
Ini adalah hari kedua, dan sekarang interogasi benar-benar selesai. Borgol mengaitkan pergelangan tangan kanan dan kiri pria itu. Sepanjang perbincangan tidak ada pengelakkan, saat pemborgolan 'pun tidak ada pemberontakan. Aneh, bukan? Tetapi ini adalah tahap terakhir, hanya tinggal membawa barang bukti dan maka hukuman akan segera dijatuhkan.
*Prok! Prok! Prok! Prok! ...
Di dalam ruangan yang tak seberapa itu, tepuk tangan penuh semangatnya menggema memenuhi setiap sudut. Dengan pintu yang ditutup, suara itu memantul begitu lama seperti ikut merayakan kelegaan mereka berdua yang ada di dalam sana.
"Ini sangat bagus, Lou Yan! Jika begini, kita bisa terus menjual karya seperti biasanya. Tapi sungguh, di sisi lain aku sebenarnya senang ini tidak sesulit dan selama yang dikira. Fyuhh..."
Lou Yan tersenyum tipis mendengar asistennya kegirangan. Sama seperti laki-laki itu, ia juga menghela.
Kedua matanya selalu menatap lurus ke lukisan buatannya yang dikembalikan oleh pihak kepolisian, dan sekarang benda sebesar setengah dari papan tulis itu boleh dibawa pulang kembali. Karena keadaannya sudah begini, mau tidak mau barangnya akan dijual lagi nanti jika keadaannya sudah mereda, karena Lou Yan sendiri tidak mau menyimpan karya lamanya yang sudah pernah terbeli.
Tetapi, andai masalahnya hanya berhenti sampai di situ.
Semasa perinterogasian yang dilakukan 2 hari ini, ada banyak hal yang menjanggal yang sulit dikatakan apa kejanggalannya. Lou Yan sudah memantaunya dengan teliti, dan sesungguhnya tidak ada kata-kata yang aneh atau 'pun mengganggu. Semua yang dikatakan hanya seputar bagaimana cara dia membunuh putrinya dengan mendorong dari atas tangga lalu bagaimana dia memecat paksa pembantu-pembantu yang sebelumnya bekerja di rumah besar miliknya. Tetapi tetap saja ada yang tidak masuk akal di sela-sela penjelasannya.
Oleh karena itu, ada baiknya ia mencari tahu dan melaporkannya.
"Felix, panggilkan beberapa orang untuk membawa lukisan ini dan suruh mereka menaruhnya di Mansion utara. Kita akan pergi ke Perumahan Merak Merah sekarang."
Asisten muda itu terkejut setelah mendengarnya. Dia berusaha bertanya walau 'pun di genggamannya tersedia Ponsel yang siap digunakan kapan 'pun untuk melaksanakan perintah tadi.
"Kenapa tiba-tiba pergi ke sana?" Kata-kata itu keluar dari mulutnya selaras seperti apa yang ada di kepalanya.
"Kau akan mengetahuinya di sana. Lagi pula, kau ingin sesekali pergi ke Perumahan Merak Merah dari lama, 'kan? Jadi jangan bertanya lagi dan cepat kerjakan"
Sesudah sedikit membenakkan bajunya yang kurang nyaman, Lou Yan melemparkan tatapan memaksa lalu berjalan santai ke arah pintu. Felix mendengus diberikan jawaban yang kurang memuaskan. Meski bibirnya bergumam, tangannya bergerak cepat mencari kontak seseorang di Ponsel-nya kemudian mendekatkan benda itu ke telinganya.
"... Padahal, kepulangan lelaki itu ke Mansion lebih berharga dari kedatangan lukisan ini. Andai lelaki itu tahu." Dari suaranya yang pelan sudah mengungkapkan bahwa dia sebenarnya ingin Lou Yan untuk beristirahat di tempat yang semestinya, yaitu Mansion-nya sendiri semenjak terakhir kali Lou Yan pulang. Dia sangat sedih, tetapi apalah dayanya. Lou Yan sudah memiliki rencananya sendiri yang tak bisa diganggu gugat.
