
Halaman 6, Kembalinya Teman Lama.
------ ------ -----
*tak. tak. tak.
Suara memotong diantara pisau dan talenan menghiasi kesunyian di ruang makan.
Kesti yang duduk di kursi meja-makan tak melepas pandangan nya dari Vivie sedikitpun.
Kesti 'pun berkata dengan nada datar yang seakan sudah muak "hentikan lah, Vivie."
Tak ingin membuat ibunya marah besar, Vivie mengakhiri pemotongan bawang dan membuang bawang-bawang tersebut ke tempat sampah.
"Baiklah, aku tidak akan melakukan nya kembali"
"Tetapi aku akan melakukan nya jika suatu saat dibutuhkan. bolehkah begitu?"
Vivie tersenyum hangat kepada Kesti.
Kesti pastinya tidak dapat berucap-ucap lagi. Meskipun benar Vivie berhenti, tetapi membuang bahan makanan seperti bawang juga bukanlah tindakan baik. "Huhh..."
Ekspresinya dipenuhi oleh tekanan yang terlihat sangat jelas. Demi menenggelamkan perasaan berkalutnya, ia meminum teh wanggy yang disiapkan anak nya, Vivie.
"Dengar-dengar Lou Yan akan datang kembali ke Indonesia setelah 3 tahun lama nya, ya?"
Vivie yang tahu kemana arah pembicaraan Kesti 'pun menjawab dengan wajah sedikit malas.
"Mengapa kau harus bertanya kepadaku? Bukankah itu hal yang wajar ketika dia kembali ketempat dimana namanya terkenal?"
"Sayang, kurasa kau terlalu lama mengurung diri dirumah." dia melemparkan tatapan kekhawatiran sejenak, sebelum ia kembali berkata-kata.
"Ingatkah ketika pria itu berkata jika bukan hanya keluarga kita yang dia layani di sekitar perumahan ini? Kemarin aku melihat beberapa lukisan yang terlihat seperti hasil karyanya di sebuah angkutan mobil. Kurasa itu akan digadaikan berdasarkan lukisan-lukisan itu yang sudah kusam."
Awalnya Vivie tidak percaya dan tetap mencuci piring-piring kotor sehabis sarapan tadi, dan berkata kepada Kesti bahwa mungkin saja itu hanya kebetulan, ..tetapi setelah dipikir berulang kali, Vivie mulai terbesit kalau mungkin yang dikatakan ibunya itu benar.
"Lalu apa urusan nya dengan kita? Dan juga pergi berpindah-pindah negara membutuhkan beberapa waktu yang lama. Kurasa dia bukanlah seseorang yang suka membuang-buang waktunya.. " ia berusaha untuk membiarkan nya.
"Yasudahlah jika kamu tidak percaya, tetapi, aku hari ini membawa surat yang belum kuberikan kepadamu kemarin"
Kesti dengan senyum yang lebar dan mata yang menyipit, menunjukkan secarik surat yang langsung dikenali oleh Vivie.
Sejujurnya, dalam kertas itu bertuliskan, "Lama tak berjumpa, kuas ku mengering karena tidak dapat mewarnai kanvas dengan warna indah mu. Namun itu tidak akan bertahan lama. Aku akan segera datang."
---------
Mobil hitam berhenti. Seorang pria yang mengenakan jas hitam dan menyincing tas kerja berbentuk kotak turun dari mobil itu, kemudian memberikan sejumlah uang kepada sang pengemudi.
Setelah mobil melaju pergi, pria itu berjalan dan membuka pagar didepan nya.
"Kenapa tempat ini lebih gelap dari sebelumnya?"
Memasuki halaman, pria itu mengedarkan pandangan nya meski jelas disana tidak ada apapun selain beberapa tanaman yang Sengaja ditanam.
Tiba-tiba perasaan 'terancam' dirasakan nya.
