Guess The Ghost

Guess The Ghost
Halaman 15


__ADS_3

"Makanlah, masih ada beberapa menit sebelum masukan. Seperti kataku tadi, sambil kamu makan aku mau ceritakan keadaan keluargaku saat ini"


Mereka berdua duduk berhadapan. Meski enggan, Zaidan pada akhirnya mau memakan Nasi Goreng yang dibelikan Eja. Ketika ditanya siap mendengarkan atau tidak, Zaidan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan ringan.


"Apa kamu pernah mendengar aku bercerita kalau keluargaku akan pindah rumah? Kurasa saat itu kamu ada di kelas, 'kan? Dalam seumur hidupku, itu pertama kalinya aku melihat ibuku begitu ketakutan. Aku tidak pernah memercayai makhluk yang tidak terlihat ataupun hantu sebelumnya, namun sepertinya, mereka itu benar-benar nyata."


"Ehem!..." Zaidan hampir saja tersedak nasi karena mendengar penuturan itu. Beruntungnya, ia masih bisa membuat wajah senormal mungkin supaya Eja tidak curiga.


...


"Setelah kejadian itu, aku ingin mencari tahu lebih banyak tentang hantu, nah, makanya aku begitu senang saat tahu ada adik kelas yang bisa melihat hantu penunggu pohon di belakang bangunan sekolah ini! Sayangnya, mereka tiba-tiba dikeluarkan dari sekolah, bahkan aku belum sempat berbicara dengan mereka," ia berhenti berucap dan beralih memakan Nasi Goreng-nya.


Zaidan termangu.


Ia tak percaya dua pelajar itu dikeluarkan, dan dengan alasan apa jika mereka memang dikeluarkan??


"Bagaimana bisa mereka dikeluarkan? Mereka tidak melakukan hal-hal yang melanggar aturan, bukan?" Tidak mungkin mereka dikeluarkan karena pura-pura tidak sadarkan diri saat menerima hukuman. Zaidan berpikir begitu.


Eja lalu mengatakan semua yang ia tahu secara singkat kepada Zaidan, termasuk membenarkan pertanyaannya tadi, "Benar. Aku pernah menanyakan itu kepada Bu Anni, guru bahasa kita. Alasan mengapa mereka berdua dikeluarkan karena melanggar aturan, tetapi dia tidak menjelaskan aturan apa yang dilanggar mereka saat itu... Apa kamu berpikir hal yang sama denganku kalau mereka dikeluarkan karena alasan lain?" ia berbisik pelan.


"Aku tidak tahu juga..." Zaidan menunduk.


Zaidan takut jika kata-kata yang keluar dari mulutnya akan menjadi perhatian baru bagi seluruh orang di sekolah. Ia tak begitu percaya kepada orang yang ada dihadapannya, dan juga tidak percaya kepada orang-orang selain dirinya sendiri, bisa saja orang-orang di sekitaran kantin yang terlihat tidak peduli itu mendengar perkataannya lalu ia akan dikeluarkan dari sekolah seperti 2 gadis kemarin. Ia merinding.


'Aku harus menyelesaikan ini dan tidak lagi berbicara dengannya. Aku tidak yakin perbincangan ini murni hanya sebuah 'perbincangan'" ia menggenggam erat sendok plastik yang digunakannya untuk makan tadi.


Zaidan mendongak dengan yakin. Ia hanya ingin mengatakan bahwa ia tidak bisa melanjutkan makan berdua ini, tetapi kata-kata yang sudah ia siapkan itu tidak bisa ia keluarkan karena terkejut melihat Nina yang berdiri diam dibelakang Eja.


Zaidan kebingungan.


"Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu karena rumah yang sekarang dimiliki pamanku tiba-tiba menjadi aneh. Ketika tengah malam, ibuku selalu mendengar suara-suara keributan di dapur. Itu benar-benar aneh karena tidak ada orang sama sekali yang masih bangun pada malam itu, dan juga setiap ibuku ada di dapur, gelas selalu tiba-tiba terjatuh dan melukainya"


"Itu tidak terjadi kepadaku dan keluarga lainnya. Aku takut jika hal-hal aneh itu bisa mencelakai ibuku lebih dari yang sekarang, jadi aku ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."