"Halo...?"
Sambil mengikuti Lou Yan yang sudah berjalan menjauh, dia menghubungi rekan lainnya dan meminta mereka datang ke kantor polisi di mana sekarang ia berada dengan mengatakan itu atas perintah atasan. Tidak butuh waktu lama untuk berkomunikasi. Saat sudah berada di luar, telepon penghubung itu langsung mati.
__ADS_1
***
"Felix, apakah kau bisa memakai jalur yang lebih cepat?Sepertinya akan datang hujan"
Di tempat parkiran, Lou Yan berdiri diam menunggu Felix memutarkan mobil. Dia melihat-lihat ke sekitar juga untuk menangkap pemandangan kota dan langit yang gelap seperti akan datang hujan. Namun, memerhatikan awan yang bergerak mengikuti arus angin, sepertinya hujan akan jatuh di pedesaan atau mungkin daerah pedalaman.
"...Felix?"
Lou Yan memanggil untuk kedua kalinya. Tetapi sepertinya Felix tak mendengarnya.
Lelaki itu menoleh ke suatu arah. Suatu energi seolah menariknya dengan kuat, yang membuat ia tidak bisa berpaling dan selalu merasa dipaksa untuk melihat lama ke arah sana.
"Bukankah itu mobilnya? ... Ternyata masih ada di sini"
Lou Yan mendekat dan menunduk untuk melihat bagian dalam mobil itu yang terhalang kaca hitam. Selintas ingatan muncul. Itu adalah ingatan yang buruk. Meski di dalam mobil tampak gelap, namun ada sesuatu yang lebih gelap seperti siluet manusia yang tinggi di sana... Tentu setelah melihat itu untuk kedua kalinya, Lou Yan langsung bisa tahu kenapa interogasi kemarin dan tadi terasa sangat janggal.
Mendengar suara klakson yang nyaring, Lou Yan langsung menjauhkan wajahnya dari kaca mobil itu dan meninggalkannya seperti tak terjadi apa 'pun.
...
"Tidak ada apa-apa, Fel. Memangnya apa yang akan aku lakukan dengan mobil biasa itu?"
Melihat bagaimana Lou Yan menjawab, tidak ada celah bagi Felix untuk bertanya lebih. Akan semakin aneh perbincangannya jika diteruskan, sehingga rasa penasarannya terpendam dan kian menghilang dengan sendirinya karena kefokusan ke jalan raya.
***
Zaidan duduk termenung di sebuah ruangan yang sunyi. Tempat yang pernah ia kunjungi karena suatu perihal, namun terasa asing saat ia duduk di sana seorang diri, dan keadaan yang tidak bisa ia terima itu membuat dirinya ingin cepat-cepat keluar. Di sana, dia mendapatkan minuman hangat dan beberapa perawatan, itu semua berkat guru yang tadi membawa Zaidan, guru itu menyadari wajahnya yang pucat lalu berinisiatif membawanya ke UKS untuk dirawat.
Sebelumnya Zaidan sudah menolak karena berpikir itu tidak penting, tapi ternyata tubuhnya semakin panas setelahnya.
Terduduk di atas kasur UKS, Zaidan mengangkat kepalanya sedikit ke atas dan terlihatlah Nina yang berdiri di depannya. Salah satu tangan wanita itu memegang wajah Zaidan dengan lembut. Zaidan merasakan dingin dari tangan itu dan menikmatinya seolah itu adalah air beku yang berbentuk tangan.
"Dingin, ya?" tanya Nina.
__ADS_1
Zaidan menjawab dengan anggukan yang tidak bertenaga.
"Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba begini. Nina lihat 'kan tadi pagi aku baik-baik saja? Aku jarang sekali sakit dan tidak pernah sepanas ini, rasanya tubuhku seperti terbakar..." ungkap Zaidan.