Dalam pandangan pria itu, terdapat kabut abu-abu yang tidak masuk akal mengitari tempat yang dipijaknya. Lebih tidak masuk akal lagi ketika suasana saat itu masih pagi dan cerah, dan mustahil pula ada manusia waras yang membakar sampah saat ini. pastinya ada yang tidak biasa.
Memerhatikan sebuah daun di depan matanya yang terjatuh dengan kecepatan lambat beralih menjadi seakan terbang, dengan gerakan cepat dia langsung menengok kebelakang sebagai aksi menghindar kemudian menarik sesuatu yang tadi hampir menyerangnya.
"Kuntilanak....?"
__ADS_1
***
Pagi ini Nina tidak terlihat dimanapun.
Zaidan sampai saat ini masih kebingungan tentang dimana letak kesalahan nya yang sehingga membuat Nina atau nyonya hantu hilang.
"Apa mungkin misinya telah selesai? Tetapi kenapa secepat ini?"
"Aku bahkan tidak tahu apa yang sudah kulakukan..."
Berjalan ke ruang tamu, tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu utama. Zaidan yang akan kesana juga langsung segera membuka pintu tersebut tanpa curiga.
Sesaat membukanya, begitu terkejutnya ia ketika melihat pria tinggi berwajah putih seputih cat dinding berdiri tegap dihadapan kedua matanya.
"..."
"Ada apa dengan hari ini, sih?"
Ia segera menarik pintu dan akan menutupnya kembali. Tetapi sayangnya ia telah didahului oleh kaki pria itu yang membuat pintu seketika tidak bergerak.
"Tunggu.. Biarkan saya berbicara sedikit..."
Seperti wajahnya yang berbeda dan tidak lokal, pria itu adalah Luo Yan. Dia adalah pelukis yang dulu pernah melayani keluarga Zaidan, namun itu sudah berlalu 3 tahun. Dan itulah mengapa Zaidan kaget saat melihat wujud Luo Yan di hadapan nya yang seharusnya Zaidan sudah lupakan.
Ia membenci pria itu. Bukan hanya karena dia memiliki hubungan pertemanan dengan bundanya, namun ia juga tidak menyukai wajah, sikap, dan pakaian pria itu yang mengesalkan.
"Hissh, disini tidak menerima tamu tanpa diundang! Tolong angkat kaki anda." Zaidan mulai terbakar api kemarahan.
"Baik, baik... Tetapi tidak bisakah kita membicarakan 'ini' terlebih dahulu, Zaidan?"
Dia menarik sebuah tangan digenggaman nya dan menunjukkan sesuatu yang sedari tadi berada dibelakangnya, yang menyatu dengan bayangan.
Dengan keadaan menunduk, sesuatu itu mencengkram pakaian nya yang terlihat seperti bentuk dari rasa takut.
Zaidan menatap Nina dan Luo Yan bergantian. Ia bingung dengan Nina yang kemarin hilang dan sekarang ada bersama Luo Yan. Padahal seharusnya mereka belum pernah saling bertemu sebelumnya.
"Hey, lepaskan wanita itu"
Dalam sekejap raut wajah Luo Yan berganti menjadi senyum puas. "Baiklah, tetapi biarkan saya masuk ya?"
Dengan berat hati, Zaidan mengiyakan permintaan tersebut dengan syarat bahwa Luo Yan harus melepaskan tangan Nina.
Melihat pria itu melepaskan kaitan tangan nya dari Nina, ia hanya bisa mematung dengan banyak pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut dipikiran nya.
"Hemm. Apa kamu baru mau berangkat kesekolah? Jika kamu tetap disini, kamu bisa saja terlambat" Luo Yan kini mulai besar mulut.
"... Aku rasa begitu"
"Tetapi sesungguhnya itu bukanlah urusanmu."
Meskipun menjadi satu-satunya yang terpendek, itu tidak membuat nyalinya menciut dihadapan Luo Yan. Dan saat melirik kearah Nina, ia segera mengajak wanita itu bersamanya, dan wanita itu 'pun mengikutinya pergi. Zaidan merasa cukup senang dengan kemenangan nya saat ini.
