
Hujan turun malam tadi.
Begitu lebat hingga bertahan sampai pagi ini.
Menuju jam 5 pagi, hujan mereda dan menjadi gerimis yang sedang. Namun ketika hawa-hawa sudah dingin seperti ini, kebanyakan orang akan menjadi malas untuk beraktivitas dan memilih untuk bersembunyi dibalik kehangatan selimut.
Tetapi sebagai warga yang tinggal jauh dari perkotaan, banyak sekali masalah yang harus dihadapi ketika hujan melanda. Salah satunya banjir dan atap bocor.
Perumahan Merak Merah adalah daerah yang masih terambang oleh masa dahulu dan kemajuan saat ini. Biasanya, pada musim hujan akan dilakukan pemberitahuan keliburan sekolah, entah itu 1-2 hari atau bahkan paling lama 1 minggu-an yang diumumkan oleh pak RT atau orang-orang pesuruhnya.
Tetapi karena hujan reda lebih cepat, mungkin tidak akan ada pemberitahuan seperti itu pada hari ini.
***
*Tes... Tes..., Suara tetesan air bermunculan. Zaidan samar-samar membuka pejaman matanya dan melamun. Ia jadi teringat, sebenarnya malam tadi ia sibuk ke sana-ke mari untuk menadahi air hujan yang bocor menembus atap kamarnya. Ketika sudah teringat dengan itu, ia cepat-cepat bangkit untuk bersiap-siap memindahkan ember. Itulah hal pertama yang ada dibenaknya setelah bangun tidur.
Ia melihat keadaan kamarnya yang berantakan dan lantainya yang basah. Sontak Zaidan menghela nafasnya.
Beberapa saat kemudian ia menyadari keberadaan 'sesuatu' yang bersender di tepi kasurnya, sosok itu terlihat duduk dan meletakkan kepalanya pada ujung kasur dengan posisi miring.
Tanpa diduga, kepala itu mendongak dan melirik kearah Zaidan seakan tahu bahwa ia sudah bangun.
"Zaidan!"
Dia berdiri dengan kewalahan dan menatap Zaidan dengan tatapan aneh. Dilihat dari raut wajahnya dan gerak tubuhnya yang kaku, kemungkinan ada yang dia ingin sampaikan.
Tetapi sebelum itu, ada sesuatu yang harus diurus terlebih dahulu, yaitu memindahkan ember yang terisi penuh dan membersihkan tumpahan air dilantai.
Zaidan langsung saja menyingkir dari kasurnya dan menginjak lantai yang tadi diduduki Nina. Dengan ragu Zaidan menyapanya."Selamat pagi... Kenapa Nina duduk di lantai dan tidak beristirahat?" Zaidan memicingkan kedua matanya.
"Selamat.. pagi... Aku tidak melakukannya apa yang Zaidan katakan. Aku 'pun tidak tahu caranya" jawab Nina begitu lugu.
Dikarenakan setengah dari nyawanya belum terkumpul semua, tak banyak kata-kata yang bisa ia ucapkan untuk membalas jawaban Nina yang di luar akal manusia itu. "Hem.. begitu ya," Zaidan menggaruk kepalanya.
__ADS_1
'Aku ingat dia membuntutiku saat meletakkan ember-ember di sini tadi malam, dan setelah kuperhatikan, Nina selalu menunjukkan ekspresi yang biasa-biasa saja seperti tidak kelelahan. Jadi apakah hantu tidak pernah tidur ataupun beristirahat?" tanpa disadari ia melupakan kenyataan bahwa hantu bukanlah makhluk hidup yang perlu makan dan minum dan sama halnya dengan istirahat supaya tidak mati...
Namun itu tidak menjadi masalah karena beberapa detik berikutnya ia melupakan perbincangan itu secara instan dan beralih memunguti barang-barangnya yang semalam tidak sempat ia pindahkan.
Zaidan bergumam tentang sesuatu,
"Ternyata hujannya tidak lama seperti bulan lalu, kupikir ini akan berlangsung lama dan membuatku terkurung dirumah sepanjang hari" ia keheranan sekaligus merasa senang.
Sebenarnya ada waktu dimana ia ingin hari selalu mendung dan terkadang menginginkan hari yang selalu cerah secerah-cerahnya, dan Itu tergantung bagaimana suasana hati Zaidan pada hari itu. Tetapi hari yang mendung tak akan selamanya menyenangkan, karena jika hujan lebat pelajaran bisa-bisa dikirimkan ke rumah masing-masing murid melalui penjaga keamanan setempat(satpam), ketua kelas, atau bisa jadi wali kelas itu sendiri untuk dipelajari murid dirumah selama tidak sekolah. Itulah peraturan sekolah di daerah sana.
Jika boleh jujur, belajar dirumah sangat memusingkan bagi Zaidan.
Dan lagi, Zaidan sedikit merasa nyaman berada di sekolahnya meski tidak memiliki teman satupun, itu sebabnya ia tidak keberatan jika tidak hujan sekalipun. Tetapi tidak dengan bundanya yang selalu mengatakan bahwa rasa 'nyaman' yang selalu dirasakan Zaidan tersebut salah. Dan Vivie berani berkata juga tentang hujan yang akan lebih baik untuk Zaidan, ia bisa mengajarkan Zaidan dirumah dengan baik.
