hanya akan membawa bekal dan meninggalkan waktu sarapan.


"Bunda, sekarang aku akan mengambil gelang nya, apa tak masalah?"


"Ambil saja. Tapi apa Zidan benar tidak akan sarapan?", dia menoleh dan melihat putranya yang merapikan kotak makan kedalam tas.


Seperti hari-hari yang terasa berulang terus-menerus, Zaidan dari jam 5 hingga jam setengah 7 di dapur menemani Kesti jika dia tidak keluar. Namun akhir-akhir ini Zaidan sering melewati sarapan bersama dengan alasan ia tidak ingin ditegur gurunya karena terlambat.


"Benar, bunda masih marah karena masalah itu??"


"Tentu saja. besok jika kamu masih tidak ikut sarapan bersama dengan kita, sekalian saja tidak perlu makan sampai malam!"


Zaidan terkekeh geli.


"Iya bundaaa"


*cup.


Zaidan yang sudah berpamitan dan bahkan mencium tangan orang tua nya(Vivie dan Kesti) langsung saja berjalan cepat menuju kamar yang menyimpan gelang Zaidan yang hilang.


*ceklek..., Sebagai anak laki-laki, ia jarang sekali masuk kedalam ruang tidur bunda nya. Dan banyak figur-figur yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


"Wah..... Walaupun aku pernah masuk beberapa kali, dan bahkan kemarin sore, aku masih terpaku dengan hiasan indah yang bunda punya.."


Pada dinding-dinding kamar, terdapat lukisan-lukisan tentang potret bunda Vivie dan MAWAR HIJAU yang terpajang. Dia sangat menyukai sesuatu yang berwarna hijau, lebih tepat nya Zaidan mengetahui bahwa Vivie terobsesi dengan MAWAR HIJAU sejak umur Zaidan beranjak 4 tahun.


-

__ADS_1


"Aha! Untunglah bunda tidak menyimpan ini di tempat yang sulit ditemukan", ia segera memasang gelang tersebut dipergelangan nya.


Meski bukan tradisi atau aturan, namun, sejak dulu keluarga Zaidan sangat gemar menyimpan lukisan diri sendiri di rumah mereka. Zaidan kecil 'pun memilikinya.


Pelukis yang sering dipekerjakan adalah lelaki bernama Luo Yan, cucu dari keluarga imigrasi. Pelukis itu sangat mahir dalam menggambarkan kepribadian seseorang dan menuangkan nya di kanvas.


Dan entah mengapa, Zaidan kecil telah berulang kali mendapati Lou Yan yang "sering" melukis apapun mengenai bunda nya.


Sampai ia pernah berpikir bahwa lelaki itu sudah jatuh hati karena paras bunda nya yang menawan.


"Aku ingin menyempatkan lebih banyak waktu untuk memandang kamar bunda. Kuharap suatu saat hal itu benar terjadi."


Dengan bibir yang tersenyum, Zaidan mengharap sesuatu di masa depan.


- - - ••• - - -


Hal ini 'pun terjadi lagi.


Kapan terakhir kali ia mengalami ini? ia yakin baru kemarin, dan sekarang hal itu terjadi kembali.


"Mengapa makhluk-makhluk aneh itu ada di halaman rumah ku??? aihh"


Zaidan begitu kesal dan pula takut karena makhluk berwarna hitam yang ada di sekitar pagar rumah nya datang kembali. Dengan jumlah yang lebih banyak.


"Haruskah aku meminta bantuan bunda? bagaimana jika dia tidak bisa melihat mereka?, aku pasti akan diejek penakut olehnya!"


"Tetapi, kurasa amukan guru lebih menyeramkan jika dibandingkan dengan ejekan..."


"... aku seharusnya tidak menatap kearah sana terlalu lama"


karena benar saja, "sesuatu" yang ada disana seakan mulai menyadari kehadiran Zaidan dan menatap balik dengan tatapan tajam.


Tampang mereka jelas hitam pekat dan hanya berupa asap membentuk suatu sosok, tetapi semakin dilihat, sosok-sosok itu terlihat bertambah marah.


*gulp.


