Guess The Ghost

Guess The Ghost
Halaman 22


__ADS_3

Berkeliling membutuhkan banyak energi, Zaidan dan Eja yang sudah mengelilingi bangunan sekolah sebanyak 3 kali mulai kehabisan tenaga. Putus asa adalah hasil terburuknya. Karena letih, kedua pemuda itu beristirahat di ruangan kelas mereka.


Tapi, di ruangan itu Zaidan tidak bisa berbicara leluasa dengan Nina, oleh karena itu ia memutuskan untuk menghirup udara luar dan membiarkan Eja sendirian di dalam kelas tersebut.


"Mengerikan. Lihatlah, langitnya tidak berubah sama sekali" ia memegang tembok pembatas yang memiliki tinggi se-bawah dadanya.


Sendirian di sebuah bangunan dan menyadari bahwa seakan waktu tidak berjalan dan kegelapan mengelilingi tempat itu... Adalah suatu mimpi buruk. Tapi untunglah ada seseorang yang terjebak juga bersama dengan dirinya, sehingga rasa takutnya tidak besar. Tak lama kemudian, Zaidan yang kelelahan meletakkan kepalanya di atas tangannya. Membenam wajahnya dalam-dalam.


'Sudah beberapa kali Eja, Nina dan aku memutari tempat ini, namun tidak ada yang didapat. Apakah kami perlu bertemu makhluk yang membawa kami ke mari dan mencari alasannya?' Dua detik berikutnya, Zaidan mempertanyakan apa yang baru saja ia pikirkan.


Zaidan mengangkat kepalanya dan menoleh dengan pancaran mata yang tajam, "Apakah Nina tahu sosok apa yang membuat Kita berada di sini?"


"Tahu," balas Nina singkat.


"Bagaimana 'pun, ini adalah dunia 'Mereka'"


Setelah mendengar kata 'Dunia mereka', Zaidan seketika merinding.


"Jadi... Ada banyak makhluk di sini?..."


Nina mengangguk enteng.


Beberapa saat kemudian, Nina memberitahukan hal yang ia lihat selama mengikuti Zaidan dan Eja tadi. Tampaknya perubahan tempat telah terjadi saat pintu UKS ditutup oleh Eja. Nina melihat banyak makhluk berbeda-beda rupa saat berkeliling dan mereka seperti ingin mengganggu Zaidan dan Eja karena telah memasuki dunia mereka. Tapi Nina yakin jika bukan makhluk-makhluk itulah yang membawa Zaidan dan Eja ke dunia itu, dan sepertinya keberadaan Nina yang membuat mereka tidak melakukan hal-hal aneh selain memakan energi.


Ya walau sekarang tidak berbahaya tetapi jika dibiarkan terlalu lama akan membuat dua manusia itu lemah dan akan terjebak di dunia itu tanpa waktu yang pasti. Bukannya itu juga sangat buruk?


Hal terpasti yang sekarang dapat dilakukan Zaidan dengan cepat tentunya adalah bertanya kepada Eja. Nina juga menyetujui itu. Namun ada hal yang ingin Nina sampaikan sebelum masuk kembali ke kelas...


"Apa Zaidan tidak ingat gadis kecil yang pernah bertatapan dengan Zaidan di hari itu? Dia menampakkan dirinya dengan sengaja, besar kemungkinannya jika ini adalah ulahnya."

__ADS_1


Zaidan langsung memutar ingatannya. Benar apa yang dikatakan Nina, karena berbeda dengan sosok-sosok yang tidak jelas, sosok itulah yang tampangnya dapat diingat. Dan jika tak salah, anak kecil itu pernah berkata sesuatu di pertemuan pertama mereka yang mengerikan... Kini, Zaidan berusaha mengingat apa yang dikatakan anak itu.


BRAKKK!!!


Zaidan dan Nina sontak menoleh setelah mendengar suara pintu yang dibanting. Pintu itu adalah pintu kelas Zaidan yang tidak jauh dari keberadaannya sekarang, dan kenyataan bahwa Eja ada di dalam sana membuat Zaidan panik bukan main.


Lalu, suara lemparan kursi dan meja juga terus terdengar nyaring seperti amarah gila yang terluapkan. Detak jantung Zaidan terus berdegup cepat.


...


Di dalam ruangan, sudah tergeletak banyak benda di mana-mana yang membuat Eja berusaha menempel pada tembok paling belakang. Entah bagaimana awal semua ini terjadi, namun dengan pintu yang telah tertutup ia tidak bisa meminta pertolongan kepada Zaidan yang ada di luar.


"Hah!!... Siapa dia? Da.. dari mana datangnya makhluk itu??" gumamnya dengan suara kecil. Sudah tidak ada ruang untuknya berlari, dan saat ini ia menatap lurus ke sosok itu yang ada jauh di depannya... Sosok itu sendiri berdiri dengan kaki yang tidak menapak dan memakai baju sekolah yang telah terlumuri darah merah, menguasai seisi kelas dengan auranya yang pekat.