Dia memang seseorang yang bisa dibilang menjauhi penyakit. Bagaimana 'pun, Vivie tidak suka Zaidan sakit. Ketika awan gelap mendatangkan hujan, seluruh keluarganya menyuruh untuk tidak masuk sekolah, terkadang mereka menyarankan payung jika hujan gerimis. Sejauh ini 'pun tidak ada hujan tiba-tiba di sekolah yang membuatnya sampai berteduh untuk waktu yang sangat lama.
Semua terlalu normal di dalam kehidupan Zaidan. Itu bahkan menjadi seperti tekanan tersendiri...
"Apakah Zaidan tidak merasakan sesuatu yang berubah? Semua energi di sini yang dulu tenang kini tertarik ke Zaidan. Itu sebabnya Zaidan jadi seperti ini" Samar-samar terlihat raut wajah Nina yang semakin aneh. Zaidan pikir itu raut wajah khawatir.
"Energi.. Apa?..."
Tangan Nina terlepas dari pipinya dan berganti mengangkat tangan kanannya ke udara. Di sana Nina menyentuh pergelangan tangan Zaidan menggunakan ibu jari dan membuat lingkaran yang sempurna memutari pergelangan itu, kemudian dia memperlihatkannya kepada Zaidan. Zaidan merasa tidak nyaman karena sentuhan itu terasa lebih dari kata nyata. Kali ini Zaidan menarik tangannya secara paksa.
Ia lalu sadar akan sesuatu...
"Tunggu, gelangku... Bagaimana bisa itu tidak ada?! Aku ingat tidak melepasnya saat mandi" Pikirannya dipenuhi pertanyaan. Ia tersadar lagi, bahwa hal yang sama telah terulang kembali seperti yang terjadi di sore itu.
"Kelihatannya itu sangat 'penting'... " Nina menutup telapak tangannya diam-diam.
"Nina tahu di mana itu jatuh? Apakah di rumah? Semoga saja tidak di sekolah atau di jalan..."
Zaidan mengatakan itu sambil khawatir sebab ia tahu, kemungkinan untuk mendapatkan kembali gelang miliknya itu sangat kecil dan butuh waktu lama. Setidaknya jika di rumah, benda itu lebih aman di tangan Moma atau Bunda jika mereka tidak sengaja menemukannya.
"Itu... Saat Nina menghilang, sebenarnya Nina melihat benda itu dicuri oleh pria yang tadi pagi ada di rumah Zaidan, tetapi Nina tidak tahu jika itu sesuatu yang 'penting', jadi tidak mengambilnya kembali... Nina telah bersalah." Perasaan penuh bersalah terpancar dari wajah wanita itu, kedua tangannya saling menaut di depan tubuhnya yang tinggi. Namun, mata hitam itu selalu mengarah ke Zaidan.
"Ti-tidak perlu meminta maaf, Nina!" Kini rasa bersalah juga menghantam Zaidan.
"Kita semua bisa tidak tahu tentang sesuatu, dan pasti Nina tidak akan terpikir untuk memberitahukan hal itu. Aku tidak kesal kepada Nina sama sekali. Tetapi hanya saja, aku bingung kenapa Tuan itu mengambil gelangku? Itu adalah pemberian Moma, aku telah berjanji menjaganya dengan baik"
Sembari mencoba membuat Nina merasa lebih baik, muncullah sebuah dugaan kapan gelang itu dilepas dari tangannya. Jika memang itu diambil oleh pria yang tadi pagi datang ke rumahnya, itu seharusnya saat Zaidan diberikan sejumlah uang. Dan pertanyaannya adalah... Kenapa gelangnya diambil? Itu bahkan bukan terbuat dari emas atau logam, itu terbuat dari bahan kain lentur yang berwarna hitam. Tidak ada yang istimewah dari itu sebenarnya.
Dan kini, Zaidan pusing bagaimana cara supaya ia bisa meminta barang itu kembali...
__ADS_1
"Begitu, ya... Aku pasti akan mengambilnya untuk diserahkan kembali kepada Zaidan." Dengan intonasi yang tegas, janji itu terbuat.
"... Terima kasih?" Zaidan kehabisan kata-kata.