Ia berusaha bersikap tenang.


Perlahan ada sebuah tangan yang menyentuh kaca jendela dihadapan Zaidan. Tangan itu putih persis seperti yang ia lihat kemarin, dan karena ketakutan ia bersiap-siap untuk melangkah kebelakang untuk berjaga-jaga jika tangan itu akan masuk.


'eh.. kenapa mereka terlihat takut..?'


Sesaat mengetahui kebenaran nya, Zaidan dengan cepat menoleh kebelakang dan menyebut sebuah nama dengan nada tinggi.


"Nyonya hantu?!!"


"Kau kenapa ada disini?"


Badan yang tinggi yang dimiliki wanita itu dapat dengan mudah melihat dari atas wajah Zaidan yang berhujan keringat dingin.


Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini tinggi tubuh Zaidan tidak jauh lebih tinggi dari bahu nyonya hantu.

__ADS_1


"..."


"apa kau mengganggu mereka? mereka terlihat ingin memakan mu."


Hanya dengan beberapa kata yang dilontarkan wanita itu, Zaidan bisa membatu dengan pandangan tak berdaya di depan nya.


"Aku tidak mengganggu mereka, aku hanya ingin memerhatikan jika mereka akan pergi atau tidak!", suara Zaidan mulai gemetar.


"Apa Zaidan takut kepada mereka?"


Tangan wanita itu perlahan menjauh dari kaca jendela dengan mata yang masih selalu mengarah ke Zaidan.


"Tentu saja takut. Sosok mereka begitu menyeramkan, namun aku tidak berniat jahat, aku hanya ingin pergi kesekolah tanpa gangguan"


Zaidan memegang jantungnya dan bernafas lega setelah mengetahui bahwa tangan tersebut adalah tangan nyonya hantu dan bukan tangan tak-ber-badan yang ia lihat kemarin.


"Aku.. bisa membantu Zaidan jika Zaidan ingin...."


"huh? membantu?", Zaidan bingung.


"Nyonya hantu bisa menolong ku pergi kesekolah?"


Wanita tersebut mengangguk begitu yakin.


Melihat peluang seperti ini ketika ia hampir merasa putus asa sudah membawa keyakinan baru darinya. Dan kini terdapat awalan yang baik karena sebelumnya Kesti pernah berkata bahwa ia dan nyonya hantu akan selalu bertemu.


"Bagaimana cara agar aku bisa melewati sosok-sosok itu?"


.


.


Tanpa basa-basi, nyonya hantu 'pun menuntun Zaidan untuk mengikutinya dan menyuruh pemuda itu untuk membuka pintu keluar.


Meski awalnya ragu, Zaidan kembali berpikir bahwa disampingnya ini sudah terdapat salah satu makhluk astral.. dan telah menjadi resiko dirinya sendiri jika ia memberi kepercayaan kepada 'makhluk' seperti itu untuk mengatasi 'makhluk' lain nya daripada meminta bantuan bunda nya.


Zaidan ternyata lebih bodoh dari ikan yang terus-menerus tertangkap oleh umpan yang sama, benarkan?


'Ada dua kemungkinan didunia ini. pertama mereka bekerja sama untuk memakan ku karena mereka 1 makhluk yang sama, dan yang kedua sosok yang berada dihalaman rumah takut dengan nyonya hantu.'


Spekulasi-spekulasi tak berdasar itu muncul tiba-tiba dalam pikiran Zaidan, membuat ia bergeleng-geleng sendiri dengan keanehan itu.


Setelah membuka pintu, nyonya hantu berjalan keluar diikuti Zaidan dibelakangnya.


Menariknya, ketika mereka berdua sedang berjalan lurus kearah pagar.. para makhluk halus seketika mundur dengan tergesa-gesa dan menghilang begitu saja kecuali nyonya hantu.


'hah.... apa yang terjadi?..."


Zaidan menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat proses menghilangnya sosok-sosok itu.


Dan hingga akhir, sosok-sosok itu tidak dapat menyentuh bahkan menunjukkan rupa mereka ketika Zaidan menatap kearah mereka secara langsung.

__ADS_1


__ADS_2