Ini adalah kali pertamanya melihat sosok sejelas itu, tentu saja pikirannya mengarah kepada kematiannya yang sudah tepat di depan mata.


"Hei... Kau adalah orang terpilih itu, 'kan? Aku dapat melihat baunya menyelemuti kulitmu," ucap sosok misterius itu.


"... Mengapa orang dewasa sungguh jahat?.... Seseorang seperti kalian berdua memiliki umur yang panjang, namun kami tidak. Mengapa sangat tidak adil?... Mengapa sangat tidak adil untuk kami yang muda?..."


Nada yang memilukan itu bisa membuat siapa 'pun merasa iba setelah mendengarnya, namun, dengan keadaan seperti ini apakah ada yang bisa dirasakan selain ketakutan? Malah dengan mendengar hantu yang berbicara lembut seperti itu membuat Eja semakin yakin dengan takdir kematiannya.


'Jendela... Benar! Aku bisa keluar lewat jendela kalau waktunya sempat," pikir Eja.


Jendela kelas sebetulnya tidak memiliki tirai sama sekali, hanya saja dari awal kacanya memang tertutup. Jika Eja mampu berjalan sedikit ke arah sana mungkin ia bisa membukanya atau menggedor kacanya. Tetapi masalahnya, akankah hantu itu membiarkan dirinya begitu saja? Bagaimana jika sosok itu mengamuk di ruangan yang tidak luas seperti itu dan Eja tidak bisa menghindar?


*Glek... Dengan susah payah ia menelan air salivanya.


Di dalam hatinya, ia merapalkan angka-angka untuk memantapkan langkah kaburnya, namun hantu itu selangkah lebih cepat darinya. Ketika sedang fokus, tanpa diduga sosok itu tiba-tiba melayang ke arahnya dan mendaratkan kedua tangan kecilnya di leher Eja. Laki-laki itu tercekik dan terpojok pada dinding yang membuat penyaluran udara ke tubuhnya terhenti.

__ADS_1


Eja terduduk tak berdaya di lantai. Ia tidak bisa berkata-kata dan pada saat itu yang bisa ia lihat hanyalah wajah pucat gadis kecil yang telah mati terpampang tepat di depan hidungnya.


Dia masih berusaha meraih-raih tangan gadis hantu itu agar terlepas dari lehernya, tetapi usahanya berakhir menyedihkan karena yang ia coba pegang ternyata tidak bisa tersentuh seperti angin dan udara yang ia hirup. Pupuslah harapannya. Jika ia melakukan harapan terakhir, maka harapan terakhirnya yaitu pertolongan dari Zaidan atau siapa 'pun yang dapat membantunya saat ini.


...


BRUAKK!!


Terdengar samar-samar bunyi benda yang rusak. Kemudian suara itu menghilang dan dilanjutkan oleh suara tapakan sepasang sepatu yang semakin mendekat.


Bunyinya sungguh menenangkan, sampai-sampai Eja tidak menyadari bahwa suatu senjata sudah muncul di hadapannya dengan suara yang menusuk sesuatu yang lembut.


*Jlebb.....


Dua mata Eja langsung terbuka lebar... Ia menyaksikan wajah mengerikan gadis kecil itu yang terkejut lalu menghilang secara perlahan. Hal yang membuat Eja sungguh tidak percaya adalah sosok di balik gadis kecil tadi, yaitu temannya, Zaidan dengan kedua tangan yang menggenggam erat senjata aneh.


*Plang..., Senjata itu dilepas dan terjatuh ke lantai, begitu pula dengan tubuh Zaidan yang sangat lemah.


"Huff... hufff... huh....." deru nafasnya semakin berat.


Pemuda itu terduduk di lantai dengan tatapan yang kosong dan tak percaya dengan apa yang sudah ia perbuat. Rasanya, ada seseorang yang baru saja berbuat keji, namun dia percaya itu bukanlah dirinya, tetapi orang lain selainnya.


...


Eja tanpa basa-basi langsung menanyakan kondisi Zaidan yang semakin pucat dan dihujani keringat tanpa memikirkan dirinya juga yang hampir kehilangan nyawa.


"Zaidan!! Apa kamu baik-baik saja?" Eja memegang kedua pundak Zaidan dan memeriksa jika ada bagian yang terluka di tubuh kawannya tersebut.


Terlihat bahwa Zaidan masih terkejut dan berpikir keras untuk segalanya yang terasa tiba-tiba ini. Sekarang yang Eja dapat lakukan hanyalah menemani pemuda itu duduk dan menenangkan diri di kesunyian ruangan menuju langit senja yang bersinar. Meski seaneh apa 'pun hal yang baru saja terjadi, Eja sungguh bersyukur hidupnya tidak berakhir segila itu.

__ADS_1


__ADS_2