Guess The Ghost

Guess The Ghost
Halaman 5


__ADS_3

"..."


"Pegang lah ini"


Zaidan menyerahkan kotak bekal nya kepada gadis-gadis tadi. Lalu mengangkat perempuan yang terbaring ditanah tepat dibawah naungan daun pohon yang rimbun.


Saat orang itu berada di kedua tangan nya, ia melirik ke atas pohon untuk beberapa saat.


...------...


Sesampainya di UKS, perempuan yang tidak sadarkan diri itu langsung ditangani oleh pengurus UKS, dan berita tentang penampakan di pohon angker yang membuat seseorang murid hingga tidak sadarkan diri itu tersebar begitu cepat.


Orang-orang yang tadi berada di kantin buru-buru melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan Zaidan yang berdiri diluar UKS hanya dapat melihat kehebohan itu.


"Kak, Terima kasih ya"


Dua gadis yang tadi panik sekarang terlihat lebih tenang dari sebelumnya. setidaknya itu yang kini Zaidan lihat.


"Oh... Iya. sama-sama"


Mereka 'pun memberikan kotak bekal Zaidan.


namun, secara diam-diam mereka saling melirik canggung, dan itu pastinya disadari oleh Zaidan.


"Kak... Sebelum nya kita hanya diperintahkan guru untuk membersihkan sampah-sampah disekitar pohon tersebut sebagai hukuman karena lupa mengerjakan PR.


Tetapi teman kami tiba-tiba berteriak dan berkata ada sesuatu yang menempel di ranting pohon besar itu"


"Yang seharusnya kami yang terkejut, tetapi malah dia yang tidak sadarkan diri setelah berteriak.."


"Jadi, kalian melihat 'sesuatu' itu juga setelah teman kalian berdua berteriak?."


Dengan tatapan canggung, mereka mengiyakan pertanyaan Zaidan.


"Tetapi saat kakak datang, sesuatu 'putih-putih' itu tidak kelihatan lagi".


.


.


.


Semuanya kembali seperti semula, yakni, kejadian tadi dilupakan oleh semua orang seakan memang tidak pernah terjadi.


Namun berbeda dengan Zaidan yang masih berat hati untuk membiarkan nya begitu saja, setelah jam pelajaran kedua berakhir, ia segera berjalan kearah pohon besar tadi.


Entah dari mana keberanian nya berasal, tetapi ia dengan bersungguh-sungguh ingin membuktikan keresahan hatinya dengan mendatangi langsung tempat tersebut.


Sekarang dihadapan nya terdapat pohon yang menjulang tinggi.


Ia memerhatikan pohon itu beberapa saat, kemudian berkata, "Apa kau masih berada disini?".


Mendengarkan suara nya, secara cepat sesosok yang berbentuk manusia muncul di depan nya.


"Nyonya hantu??"


Karena dugaan nya terbukti benar, ia sedikit merasa senang.


"Apa kamu yang menakuti perempuan-perempuan tadi?"


"Kenapa kamu berada disini? bukankah aku menyuruh mu untuk tunggu di depan gerbang sekolah?"


"..."


Ia langsung memberikan segunung pertanyaan kepada nyonya hantu. anehnya, wanita itu tidak merespon.


'Kenapa dia hanya diam? Mungkinkah Hubungan kita tidak ada perkembangan..?'


"Apa kau... bukan nyonya hantu?"


Tatapan sosok nyonya hantu berubah menjadi lebih tajam, seperti dia sedang marah akan sesuatu.


*set.


Ibu jari dan jari telunjuk nyonya hantu menyentuh rahang Zaidan dan menekan nya lumayan keras.


Namun Zaidan yang bingung dengan apa yang terjadi hanya diam sembari menatap lurus ke mata nyonya hantu dan mencoba mencari alasan dibalik tatapan tajam tersebut.

__ADS_1


"Dimana Nina?..", ucap nyonya hantu dengan dingin.


"Hah?"


Zaidan begitu kebingungan dengan ucapan dan tingkah nyonya hantu yang terkesan tidak biasa.


