
-A man from another country that raised in Indonesia.
———
Daun-daun berjatuhan dari pohon karena angin yang entah datang dari mana itu berhembus sangat kencang.
Zaidan hanya berdiri dan terdiam, ia tidak tahu harus menyapa atau mengabaikan laki-laki itu. Sedangkan jika ia memberikan sapaan, Zaidan akan terdengar sok dekat yang padahal mereka tidak pernah berbicara satu sama lain sebelumnya. Dan jika ia mengabaikannya lalu berjalan kembali... kemungkinan besar ia akan dicap aneh dan sombong, dan itu malah lebih buruk.
Maka dari itu ia terus berjalan kedepan hingga dimana ia merasa bahwa jarak laki-laki itu dan dia sudah begitu dekat.
"Hai.."
Sungguh beruntungnya laki-laki itu langsung membalasnya.
"oh, halo"
Setelah sempat bersapaan, mereka kembali saling berdiam.
Namun laki-laki itu tidak melepas pandangannya dari Zaidan, sehingga pemuda itu kehabisan kata-kata dan merasa ingin menyembunyikan wajahnya saja dari pada menghadapi situasi ini.
Namun pada akhirnya Eja memulai pembicaraan lagi dengan bertanya apa yang Zaidan ingin lakukan ditempat itu.
"Kenapa kamu pergi ke tempat ini?, kudengar jarang sekali ada seseorang yang kesini karena mendengar rumor yang beredar mengenai pohon besar yang angker"
Dengan lugu Zaidan berkata,
"Kenapa kau kesini juga? apa kau datang karena rumor itu?, aku sendiri datang kemari hanya untuk menikmati pemandangan disini...." tiba-tiba ia teringat dengan Nina dan melihat kebelakang begitu cepat.
"Uh-hh... tempat ini memang bagus, sih"
"Dan apa yang kamu katakan itu memang benar. Aku datang hanya untuk melihat apakah pohon ini terdapat hantu atau tidak. Ngomong-ngomong siapa namamu?, aku merasa kamu adalah salah satu teman kelasku"
"oh, itu benar. Namaku Zaidan..."
"Kalau begitu ini adalah pertemuan pertama kita. Namaku adalah Eja."
Eja menyodorkan tangannya, dan hal itu membuat Zaidan merasa panik. Bergemetaran Zaidan menjabat tangan itu dan menunjukkan senyum canggung miliknya yang sangat khas.
Dan saat jabatan tangan itu terlepas, Eja kemudian bertanya apakah Zaidan ingin bersantai ditempat itu bersamanya sementara waktu karena cuaca nampak sangat bagus saat ini.
Tetapi mendengar itu Zaidan langsung menolaknya.
Ia akan dalam masalah jika membuat banyak alasan untuk pulang terlambat... terlebih lagi bundanya sangat tidak suka jika ia berteman dengan teman sekelasnya karena itu akan membuat kerakusan dihati orang itu,
Dan ternyata apa yang bundanya katakan adalah nyata.
"Aha, mungkin tidak karena sepertinya aku harus pulang dulu..."
Zaidan cepat-cepat meninggalkan Eja yang kebingungan tanpa memberi sedikitpun penjelasan.
- - - -
Hari semakin terik. Lou Yan yang berada di ruang tamu sendirian 'pun mulai merasa bosan, tetapi ia harus tetap bersabar menunggu seseorang yang bisa mengantarnya pulang.
__ADS_1
Lalu beberapa waktu kemudian terlihat kaki yang berjalan masuk.
Ternyata yang baru saja masuk adalah Vivie yang terlihat memegang suatu kertas undangan ditangannya. Tentu saja undangan itu akan menarik perhatian Lou Yan.
"Vivienne, bagaimana dengan mobilnya?"
Vivie menjawabnya dengan senang.
"Sudah ada didepan. lagipula, bagimana bisa kamu kemari tanpa mobil pribadi?, kamu memakai kendaraan umum?"
"Hahaha, iya. Bukannya lebih nyaman seperti itu?, aku juga ingin kemana saja tanpa beban."
"hmm, dan itu... undangan acara?"
Vivie seketika menyadari mata Lou Yan yang mengarah jelas ke kertas undangan yang bertalikan pita-merah yang saat ini ia pegang. Tak perlu panjang-panjang menjelaskannya, Vivie hanya mengatakan bahwa itu adalah sampah kecil yang akan dia buang, dan akan memberinya begitu saja jika lelaki itu mau.
"Tidak. ini hanya sampah yang ku pungut tadi"
"Dan jika Tuan Luo Yan menginginkannya, aku tidak merasa keberatan"
Vivie tersenyum lebar sembari menyerahkan kertas itu kepada Lou Yan. Pria itu kemudian mengambilnya dengan tawa kecil karena tidak berekspektasi mendapatkan perlakuan itu di situasi seperti ini.
*set.
Setelah mengambil undangan tersebut, tanpa melihatnya lebih rinci ia langsung berdiri dan menatap wanita didepannya dengan intens. Tak lupa ia juga memberikan senyuman yang selalu menjadi andalannya ketika mengatasi wanita itu. Bunda dari Zaidan.
"Vivienne, apakah kau tidak merasa terlalu mengurung anakmu? dengan adanya acara seperti ini seharusnya menjadi kesempatan bagi seorang ibu untuk menunjukkan lingkungan sosial kepada anaknya"
"Jadi kurasa ini lebih baik kamu simpan."
Ia mengungkapkan apa yang ingin ia sampaikan. Tetapi dengan kata-kata nya itu, Vivie nampaknya lebih tersinggung dari apa yang ia pikirkan.