__ADS_1


Zaidan merasakan sesuatu yang berat di hatinya. Ia senang ternyata ada orang yang mau makan bersamanya, tapi ketika mendengar cerita dari orang yang jauh dari lingkungannya di mana Zaidan dan orang itu seperti bulan dan matahari, ia mulai merasa resah. Seharusnya dia juga merasakannya. Mereka tidak saling mengenal dan hanya bertemu dua kali, hanya dengan pertemuan singkat itu apakah cukup untuk bisa saling bercerita masalah pribadi?


"Lalu apa yang kamu maksud dengan membutuhkan bantuanku? Apa kamu yakin mau meminta bantuan dariku?" ia bangkit dengan sendok yang masih berada di genggamannya.


Awalnya Eja tampak kaget, tetapi kemudian tertawa seolah melihat sesuatu yang lucu dari Zaidan.


"Tenang, tenang... Duduklah, aku tidak ingin memaksamu. Aku ingin kamu ikut denganku melihat-lihat rumah pak Helman lebih seksama, karena kupikir kamu tertarik untuk melihat hantu-hantu seperti uji kenyalian"


"Aku selalu berpikir seseorang yang penyenderi selalu unik, mereka bisa saja memiliki hobi yang tak biasa, oleh sebab itu aku mengajakmu. Apakah kamu mau?" dia tersenyum percaya diri dan menyodorkan tangannya di atas meja, mengajak yang dia anggap temannya itu untuk bekerja sama.


"Tidak ada yang berubah meskipun kamu menolaknya, kita akan tetap menjadi teman, jadi jangan menerimanya karena tertekan, baik?" begitu kata Eja.


Bagi Zaidan, ini pilihan yang sulit. Ia tidak ingin mencampuri masalah orang lain, tetapi tidak ingin juga menyakiti hati siapapun, dan karena Eja terlihat bersungguh-sungguh dengan niatnya, untuk sekali lagi ia menjawabnya dengan kata yang ragu-ragu karena sebenarnya ia bimbang untuk membuat pilihan.


"Kalau aku mau menerimanya... Dengan bagaimana aku bakal membantumu?" ia melirik uluran tangan Eja yang membuatnya teringat pertama kali mereka saling berjabat tangan.


"Mungkin dengan pengetahuan yang kami punya? hmm, aku belum memikirkannya, tetapi kalau kau sudah siap, nanti akan aku pikirkan."


...


Semua pelajar yang ada di kantin segera pergi dengan terburu-buru untuk mengejar jam pelajaran berikutnya, beberapa dari mereka bahkan belum sempat menghabiskan jajanan, tak terkecuali Eja dan Zaidan yang terlalu sibuk berbincang hingga baru memakan sedikit Nasi Goreng mereka. Eja langsung berdiri dan mengangkat piring yang terbuat dari plastik itu dan membawa benda tersebut bersamanya.


"Aku akan menunggu jawabanmu besok, ya! Katakan jika kamu tertarik dengan ajakanku" kata Eja dengan gembira.


Namun, ucapan 'menunggu jawaban' itu tidak membuat Zaidan merasa senang sama sekali.


... "Ayo, Nina. Kita juga harus kembali."


Zaidan mengantar Nina ke belakang gedung sekolah terlebih dahulu dan meninggalkan wanita itu di sana. Ia berusaha tidak menghiraukan apa yang tadi terjadi dan berniat akan membahasnya ketika pulangan. Ia juga tidak lupa untuk membawa Nasi Goreng yang tidak terhabiskan, merasa bahwa sebaiknya ia menghabiskannya saja nanti dari pada membuang atau mengembalikannya utuh-utuh kepada bu kantin. Saat itu ia memiliki ide untuk meninggalkannya bersama Nina.


