Guess The Ghost

Guess The Ghost
Halaman 17


__ADS_3

Vivie melangkah cepat menuju ke arah Zaidan. Kejadian itu berjalan sungguh cepat, Zaidan mematung dengan mata yang terbelalak. Saat sampai di depan Zaidan, wanita itu langsung memberikan serangan tak terhindar.


"E-eh, Bunda!!" desisnya menahan rasa sakit ketika tangan Bundanya menjewer telinganya.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu tidak langsung pulang?" Tak hanya di telinga, serangan lain 'pun mendarat di pipi halus Zaidan. Pemuda itu sampai tidak bisa berkata sepatah kata 'pun karena menahan rasa perih di kedua tempat tersebut.


"Bukankah Bunda saat ini sedikit berlebihan?" ia membenak.


Pemandangan interaksi ibu dan anak ini sudah biasa bagi Kesti sebagai pemilik rumah. Sehingga, ia tidak begitu menganggapnya serius. Tetapi tetap saja melihat cucunya yang merengek membuat ia merasa tidak kuasa.


"Ienne, lepaskan" dia tanpa sadar menyebutkan nama panggilan Vivie saat wanita itu masih kecil.


Vivie maupun Kesti duduk bersama dengan Zaidan dan saling berhadapan membuat bentuk seperti segitiga. Sedangkan Zaidan sendiri sedang mengusap-usap pipinya perlahan dan menatap penuh kewas-wasan. Ia mencoba membaca arah perbincangan, namun akhirnya tidak menghasilkan apapun. Tetapi sepertinya ini mengenai Nina, lagi.


Zaidan yang ingin mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan dua wanita itu, berusaha tetap diam. Lalu Vivie dengan percaya diri berkata, "Mengapa Zidan memutuskan segalanya sendiri?"


'Sendiri?' Zaidan membeku.


"Apa yang Bunda maksud? Ini mengenai Nyonya hantu, 'Kah?"


Vivie mendesah kesal.


"Jangan menyebutkan panggilan itu, Zidan sudah memberikan makhluk itu panggilan lain, benarkan? Aku juga ingin membahas ini! Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu?" dia mengernyitkan alisnya.


Vivie meninggikan nada bicaranya, tidak memberi Zaidan keberanian untuk mengatakan apapun itu yang berada di kepalanya. Ketika ada salah satu orang yang terbawa suasana maka ada pula yang harus sebaliknya, yaitu menjadi seseorang yang bersikap tenang. Begitu cangkir yang di pegang Kesti diletakkan, terdengar suara anggun wanita itu yang langsung menjadi pusat perhatian.


"Katakan pada Bundamu kenapa kamu tidak memberitahukan hal itu. Ingat, jangan berani-berani membohongi Bundamu. Setelah masalah itu selesai, ada sesuatu yang ingin Moma kasih kepadamu" Keseriusan memenuhi seluruh wajahnya.


Sesuatu seperti apa yang ingin diberikan kepadanya? Zaidan penasaran dengan itu. Tetapi tidak ingin mengambil pusing, ia pertama meminta maaf kepada bundanya begitu 'pun neneknya karena ia benar-benar merasa bersalah sudah mengambil keputusan sendiri. Dan terbukti bahwa ia kebingungan untuk mencapai tujuan.


"Bunda, Moma... Aku meminta maaf tidak memberitahukan itu. Zaidan jujur, tidak ada maksud untuk melupakan kata-kata dari kalian. Saat itu aku hanya ingin mencoba untuk memberikan nama panggilan yang hanya aku yang menyebutkannya, karena aku tidak percaya diri jika kalian akan menganggapnya serius... Aku benar-benar mengakui kesalahanku, aku tidak akan mengulanginya kembali."

__ADS_1


Seketika ia tertunduk. Zaidan sangat jarang melakukan kesalahan, namun setiap satu kesalahan yang dia buat memiliki dampak yang besar. Ia telah menduga jika memberikan seseorang sesuatu akan memiliki akibat, dengan begitu ia 'pun waspada. Hanya karena perasaan senangnya dengan apa yang ia baru dapatkan, ia menjadi kegirangan dan lupa sesaat tentang bagaimana keluarganya akan bereaksi.


Hanya dengan memikirkannya, jantung Zaidan berdegup sakit. Ia lalu menyentuhnya dengan berbagai perasaan yang bercampur.


"Lalu siapa namanya?"


Suara Vivie menjalar halus ke telinga Zaidan. Tidak seperti yang telah Zaidan bayangkan, Vivie terdengar sangat santai.


Merasa aneh, ia mengangkat dagunya dan melihat ekspresi bundanya yang datar. Tidak ada satu 'pun kerutan di dahinya dan itu membuat dirinya lega.


"..." ia membandingkan reaksi Vivie dan Kesti. Keduanya sama-sama memasang ekspresi yang sulit Zaidan mengerti.


"Dia tidak tahu nama aslinya jadi aku memberinya nama panggilan 'Nina'..."


"Hm. Nina, ya?" ucap Vivie memastikan.


Diamnya Zaidan membuat Vivie kembali bersuara. Dia menanyakan apa yang dilakukan Zaidan di lapangan dengan Nina sepulang sekolah, dan tentunya Vivie tahu hal tersebut dari Kesti yang sudah bercerita di dalam kamar selama Zaidan tengah mandi.