Lou Yan tertegun.
"Oh, aku tidak bermaksud merendahkan Vivie"
"Tetapi Lou Yan telah mengatakan hal yang sama sebelumnya, dan aku masih mengingatnya sampai saat ini"
"Mungkinkah karena Lou Yan tidak pernah merasakannya jadi tidak mengerti bagaimana orang tua memperlakukan anaknya diluaran sana?, mirisnya, banyak yang tidak peduli dan bahkan dengan tega menyiksa anak yang sebenarnya bersih itu"
"Aku tidak pernah akan melakukannya kepada Zaidan, bahkan aku menginginkan yang terbaik untuknya, dan kau sebut itu sebagai pengurungan?"
Vivie melirik ke kertas undangan dan kembali menatap kearah Lou Yan.
"Kau sungguh menjengkelkan jika seperti ini, Lou Yan. Aku tidak ingin mendengar hal-hal seperti ini lagi dirumahku. Jika Zaidan mendengarnya, ia akan kesal kepadamu juga"
Senyum manis tadi yang bisa membuat seseorang terbayang-bayang seperti berada di langit ke-tujuh, sekarang memudar seperti bunga yang terbakar dan menjadi abu....
Walaupun Lou Yan terlihat tidak nyaman, tetapi ia tidak bisa mengelaknya. Bibirnya bergetar, lalu mengatakan kata-kata.. "Nyonya Vivienne benar." Ia meremas kertas undangan di genggamannya.
"Aku memang keterlaluan kali ini. Aku harap Nyonya bisa memaafkan saya."
Begitu selesai mengungkapkan rasa bersalahnya, Lou Yan meraih tangan Vivie dan segera membungkuk.
Begitu ia sudah membungkuk, ia langsung mengecup tangan wanita itu dan melihat ekspresi apa yang ditunjukkan olehnya.
__ADS_1
***
Pada depan pagar rumah Kesti, sudah terlihat mobil yang terparkir dan Kesti juga yang nampaknya sedang berbicara dengan pengemudi yang ada didalam mobil tersebut.
Ketika Lou Yan berjalan mendekat, Kesti seketika menoleh dan tersenyum hangat.
Lou Yan 'pun berterima kasih kepada keduanya.
"Terima kasih Nyonya Kesti dan juga terima kasih kepada bapak yang sudah bersedia mengantarkan saya."
Ternyata, setelah berbincang beberapa menit, bapak itu lebih ramah dari apa yang Lou Yan lihat.
Dan pada saat yang bersamaan Lou Yan juga menyadari bahwa pria berumur itu adalah salah satu 'pelanggan' setia Kesti.
Itu artinya Kesti sangat teliti ketika memilih seseorang yang tidak memiliki kemungkinan untuk merusak reputasi nya.
***
Melintasi jalan utama, mobil yang membawa Lou Yan terlihat mengarah ke perkotaan. Didalam mobil itu Lou Yan menatap keluar jendela yang hanya bisa di lihat dari satu arah saja.
Tiba-tiba bapak yang mengemudi di sampingnya bertanya dengan senyuman aneh. Entahlah, senyuman aneh ataupun ramah kini sulit ia bedakan.
"Sepertinya saya pernah mendengar nama anda. Tetapi entah dimana"
Lou Yan merasa tercekik.
Tak pernah menduga jika ia akan menerima pertanyaan seperti itu ketika ia sudah merasa tenang.
"Apakah anda adalah seseorang yang terkenal? Mungkin saja saya pikun karena sudah sangat lama tidak mendengarkan radio" kata bapak itu dengan nada bercanda.
"Saya memang tidak begitu terkenal, tetapi saya yakin bahwa setidaknya anda mendengar nama saya satu kali di radio ataupun ditempat lain." Jawab Lou Yan.
Memang benar apa yang dikatakannya.
Sebagai pelukis, ia sangat terkenal ditempat pemberitaan koran, radio, maupun pertelevisian. Namun salah satu tempat penyebaran berita yang paling membuat ia unggul adalah televisi dan ponsel genggam yang saat ini sering digunakan di daerah perkotaan.
Pada waktu ini masih belum ada pemberitaan tentang kedatangannya, jadi oleh sebab itu ia harus sebaik mungkin menyembunyikan keberadaan dirinya dari masyarakat agar tidak menimbulkan berita baru.
"Sungguh? Ah, bagaimanapun saya sudah begitu tua untuk dapat mengingat nama orang-orang saat ini... Ngomong-ngomong berapa umurmu, nak?" Bapak itu menoleh kearah Lou Yan.
"23 tahun ini."
Mobil berbelok dan berjalan lambat. Ternyata mereka sudah dekat dengan pom bensin, selanjutnya bapak yang tidak memberitahukan namanya itu melepas sabuk pengaman mobil dan bersiap membuka pintu.
"Tunggu sebentar disini, ya nak"
*buk.
Pintu mobil tertutup.
Dengan iseng Lou Yan melihat jam yang tergantung di tangannya. Tak terasa ini sudah lebih dari jam 8.
Ketika masih asik menatapi jam tangan tersebut, tiba-tiba ponsel di sakunya bergetar.
"...Fel?, kenapa anak ini menelpon?"
__ADS_1
Saat ponsel itu di cek, ternyata asistennya lah yang membuat panggian suara itu. Karena seharusnya asistennya itu tidak menelpon sampai ia kembali, dia menduga bahwa sebenarnya ada hal mendesak yang terjadi, dan karena bagaimanapun itu adalah panggilan yang mendesak, Lou Yan mengangkatnya.
...