Jika dipikirkan lagi, kata-kata bundanya dilampau hari itu mungkin benar. Zaidan juga tidak akan menyalahkan bundanya, karena pastinya dia mengerti apa yang terbaik bagi Zaidan melebihi siapapun didunia ini.
......*Grep.........
"Zaidan, bunda Zaidan memanggil" dia memberitahukan Zaidan.
"Eh?"
"O-oh ya! Zaidan segera kesana!" sahut Zaidan, menjawab panggilan Vivie yang tadi tidak kedengaran jelas.
Cepat-cepat Zaidan meletakkan barang yang diambil tadi ke atas meja dan berlari keluar dari kamar untuk menuju tempat dimana bundanya berada.
Mengejutkannya, Vivie tidak ada di dapur ataupun kamarnya yang menjadi markas menetap wanita itu disetiap pagi hari sebelum Zaidan pergi sekolah. Setelah menelusuri seisi rumah dan berbolak-balik untuk memastikan bahwa ia tidak salah, Zaidan tidak sengaja melihat dua siluet wanita di salah satu kamar yang asing. Dan kamar asing itu adalah kamar Kesti yang berada dekat dengan dapur. "Bunda..?" panggil Zaidan dari luar kamar.
"Zidan? itu kamu?"
"Ahh, baguslah kamu sudah bangun. Semalaman Moma tidak bisa tidur karena atap bocor ini, apa kamu bisa pindahkan ember yang disini ke luar?" perintah Vivie.
Dengan senang hati Zaidan langsung melaksanakannya.
__ADS_1
Memindahkan ember-ember itu memang mudah, tetapi usaha agar tidak membuat isi ember itu tidak tumpah adalah masalahnya utamanya. Berselang beberapa menit kemudian Zaidan akhirnya bisa meregangkan kedua tangannya setelah memindahkan semua ember termasuk ember yang ada dikamarnya.
'Ini telah terjadi berkali-kali, tetapi rasa pegalnya selalu saja membuat jantungku lemah.' keringat membasahi seluruh dahinya.
Setidaknya ini sudah menjadi yang ke-3 kalinya Zaidan melakukan kegiatan ini, mungkin Momanya akan mengatasinya dimasa mendatang, jadi selama itu Zaidan hanya perlu mengiyakan setiap perintah dengan patuh.
"Bunda, Zaidan mau mandi, apa kamar mandinya mau bunda gunakan?," ucapnya memastikan.
"Tidak. Cepatlah mandi," jawab Vivie dari kejauhan.
Tanpa pikir panjang Zaidan langsung berjalan mengambil seragam yang ada di jemuran belakang rumah dan kembali masuk untuk segera mandi. Sebelum membuka bajunya, Zaidan masih sempat memerhatikan sekitarnya karena takut jikalau Nina ikut masuk dan ada disana seperti hari kemarin. Ia sangat malu ketika mengingat kejadian itu.
-- -- --
"Mah, aku pergi ke sekolah dulu ya"
Sesudah mengenakan sepatunya dengan benar, dia langsung berdiri tegak menatap mamanya begitu dalam. Tak ada satu kata 'pun yang keluar dari bibir mamanya itu, sesaat ia mempertanyakan dimanakah suara tersebut disembunyikan. Pandangan anak laki-laki itu menuju tangan wanita dihadapannya yang telah melahirkan dan merawat dirinya selama ini.
Tangan itu bergetar seakan menahan rasa sakit yang terlihat memerah dikulitnya. Anak itu meraihnya dengan lembut.
"Memang benar jika aku adalah anak dari lelaki itu, dan mungkin sifatnya telah menurun kepadaku. Tetapi jika kulit mama selalu seperti ini, aku tidak akan segan-segan memukulnya," ucap anak itu dengan begitu ketus.
"Kau salah paham, Eja. Tangan mama ini hanya terkena air panas karena tidak berhati-hati, kau tidak perlu khawatir" dia berusaha menjelaskannya agar anak itu tidak salah paham dengan apa yang terjadi. Namun meski begitu, anak itu tetap tidak memberikan tatapan yang tenang, secara tidak langsung semua perkataan yang sudah diucapkan wanita itu dianggap kebohongan yang membosankan.
*Tok. Tok. Tok!
Kedua orang itu bersamaan menoleh ke arah pintu. Ketukan pintu yang tadi didengar kemudian disusul suara pria yang familier, membuat keduanya menduga bahwa itu adalah 'warga', bukan tamu.
"Kamu mau ke sekolah kan??, hati-hati saat pergi ke sekolahnya, i-itu... jalanan masih sangat licin diluar.." wanita tersebut tiba-tiba bersikap aneh, dia seakan merasa panik dan karena tidak dapat mengontrol kepanikan nya, suaranya menjadi tidak beraturan. Anak laki-laki tadi berniat untuk berpamitan dan menyalami tangan mamanya karena mulai merasa jengah dengan suara terus-menerus pria diluar pintu. Sedetik punggung telapak itu menyentuh dahinya, tiba-tiba seluruh lampu padam dan membuat keduanya kebingungan.
"Apa yang terjadi?"
Seisi rumah yang luas itu menjadi gelap.
__ADS_1