Kemudian setelah berbicara panjang lebar, ada beberapa poin yang menarik perhatian kedua wanita tersebut. Pertama sikap Nina, kedua hantu anak kecil, dan terakhir Eja. Mereka saling bertatapan sebab mereka tahu siapa anak itu. Dari pada memikirkan masalah lainnya, Zaidan lebih mengutamakan masalah Nina yang menjadi tanggung jawabnya.


"Apa itu semua terjadi dalam beberapa hari ke belakang sesudah bertemu dengan Nina, Zidan?" tanya Kesti dengan risau.


"Iya. Setelah kupikir-pikir, tidak ada seseorang yang bisa merasakan kehadiran Nina kecuali aku, Bunda, Moma, dan siswi-siswi itu... Oh ya, juga pria 'itu'!"


"Tetapi setelah adik-adik kelas itu dikeluarkan, tidak ada yang tahu meskipun Nina berada di kantin saat itu denganku."


Walau rasanya Zaidan sudah menceritakan segalanya, tetapi ada beberapa hal yang dilewatkan karena, ia memulainya dari kejadian dimana ia membantu adik kelas yang tidak sadarkan diri di bawah pohon belakang sekolah. Jadi cerita sebelum-sebelumnya terlewatkan. Meskipun banyak bagian yang tidak sempat ia katakan, tetapi semua itu cukup untuk dipahami Vivie dan Kesti.


Terlihat dari sepanjang cerita di mana kedua wanita itu tidak menyela Zaidan sekali 'pun.


"Lalu bagaimana tanggapan Zaidan untuk anak laki-laki itu? Zaidan tahu 'kan dia mempunyai niat buruk jika tiba-tiba mendekati Zaidan seperti itu?" Vivie meraih jemari-jemari tangan Zaidan dan menyimpannya dalam genggamannya.

__ADS_1


"Ya... Zaidan sebenarnya tidak tertarik dengan itu," ia tersenyum. "Bunda juga sudah berkata kalau Zaidan tidak perlu ikut campur ke dalam masalah pribadi orang lain, dengan itu Zaidan akan baik-baik saja."


"Benar, seperti itu. Jangan pernah berhubungan dengan teman sekolahmu, mereka semuanya tidak begitu dekat dengan keluarga kita" ucap Vivie dengan senyuman manis yang terbentuk oleh bibirnya.


Di saat Vivie dan Zaidan saling mengutarakan perasaan mereka, Kesti langsung mengambil kesempatan tersebut untuk memberikan sesuatu kepada cucu satu-satunya seperti apa yang tadi ia sudah katakan. Sesuatu yang terbungkus oleh kain merah gelap keluar dari saku kardigan-nya. Kesti lalu menyerahkan benda tersebut ke Zaidan.


Tangan Zaidan langsung tergerak dan mengambil bungkusan kain itu.


"Apa ini, Moma?" ia bertanya karena enggan untuk membukanya.


"Buka saja dulu," kata Kesti seraya mengangkat cangkir tehnya.


...


Semakin kain itu dibuka, semakin jelas pula bentuk benda di dalamnya. Zaidan terlihat kebingungan. Ia bertanya-tanya, benda apakah itu? Selama hidupnya, ia tidak pernah melihat benda semacam tongkat bergagang yang berpola indah seperti yang sekarang ia lihat. Zaidan sangking herannya tidak mau memegang benda tersebut.


"Zidan tahu apa itu?"


Mendengar pertanyaan Momanya, Zaidan menggeleng.


"Apakah ini pisau dapur?" Meski bibirnya berkata demikian, tapi dalam pikirannya ia mengelak. Ia tidak pernah bercengkrama dengan alat-alat dapur sejak kecil, namun ia tahu bagaimana bentuk pisau yang seharusnya. Dan tongkat bergagang itu tidak mirip sama sekali dengan pisau.


"Heii, yang benar saja! Apa Zaidan selama ini tidak melihat Bunda memasak?" Vivie mengomel seakan menekankan jika jawaban Zaidan begitu konyol.


"Baik, baik, Bunda. Lalu apakah benda ini sebenarnya?" Zaidan berpasrah. Padahal 1 menit yang lalu bundanya terlihat manis dan penyayang, tetapi dalam sekejap wanita itu langsung berubah sikap.


Lagi-lagi, tanpa menaikkan nada bicaranya sedikitpun, Kesti menjelaskannya bersama dengan bagaimana dia bisa mendapatkannya.


"Sebutan umumnya adalah Keris. Tetapi karena ini adalah milik Moma jadi, nama yang saat ini di pakai adalah Capenti. Ini termasuk barang peninggalan dari seseorang yang sudah lama tiada, saat itu Moma masih sangat muda dan barang ini diberikan kepada Moma dengan alasan supaya Moma bisa terhindar dari serangan sosok-sosok yang tidak dapat dilihat oleh manusia biasa"


"Tapi saat itu Moma sudah sangat kuat. Di masa itu, melihat sosok aneh mereka sudah tidak menakutkan, dan karena itu barang ini hanya menjadi simpanan yang memiliki sedikit sejarah lampau."

__ADS_1


__ADS_2