"Ohh... Apa aku salah memanggil mu?", 'benar juga! Apa itu yang membuatnya seperti ini?'


Nina perlahan melonggarkan tekanan jarinya dirahang Zaidan, kemudian memalingkan wajahnya.


"Apakah kamu kesal karena aku tidak memanggil mu 'Nina'?"


Karena banyak yang harus dipikirkan, ia sampai lupa untuk memanggil nyonya hantu dengan nama baru nya. Nina.


"Maafkan aku, aku lupa jika nyonya hantu sudah memiliki nama baru..."


"Dasar, Zaidan." meski suara nya masih terdengar dingin, tetapi tatapan nya kini sudah berubah menjadi lebih hangat dan membuat Zaidan merasa lega.


"Eh, haha, baiklah-baiklah. Karena seharusnya Nina tidak marah lagi... Mari kita pulang. Bunda pasti khawatir jika kita tidak cepat pulang".


Syukurlah masalah ini tidak berlangsung lama.


Namun sebelum pulang, Zaidan harus mendatangi wali guru kelas 8 untuk mengambil foto yang dijanjikan.


Disana ia benar-benar meminta Nina untuk tetap berada diluar ruangan dan jangan pergi kemana-mana sebelum ia keluar. Karena takut masalah tadi terulang kembali.


Setelah menarik nafas begitu panjang, ia mulai mengetuk pintu nya.


*tok, tok, tok.


"Permisi pak, ini Zaidan."


"Oh Zaidan. Masuklah nak".


Zaidan membuka pintu dengan sedikit malu-malu.


Didalam Zaidan sudah disambut oleh seorang pria dengan beberapa lembar foto ditangan nya. Dan itulah foto perpisahan kelas 8, yang sebenarnya tidak begitu berarti.


"Bagaimana liburan kemarin?"


Zaidan melirik foto yang ada ditangan pria itu. Perbincangan bukanlah tujuan nya, oleh sebab itu Zaidan merasa tidak suka.


"Oke-oke, ini foto yang kamu inginkan"


Dia menyerahkan 2 lembar foto, dan Zaidan 'pun menerima nya.


Difoto itu terlihat jika murid-murid disana sangat bahagia dan antusias saat melihat kearah kamera, terkecuali Zaidan yang hanya berdiri dengan senyum kecil melirik salah satu teman nya.


...


"Terima kasih pak!"


Memerhatikan foto itu membuat ia merasakan masa-masa itu kembali hidup. Tetapi tentu saja tidak ada yang bisa dibanggakan dari foto tersebut.


"Kalau begitu saya pulang terlebih dahulu, pak".


"Iya. Hati-hati saat dijalan ya Zaidan".


- - - - -


"Bunda!!!"


Vivie yang sedang menyapu halaman depan rumah, dikejutkan dengan kedatangan Zaidan yang berlari penuh semangat sehabis pulang sekolah.


"Jangan berlari-lari. bagaimana jika Zidan terjatuh?"


Walaupun telah diperingati, ia tetap saja berlari.


"Bunda, bunda. Coba lihat foto ini, bukan kah ini yang kau inginkan?"


Zaidan membuka pagar dan menghampiri bunda nya untuk menunjukkan foto tersebut. Bunda nya 'pun menatap begitu gemilang setelah mendengar itu. Namun sayang nya, sebelum Zaidan bisa memberikan nya Kesti terlebih dahulu mengambil salah satu lembar foto itu dari belakang punggung Zaidan.


"Moma!!"


Vivie berteriak tidak suka.


"Apakah ini foto perpisahan Zidan kemarin?"

__ADS_1


"Oh, benar"


Tiba-tiba Kesti menghela nafas nya begitu berat sambil mengangkat kedua ujung bibirnya.


"Hah.. Ayo masuk, moma hari ini membawa banyak bahan masakan untuk malam ini"


Dengan cekatan Zaidan langsung mengambil tas dan plastik bawaan Kesti. Menamun dalam hatinya, ia bingung mengapa momanya menunjukkan ekspresi seperti tadi.


