
Ruangan menjadi senyap total.
Begitu dua orang itu tidak saling berbicara, Felix seketika membuka mulutnya dan membeberkan sebuah fakta yang ia dengar dalam lingkungan persosialisasian artis yang sering ia datangi. Meskipun acara-acara itu hanya dihadiri oleh dirinya yang selalu membuat artis lainnya bosan dan bukannya Lou Yan yang selaku artisnya.
"Saya dengar Helman menjual rumahnya, namun rumah itu sampai saat ini tidak terjual juga, mungkinkah kasus anaknya itu yang menjadi penyebabnya?"
Polisi tersebut menunjukkan wajah terkejut seakan tidak pernah mendengar berita itu sebelumnya.
"Wah, ternyata dia sudah bertindak sejauh itu, ya. Kalau memang benar begitu, alasan itu bisa sangat kuat untuk memberatkan posisi tersangkanya saat ini,"
"Sebetulnya kita sudah mengundang pria itu kekantor polisi ini. Seharusnya dia sudah ada diruang interogasi sebelah. Jadi, maukah Tuan sekalian melihat bagaimana kasus ini akan berakhir?"
Lou Yan tampak merenungkan ajakan itu sesaat dan melirik kearah Felix si asistennya. Tanpa diduga, Felix tersenyum lebar seolah mengatakan bahwa itu tidak akan menjadi masalah.
Lalu dengan ringan hati Lou Yan menerima ajakan tersebut.
"Yah, saya juga kebetulan ingin melihat seperti apa Helman itu. Bagaimanapun saya jadi terlibat kedalam kasus ini karena dia."
Pada akhirnya mereka bertiga akan melanjutkan pertemuannya di ruang interogasi Helman. Walaupun kehadiran Lou Yan tidak perlu diwajibkan, tetapi karena Lou Yan sendiri memiliki banyak waktu luang maka asistennya 'pun memperbolehkan. Mereka berdua juga berharap supaya tidak ada kesalahan kecil dimasa lalu yang akan membuat kasus ini semakin merambat ke pihak Lou Yan,
Karena sejujurnya tujuan utama mereka berdua ialah keluar dari kasus ini sejelas dan secepat mungkin.
Melintasi lorong kantor, Felix dan Lou Yan memerhatikan sekeliling ruang utama yang tampak lebih ramai daripada saat Lou Yan masuk tadi.
Bertemu dengan rekan lainnya, pak polisi yang mengantar mereka memberikan sapaan hangat, dan untuk beberapa waktu Felix dan begitu juga dengan Lou Yan terlantar dibelakang. bersikap tenang, dan tetap menunjukkan keramahan.
Beruntungnya itu hanya terjadi sekali, dan seterusnya petugas polisi itu memfokuskan diri untuk mengantar tamu-tamunya.
Memasuki ruangan interogasi, Lou Yan langsung mengedarkan pandangannya kesegala arah untuk menemukan seseorang yang ingin ia lihat. Sembari terus berjalan mengikuti langkah pria didepannya, ia melirik kearah seseorang yang terduduk di kursi sendirian dibawah cahaya lampu putih yang sangat terang. Menyadari itu, Lou Yan seketika merasa mual dan perutnya seakan tergoncang. Felix yang melihat gerak-gerik Lou Yan langsung bertanya,
"Tuan, apa ada sesuatu yang mengganggu?"
Felix sungguh khawatir. Namun kekhawatiran nya berganti menjadi ketakutan ketika Lou Yan tiba-tiba tersenyum pahit.
"Ini sangat menarik, Felix. Apa kau tahu siapa yang tadi sempat mengantarku?... Ternyata itu adalah Helman yang telah membawa kita ke masalah ini.." bisiknya.
Mendengar bisikannya, Felix sontak terkejut dan langsung melihat kearah seseorang yang tadi dilirik oleh Lou Yan.
__ADS_1
"Hah, apa kau yakin?!"
"Orang yang disana itu adalah Helman?, kenalan Nyonya Kesti??" ucap Felix dengan penasaran.
*Sttts...,
Lou Yan segera memberi peringatan kepada asistennya untuk tidak keras-keras saat berbicara. Mengetahui bahwa cara yang terbaik untuk tidak bersangkutan adalah dengan meminimalisir informasi, maka mereka akan melakukannya persis sesuai dengan kebutuhan.
Jadi, dengan kata lain, untuk saat ini akan lebih baik jika keluarga Kesti tidak terlibat dalam kasus ini. Itu pikir Lou Yan.
Mereka akhirnya telah sampai di ruangan untuk menyaksikan interogasi. Diantara ruang interogasi dan ruangan untuk menyaksikannya terdapat kaca besar yang bisa membatasi keduanya. Dengan begitu seseorang yang diinterogasi tidak akan merasa terganggu dan terancam.
...
Di lapangan yang sangat luas, dari kejauhan terlihat dua sosok yang saling berpegangan tangan. Satunya sosok tubuh manusia asli, dan yang satu lagi adalah sosok yang sebenarnya tak kasat mata.
