
Pemulaian Penyelidikan.
----- --------------
"Halo Lou Yan! Dimana kamu sekarang berada?, apakah kau masih disana?"
Suara yang lembut namun terdengar tergesa-gesa itu adalah suara Felix, asisten pribadi Lou Yan yang telah bekerja lebih dari 5 tahun. Meskipun mengenal Felix tidak selama Lou Yan mengenal keluarga Kesti, tetapi dalam permasalahan karir pelukisnya semua diatur oleh Felix. Dan gaji laki-laki 19 tahun itu juga tidak sedikit mengingat dialah satu-satunya yang dipekerjakan dan memiliki hubungan dekat dengan Lou Yan.
"Tidak, Fel. Aku berada di perjalanan pulang, dan sekarang aku ada di pom bensin yang dekat dengan jalan besar" Ia melirik kesebelahnya, "Aku kini diantar dengan mobil putih milik 'kenalan' Nyonya Kesti."
Begitu mendengar kalimat terakhir, Felix langsung menyambar Lou Yan dengan berbagai pertanyaan.
Mengenai Kesti... Felix telah mengetahuinya, namun tidak pernah bertemu dengan wanita itu dihari-hari sebelumnya dan bahkan sampai saat ini ia tidak tahu bagaimana rupa wanita itu yang sesungguhnya.
"Apa?! apa kau kenal siapa yang mengantarmu?, bagaimana bisa kau mengikuti orang yang tidak kau kenal?!"
Lou Yan mendengus.
"Kau itu terlalu khawatir. Aku akan baik-baik saja selama aku masih fokus untuk memerhatikan gerak-geriknya. Dari pada memikirkan diriku, sebenarnya apa yang membuatmu menelpon?"
...
"Begini.."
"Hari ini, lukisan Pulau-Sekolah itu sudah resmi masuk kedalam kasus. Apa kau masih ingat dengan pria yang bernama Helman itu?"
Lou Yan berdehem sedikit panjang.
"Hmmmmm, pemenang hasil pelelangan itu? yang sampai sekarang tidak pernah kita lihat?..."
"IYA!, BENAR ITU ADALAH ORANGNYA! dia adalah tersangka utama dalam kasus ini karena korbannya itu adalah anaknya sendiri. Meski belum diinvestigasi lebih jauh tetapi lukisan milikmu itu tidak benar-benar dijadikan barang bukti, melainkan hanya dijadikan pembawaan sederhana dikarenakan itu termasuk barang-barang disana"
"Jadi sebelum kasus ini selesai, kita lebih baik tidak muncul ke acara pertemuan atau acara apapun yang saat ini banyak berlangsung."
"Saat ini aku berasa di kantor polisi, kau kemarilah sebentar dengan berhati-hati, karena aku yakin kau akan sangat membantu disini."
"Disini situasinya sungguh menegangkan... Jadi sebab itu aku merasa tidak tahan lagi."
...
"Lou Yan..?"
***
Suara Felix terdengar sangat jelas di telinga Lou Yan. Tetapi ia tidak memerhatikannya dan malah menatap kaca mobil yang bisa memperlihatkan kursi belakang.
Sedari tadi, ia terus-menerus mendengar gemersak-gemersak yang membuat ia merasa terganggu dan tidak fokus.
"... Hei.... apa kau mengalami kondisi gawat?"
Ponsel tetap menyala, namun tetap tidak ada jawaban yang dikeluarkan Lou Yan. Dalam sisi Felix ia hanya mendengar deru nafas yang dikeluarkan Lou Yan yang sangat keras, dan deru nafas itu terdengar seperti tidak beraturan.
*Srek-srek...
Suara itu 'pun kembali bermunculan dan hanya Lou Yan lah yang bisa mendengarnya.
Karena beberapa alasan, ia tidak mematikan sambungan telepon tersebut dan terus membiarkan Felix mendengar kegelisahan nya. Meski diluar suasana sangat ramai dan sangat cerah,lalu banyak pula suara kendaraan yang melintas, namun tidak begitu dengan suasana didalam mobil itu yang sangat sejuk dan teramat mencekam. Seakan sekarang ada dua dunia yang berbeda.. benar-benar sangat berbeda.
Rasa-rasanya ada yang tidak beres dibelakang. Dan karena ia sudah berada pada puncak kekesalannya atas semua gangguan itu, ia memutuskan memutar kepalanya dan melihat ke kursi belakang.
... Ia terdiam membisu.
Kedua tangannya bergemetaran, dan matanya terlihat sayup.
__ADS_1
Tidak ada satupun orang atau setidaknya sesuatu yang bisa bergerak disana... ini normal, seperti apa yang terlihat di kaca mobil. Namun, suara yang sekarang terdengar seperti mencakar-cakar itu terdengar tepat dihadapan Lou Yan.
Ketika ia sudah merasa lega karena tidak ada 'hal' yang mengejutkan dirinya, disaat yang bersamaan ia juga merasa merinding.