Usai jam pelajaran terakhir, semua pelajar yang hanya bertotalkan 19 itu memasukkan segala jenis alat belajar mereka ke dalam tas masing-masing.


Pak guru keluar dari ruangan. Disaat yang sama, semua pelajar berdiri dan hendak keluar dari ruangan itu juga, namun mengejutkannya, ada suara sesuatu yang jatuh begitu keras di ruangan itu. *BRUKK.. Semuanya langsung menoleh ke sumber suara yang ternyata itu adalah Eja.

__ADS_1


"EJAA??"


Zaidan mendengar teriakan teman-teman sekelasnya. Ia terkejut juga melihat Eja yang dikerumuni banyak orang, Ia ingin mendekatinya tetapi dia urungkan aksinya saat melihat anak kecil yang berjongkok tepat di atas meja Eja.


Itu adalah 'sesuatu' yang SANGAT jelas terlihat tetapi tak ada satu 'pun orang yang ada di dekat sana yang menyadarinya, Zaidan jadi meragukan apa yang sekarang ia lihat.


'Sepertinya aku pernah melihatnya... Itu bukan manusia, bukan?'


Zaidan terjebak di tempat. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya maupun menggerakkan kakinya. Ia tidak peduli lagi dengan teman-temannya, ia hanya ingin pergi dari tempat itu secepat mungkin, tetapi tubuhnya menolak. Seakan mendengar isi hatinya saat ini, sosok yang tidak diketahui siapa itu menoleh perlahan-lahan dan melihat lurus ke arah Zaidan pada tepat di matanya.


1...


2...


3...


Beberapa detik mereka bertukar pandang tanpa mengedip membuat Zaidan merasakan panas pada kedua matanya. Dan ia tidak menyukai perasaan itu. Dengan manusia saja ia takut, apalagi dengan sosok seperti itu...


"Uhuk... ukh... "


Anak kecil itu menunjuk Eja yang pucat pasi. Zaidan yang akhirnya bisa mengalihkan pandangannya lalu mencondongkan wajahnya ke kanan dan berusaha memejam. Sedangkan kakinya tetap kaku.


"Kamu seharusnya mendengarkan kata-kata ku saat itu. Jangan bilang kau masih tidak mengerti... Aku 'kan sudah bilang, dia ini bisa membantu temanku di sana yang sedang kesakitan... Hadap sini, dong"


"Kau terlalu susah untuk dibuat mengerti. Tolong ingat baik-baik kejadian ini..."


Suara yang terdengar datar tetapi penuh penekanan itu menghilang, perasaan Zaidan juga semakin membaik dan di saat itulah ia baru berani membuka pejaman matanya. Ia melihat Eja yang terduduk di kursinya sembari menatap balik dirinya dengan wajah yang tampak tak berdaya.


Kelihatannya hanya dirinya yang melihat sosok tadi. Ia jadi teringat sesuatu, sebelumnya sosok itu pernah tidak sengaja bertemu dengannya di belakang sekolah, ia tidak yakin kenapa bisa begitu tetapi setelah mengurutkan setiap kata-kata dari pertemuan awal sampai yang baru saja terjadi, ia tahu bahwa sosok itu adalah arwah yang tidak tenang sama seperti Nina.


'Hanya jenisnya yang sama, sifatnya tidak sama sekali, kasar" batin Zaidan.


Meskipun bentuk sosoknya tidak begitu menyeramkan dari pada melihat sosok besar yang gelap, tetapi bagaimana 'pun anak kecil itu pernah menembus tubuhnya dan seolah mencabik-cabik jantungnya.

__ADS_1


Zaidan hanya bingung kenapa dirinya seperti dipaksa untuk membantunya, dan terlebih kenapa masalahnya bersangkutan dengan Eja, bahkan sepertinya sosok itu tidak segan-segan untuk melukai seseorang...


__ADS_2