Itu adalah Zaidan dan Nina.
"Ki... kita lihat pohon ini terlebih dahulu!" tutur Zaidan dengan gugup. Jarinya menunjuk ke sebuah pohon yang besar, namun kali ini pohon yang ditunjuk olehnya adalah pohon yang terletak di lapangan dekat perumahan sana, alias sekarang mereka berdua berada di luar lingkungan sekolah.
*Drap! Drap! Drap!, Zaidan berjalan mendekati pohon besar yang rimbun, mirip sekali dengan pohon yang ada dibelakang gedung sekolah, namun pohon ini lebih terlihat tua dan berakar besar.
Ia mulai bercerita.
"...Nina, dulu aku sering datang ke lapangan ini saat aku masih kecil bersama bunda. Tetapi dulunya tidak seperti ini" Zaidan memutar arah tubuhnya. "Apa kau melihat taman bermain yang disana? dulunya tidak ada hal seperti itu. Tetapi karena perumahan ini menjadi semakin padat, dari hari itu dibuatlah taman bermain oleh warga sekitar sini."
Kenangan-kenangan saat bersama dengan bundanya bermain dilapangan itu masih melekat hangat dihati Zaidan.
Rasanya, angin yang menari-nari di sekitar tubuhnya seakan membawa kenangan tersebut melintasi pikirannya.
Nina memerperhatikan taman bermain itu sejenak lalu kembali melihat wajah Zaidan. Zaidan yang bisa merasakan tatapan itu 'pun tersentak.
"Kenapa Zaidan terlihat sangat kesepian? mungkin saja situasinya sudah berbeda, tetapi tempatnya 'kan masih ada"
"Bahkan yang melahirkan Zaidan juga masih ada"
*Wush...
__ADS_1
Zaidan tidak dapat berkata-kata. Isi kepalanya saat ini kosong setelah mendengar ucapan yang tak pernah ia ekspetasikan sebelumnya dari Nina. Perkataan yang susah untuk dipahami itu, Zaidan berusaha mempertanyakannya.
"Apa maksud Nina?..."
"Sesuatu kenangan yang bisa dibuat kembali, itukah maksud Nina??"
Ketika bola mata Zaidan memancarkan sebuah harapan, beda dengan mata Nina yang tampak kosong dan gelap. Entah mengapa, Zaidan merasa bahwa sebenarnya ada makna lain dari perkataan Nina barusan, tetapi ia tidak bisa menggapai makna itu sedikitpun. Zaidan jadi khawatir jika pembahasan ini terus berlangsung akan membuat suasana diantara meraka menjadi canggung.
"Tidak, bukan. Itu bukanlah apa yang ku maksud."
"Aku ingin berkata, bahwa Zaidan tidak perlu sedih. Zaidan bisa kemari kapanpun dan mengingat hal yang sudah berlalu itu... Saat selesai berbicara dengan laki-laki tadi Zaidan juga terlihat sangat kesepian. Itu membingungkan ku."
Selembut apapun suara dan nada bicara wanita itu, tetap saja tidak ada sebuah emosi diraut wajahnya. Apakah dia bersungguh-sungguh dalam mengucapkan kata-kata itu? apakah dia juga merasakan apa yang sekarang Zaidan rasakan?
Semua hanya pemikiran sesaat, karena setelah itu Zaidan tidak kuasa menahan senyumnya lagi.
"Emhh, terima kasih" ".. Oh ya, apa yang Nina pikirkan mengenai pohon ini? harusnya Nina ingat sesuatu benarkan?"
Ia berbalik dan menutupi kedua matanya dengan lengan kanan tangannya. Tetapi satu hal yang tidak ia sadari, bahwa telinganya telah memerah bagaikan tomat matang yang dijual di pasar-pasar.
"Aku tidak merasakan apapun atau mengingat apapun. Aku tidak bisa... memikirkan apakah ini adalah tempat pertama dimana aku terbangun. Zaidan, apakah ini buruk?"
Zaidan langsung menanggapinya dengan cepat.
"Itu tidak apa-apa, Nina. Kita hanya perlu mendatangi tempat ini keesokan harinya dan seterusnya sampai kau mendapat sebuah ingatan baru," ia mendongak keatas. "Pohon ini memiliki harapan, jadi mari kita letakkan kepercayaan kepada pohon ini. Nina juga harus yakin kepada diri Nina sendiri"
"Aku 'kan membantu Nina sampai akhir."
Sebagai perpisahan, ia menempelkan telapak tangannya pada batang pohon. Dan melepaskannya perlahan.
*Set.
Dibawah bayangan daun yang bergoyang, senyuman Zaidan merekah untuk ditunjukkan kepada Nina.
"Ayo kita pulang"
Ia berjalan dengan cepat mendatangi wanita disana, sambil mengatakan beberapa kata lelucon. Walaupun ia tahu wanita itu tidak akan tertawa, tetapi ia senang bisa melakukannya.
__ADS_1