~~ Malam hari nya. ~~~~~


"Bunda membuat sambal bawang lagi?"


Cabai dan bawang ketika digoreng memiliki harum yang aneh dan menusuk hidung, itu sebabnya ia bisa menebaknya meski dari kejauhan.


"Benar. Cepat ambil kursi dan nikmati makanan ini!"


Tanpa berpikir panjang ia langsung duduk disalah satu kursi lalu menatap kearah bundanya.


Tetapi melihat suasana ruang makan saat ini, rasanya ada sesuatu yang salah dengan hati Zaidan. Seakan ada sesuatu yang tidak lengkap.


Dan sekarang ia baru menyadari keanehan nya.


"Dimana nyonya hantu berada?"


Ia mengedarkan pandangan nya kekanan dan kekiri.


"Hum? Bunda tidak melihatnya sepanjang hari"


"Kalau tidak salah, dia juga bersama mu ketika pulang dari sekolah"


Perkataan bunda Vivie memang benar, dan itulah terakhir kalinya Zaidan melihat, dan bersamanya.


Dan Zaidan merasa menyesal telah meninggalkan nya disana.


"Moma, nyonya hantu bisa masuk ke rumah kita tanpa harus diajak, 'kan?"


"Tentu saja, Zidan. Dia adalah hantu yang bisa menghilang dan tidak perlu tata krama untuk pergi kemanapun" seolah itu sudah biasa terjadi, Kesti bahkan tidak menatap kearah Zaidan dan melahap makanan nya sesaat makanan sudah dihidangkan.


"Begitu ya..."


Sementara itu,


Meski Zaidan telah sampai ke kamarnya, penampakan Nina tidak segera terlihat.


Ia yang tidak memiliki pilihan lain akhirnya memilih untuk belajar dan mengerjakan pr.


...


Mengetahui bahwa Nina dapat menghilang selayaknya hantu pada setiap cerita, pasti tidak mudah untuk mencari keberadaan nya saat ini. Awalnya itu adalah fakta yang membahagiakan sebelum sebuah pikiran melintas dikepalanya.


Bukankah lebih baik musnah dari pada datang-pergi seenaknya?


Mungkin ia seharusnya bertanggung jawab sepenuhnya dan memikirkan cara lain. Namun cara apa yang harus dipikirkan?


Saat ini hanya ada beberapa informasi yang dapat membantu, yaitu, rumah.., pohon.., dan sikap-sikap hantu. Tetapi semua ini 'pun harus ditanyakan kembali kepada Nina karena semuanya masih dalam tanda tanya. Tetapi setidaknya ada Kesti dan teman-teman disekolah yang bisa membagikan informasi kepadanya.


Itu terasa lebih dari cukup. Pikirnya.


Malam yang larut mendatang...


Sekitar jam 11-an, tiba-tiba ia berpikir tentang hantu yang bisa berinteraksi dengan benda dan mampu membaca huruf. ....


Sontak ia menguap panjang karena jam sekarang sudah lewat 1 jam dari yang seharusnya waktu tidur. Yaitu jam 10.


"Nina sudah pulang atau tidak, ya? ... Aku memiliki banyak pertanyaan, tetapi aku tidak bisa bertahan selarut ini."


Ia 'pun segera merapikan meja belajarnya dengan kelopak mata yang beberapa kali hampir tertutup lama.


*hoamm...


Tidak tahan lagi, setelah membersihkan semuanya, ia langsung beranjak keatas kasur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Sebelum benar-benar tidak sadarkan diri, ia melirik ke seluruh sudut ruangan dan berakhir ke lampu belajarnya, yang ternyata lampunya belum dimatikan.


".. lupakan saja. kuharap bunda tidak datang kekamar ku" ia langsung saja menutup matanya dan membiarkan pikiran nya berlarut dalam kekosongan, hingga masuk kedalam mimpi. ...


Dan beberapa saat kemudian, lampu belajar itu mati.

__ADS_1


*tek.


__ADS_2