".. Fel, aku matikan dulu teleponnya. Tetapi jangan melepaskan ponselmu sedetikpun" Lou Yan kembali menghadap depan.
"Huh? Baiklah, berhati-hatilah...."
Setelah panggilan suara itu terputus. Lou Yan kesekian kalinya melirik ke kaca mobil untuk memastikan bahwa dibelakang benar tidak ada apapun. Namun sayangnya kali ini apa yang ia pikirkan benar-benar ada.
Bola mata lelaki itu melebar saat melihat sosok hitam yang tinggi berada dibelakangnya dengan tangan ramping yang ingin meraih pundaknya.
Mata sosok itu memancarkan warna merah terang, tidak ada bibir, hidung, ataupun telinga, menjadikan kepala makhluk aneh itu hanya bulatan yang memiliki rambut pendek saja. Itu adalah situasi yang aneh, dan lalu dalam keadaan seperti itu tanpa sebab sekujur tubuhnya Lou Yan terasa kaku.
Tetapi meski kegelapan berada tepat persis dibelakangnya, hal itu tidak membuat ia menjadi lengah.
"hei, apa kamu pikir kamu bisa mendekati ku dengan tangan menjijikkan itu?"
"Kamu tahu persis bahwa aku bisa merasakan kehadiran tanpa perlu melihat sosokmu, bukan? Tidak ada baiknya anak kecil mengerjai orang dewasa. Itu sungguh sifat yang kekanakan."
Sudah merasa cukup menghina sosok tersebut, Lou Yan menyipitkan matanya disaat sosok itu mematung.
...
*Hik... Hik....
Tiba-tiba hantu itu mengeluarkan suara isak-isakan kecil dan meringkuk menyembunyikan wajahnya.
Tangisan palsu itu cukup mengejutkan Lou Yan.
Namun saat muak dengan semua ini, Lou Yan menghembuskan nafas kasar dan segera keluar dari mobil tersebut untuk segera pulang.
Diluar mobil, dua laki-laki itu saling berpandang. Lou Yan memasukkan kedua telapak tangannya kedalam saku jasnya sambil memberikan senyuman ramah dihadapan bapak itu. Tentu saja melihat Lou Yan yang keluar bapak itu langsung terlihat kebingungan.
Dan disaat itu juga Lou Yan memberikan ucapan terima kasih yang mendalam beserta izin untuk pulang sendiri menggunakan mobil temannya. Meski tampangnya sudah mulai dicurigai oleh petugas disana, Lou Yan tak begitu ambil pusing.
Terdengar dari suaranya, bapak itu merasa enggan, tetapi tetap saja dia mempersilahkan Lou Yan dengan senang hati karena alasan dari Lou Yan yang tak terbantahkan.
Dan Lou Yan 'pun menerimanya dengan senang hati juga dikarenakan itulah tujuannya.
*Drap! Drap! Drap! ...
Lelaki itu melangkah cepat kepinggir jalan untuk menunggu mobil umum untuk lewat dengan ponsel yang masih ia pegang.
Memang benar ia memiliki banyak cara untuk melabuhi seseorang didalam pikirannya, dan ini adalah salah-satu caranya yang sudah ia tunjukkan. Secara khusus ia mengatakan bahwa temannya akan menjemputnya, padahal faktanya ia akan menaiki kendaraan umum. Dengan ponsel yang setiap beberapa detik ia cek, dan juga berdiri tegap dipinggir jalan... Sudah sangat jelas ia tidak ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi didalam mobil tadi, dan ia tidak ingin pula bersangkutan dengan orang-orang yang memulainya.
Namun setelah beberapa waktu, Lou Yan yang merasa bahwa kecemasannya telah berakhir dengan keberhentian suatu mobil dihadapannya, dibuat termangu kembali oleh mobil bapak tadi yang entah bagaimana caranya berada diseberang jalan dari dimana saat ini Lou Yan berdiri. Itu membuat ia kebingungan.
..
"Mas, tumpangan?"
Supir dari mobil-umum itu berinisiatif untuk bertanya karena melihat Lou Yan yang melamun.
"Oh, iya."
Setelah tersadar, ia segera naik lalu menarik nafas panjang-panjang dan menghembuskannya dengan senyaman mungkin, berusaha untuk melupakan kejadian tadi. Tetapi seakan mimpi buruk, kejadian tadi benar-benar tidak bisa lepas dari pikirannya. Hingga kepalanya terasa sangat pening.
...
"hemm"
"Mas tujuannya kemana, ya?"
Lou Yan mengusap wajahnya.
"Saya ingin menuju ke kantor polisi di pusat kota. Tanpa berpindah ke mobil lainnya." ia menegaskan kalimat-kalimat yang ia ucapkan diakhir perkataannya.