Namun berpindah dari itu, Luo Yan yang melihat kepergian Zaidan dan sosok aneh tersebut hanya bisa menunjukkan tatapan tajam dan mencekam. Tidak tahu apa yang saat ini ia pikirkan, namun, Zaidan 'pun tidak perlu mengetahuinya juga.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9, yang berarti saat ini semua murid beristirahat dari jam pelajaran, dan menghirup udara segar setelah berfokus pada materi tadi.
__ADS_1
Kembali lagi dengan Zaidan,
Sekarang dia telah memutuskan untuk menentukan tempat yang aman agar dirinya dan nyonya hantu bisa bertemu tanpa takut terlihat oleh murid lain nya. Yaitu dibelakang gedung perpustakaan yang biasanya menjadi tempat penyimpanan.
Ia tahu betul jika ada beberapa orang yang memiliki kelebihan yang dapat melihat hantu disekolah itu, untuk itu, ia harus bekerja keras agar tidak ada seseorangpun yang melihatnya ketika mengantarkan nyonya hantu, tidak-tidak, maksudnya adalah Nina.
"Nina!!"
Zaidan sesudah dari kantin untuk membeli makanan ringan langsung kembali ke tempat dimana tadi ia meninggalkan Nina.
Wanita itu seketika merasakan kedatangan nya dan menolehkan kepalanya.
\*fuhh..
Dikegelapan tempat itu hanya terlihat baju putih yang dikenakan Nina yang terlihat melayang samar-samar dan tidak sampai menyentuh tanah. Karena melihat penampakan itu, Zaidan bersusah-payah membasahi tenggorokan nya yang kering.
"Kau..sudah menunggu sangat lama ya...?"
"Zaidan. Maaf.."
"Huh?"
Kebingungan.
Zaidan yang tak mengerti apa yang berusaha wanita itu sampaikan dengan kata "Maaf", hanya melepas nafas kecewa.
\*tap, tap, tap, tap.
Zaidan melewati wanita itu kemudian duduk di atas peralatan olahraga sembari mengangkat tusuk sosis yang tadi ia beli.
"Kenapa Nina tidak dirumah kemarin? dan, bagaimana bisa Nina bersama dengan pria tadi?" "Apakah karena aku tidak ada kemajuan oleh sebab itu Nina ingin mencari orang lain yang bisa cepat membantu Nina?" pipi Zaidan memerah. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi jika kenyataan nya memang seperti apa yang ia pikirkan.
Dalam sisi lain, ia tidak ingin pula mengecewakan Nina dan moma nya yang pasti menaruh harapan terhadap dirinya.
"Nina tidak pergi, kok. Apa itu yang Zaidan pikirkan sepanjang malam..?" suaranya yang indah dan rendah membuat pertahanan Zaidan runtuh. Jika saja dia adalah manusia, pasti rupanya saat ini akan dikagumi banyak orang. Bahkan jika memang bisa, hantu laki-laki 'pun akan terpikat oleh sosoknya yang benar-benar mengagumkan.
"Moma pernah bilang bahwa Nina itu ditemukan di sekitar pohon besar, lalu apakah pohon besar disini mengingatkan mu dengan pohon yang sebelumnya kamu pernah lihat?"
Nina hanya berdiam.
__ADS_1
Apakah memang sesulit ini untuk mengatur makhluk halus?
Melihat reaksi Nina... pasti ini tidak akan lebih mudah bagi nya yang hanya siswa biasa tanpa kelebihan. Jadi haruskah ia mengundurkan diri dan menjauh dari persoalan hantu-hantu yang selama ini sudah ia kumpulkan?. tetapi, dalam lubuk hati kecilnya ia tahu, bahwa menyerah bukanlah kemauan, namun sebuah pilihan yang ada ketika pilihan lainnya mendorong nya mundur...