__ADS_1
"Umnn... Tetapi Mas perlu melanjutkan perjalanan di mobil yang tujuannya kesana karena mobil ini hanya aktif disekitaran sini. Nanti saya akan oper saat sampai di pem... "
Kata-kata supir itu terhenti ketika melihat tatapan Lou Yan yang melampaui kata 'senyum ramah terhadap orang asing' mengarahkan kepadanya. Yah, dilihat dari sisi manapun itu sangat mengintimidasi bagi siapapun yang melihatnya, lalu tak berselang lama Lou Yan juga menyenderkan punggungnya pada kursi mobil, membuat supir itu kembali merasa tidak enak hati.
"Saya merasa lelah untuk berpindah-pindah mobil. Saya berharap ini hanya sekali perjalanan, apakah alasan itu sudah cukup?, saya pasti akan membayar anda 5 kali lipat atas kerja keras anda"
Dengan tawaran menggiurkan untuk kalangan bawah seperti supir itu, siapa yang tidak akan menerimanya?, hidup ternyata serendah itu dihadapan orang dari kalangan terhormat. Setidaknya itulah yang saat ini terlihat.
"Huf... Hidup sebagai orang yang tidak kekurangan sangat enak, ya" dia menarik mencepatkan kecepatan mobil dan melaju melewati perbatasan wilayah. "Mengapa Mas tidak memakai mobil pribadi saja?, jika seperti ini saya 'pun akan terbebani hingga besok"
"..."
"Hmm, saya tidak memiliki kerabat disini. Dari pada menyalahkan saya atas perasaan terbebanimu, bukankah seharusnya kau merasa senang?"
Supir itu langsung menjawab dengan cepat.
"Dari hal yang melanggar aturan?, Mas begitu lucu, ya"
Tak hanya lucu, Lou Yan juga menjadi penumpang pertama yang memakai jas saat menaiki kendaraan umum.
Dan karena itu pula supir tersebut tidak berani membuka mulutnya lagi. Takut jika kesempatan emasnya kabur begitu saja.
-- 2 jam 'pun berlalu...
Kasus yang bersangkutan adalah kasus seorang anak yang mati dengan mengenaskan. Patah tulang diidentifikasikan sangat banyak sehingga itu dicap sebagai kematian yang kejam bagi anak yang bahkan masih dalam tahap menjadi dewasa.
Nama dari anak itu adalah Lala. Identitasnya adalah sebagai murid Sekolah-Dasar yang berumur 12 tahun. hidupnya hanya diurus oleh sang ayah, Helman Teru. Ibunya telah tiada beberapa tahun yang lalu, karena pemakamannya dilakukan tertutup maka penyelidikan semakin diperluas.
Lalu jasad ditemukan oleh bapak dari anak itu sendiri, Helman.
Menurut keterangannya yang pernah ia sampaikan, tubuh yang sudah tidak bernyawa itu tergeletak didepan tangga. Perkiraan kejadiannya pada saat itu ialah, korban yang saat itu sakit demam tidak dapat memerhatikan pijakan tangga dan malah berakhir tersungkur kebawah secara bertahap. Dan terjadilah beberapa patah tulang pada tubuh sang korban.
Kasus lalu ditutup karena bapak dari korban ingin pemakaman yang tenang, dan itu berarti tidak akan ada autopsi lebih lanjut.
..
Kasus baru berlanjut.
Beberapa hari setelah pemakaman anak itu dilaksanakan, sebuah kasus yang baru masuk kedalam laporan. Jasad anak bernama Fiana ini kebetulan sekali memiliki umur yang setara dengan anak yang bernama Lala, dan juga tinggal di satu komplek yang sama.
Jasad anak itu ditemukan disebuah kardus yang diletakkan dipinggiran jalan.
Seseorang pemuda yang menemukannya memberikan kesaksiannya yang tidak sengaja menemukan kardus tersebut. Kondisi jasad itu hanya memiliki 1 bekas luka yang melingkar dilehernya. Asumsinya adalah, anak itu kehabisan nafas saat tercekik oleh sebuah tali hingga meninggalkan bekas dan tewas.
...
"Bagaimana menurut anda?, apakah anda merasa bahwa 2 kasus ini terdengar cukup janggal?"
Dalam sebuah ruangan terdapat 3 orang, mereka bertiga berdiri dan menatap kertas yang terletak diatas meja. Raut wajah mereka begitu serius, terlebih lagi Lou Yan yang baru saja diberikan pertanyaan oleh petugas kepolisian disana.
"Menurut saya, 2 kasus ini bisa jadi terhubung"
Petugas kepolisian langsung mengiyakan jawaban Lou Yan.
"Iya, saya juga berpikir begitu"
"Dan karena laporan yang kedua ini, kasus kematian yang pertama kami buka kembali penyelidikannya. Dan karena kasus keluarga seperti ini sangat sensitif... Maka hal sekecil apapun harus diperiksa secara hati-hati..." seketika wajahnya berubah lesu.
.
.
"Kelihatannya memang sulit, ya" Lou Yan merasa kasihan dengan pria itu yang hidupnya akan selalu bersangkutan dengan orang kalangan atas.
"Tentu saja."
...
__ADS_1