
Pagi 'pun mendatang. Kedua matanya terbuka sedikit dengan tangan kanan yang terangkat ke dahi. Saat menoleh ke kiri, ia melihat kain merah yang terletak di atas meja belajarnya. Di sanalah Keris berada, yaitu di dalam lipatan kain itu.
Mengingat perbincangannya kemarin, ia tersenyum hingga kedua matanya menyipit. Rasa semangat membuatnya ingin segera bangkit dari kasurnya.
...
*Byurr... Di dapur Vivie mencuci wortel yang masih banyak pasir menggunakan air bersih lalu setelah airnya mulai menjadi keruh, dia membuangnya.
Langit saat ini tampak gelap dengan awan-awan yang hitam dan menggumpal, masih tidak jelas apakah hari ini akan datang hujan seperti hari kemarin atau tidak. Tetapi tetap saja, anak itu bersikeras memohon.
Vivie bingung dengan isi kepala anaknya. Yang seharusnya hari ini menjadi hari yang menyenangkan, berubah menjadi menyebalkan karene akibat dari makhluk itu.
***
"Pergi ke lapangan?" Wanita itu menoleh dengan tatapan yang tidak suka.
"Umhh.. Iya. Moma kemarin bilang, tidak apa-apa untuk membawa Nina ke luar untuk jalan-jalan... Aku pikir Bunda juga tidak keberatan. Tetapi kalau tidak diperbolehkan juga.. tidak apa-apa" Zaidan berpasrah. Ia tahu bahwa ia tidak akan bisa membantah perkataan bundanya jika dia tidak memperbolehkan.
—
Kemarin saat akhir perbincangan mereka di ruang tengah, Kesti mengatakan sesuatu yang butuh waktu lama untuk Zaidan pahami. Itu mengenai Nina yang katanya telah mengalami kemajuan dalam mengingat hal-hal. Zaidan antara senang dan bingung semua bercampur aduk. Kemajuan seperti apa? Bahkan ia yang sudah mengajak Nina pergi ke sana-ke mari tetapi tetap tidak menyadarinya.
Kesti lalu menjelaskan jika seharusnya Nina tidak mampu mengingat nama manusia dengan baik. Karena Nina adalah makhluk yang hanya ada karena arwahnya terikat dengan sesuatu. Kesti juga berkata bahwa Nina pernah menyebut "Moma" Dan "Bunda Zaidan" Saat sosok itu berada di dekat Kesti dan Vivie.
Kesti yakin, bahwa ini karena Zaidan yang sudah sanggup membimbing Nina, karena hal kecil seperti mengingat nama akan sangat berpengaruh untuk tujuan utama mereka.
Sekarang, Zaidan hanya diperintahkan Kesti untuk terus mengajari Nina tentang kehidupan manusia secara 'pelan-pelan' sembari mencari tahu identitas asli wanita itu... Tak banyak yang Zaidan pikirkan saat itu. Semakin cepat maka semakin baik. Tak lupa Kesti juga menyuruh cucunya tersebut untuk mengajak Nina melihat-lihat keadaan perumahan di sekitar sana jika dibutuhkan. Dengan syarat tetap mengikuti aturan yang tersedia.
Saat akhir perbincangan 'pun masih ada Vivie di ruang tengah itu. Tetapi sepertinya tidak akan semudah itu untuk membuat ibu muda itu berhenti terlalu mengkhawatirkan Zaidan. Perlu diingatkan kembali bahwa Zaidan adalah putra satu-satunya yang ia miliki saat ini.
***
"Sudah, Zidan. Kau tidak perlu ikut campur dengan masalah wanita itu. Akan lebih baik Zidan memikirkan tugas sekolah, pulang, dan melakukan kegiatan seperti biasa. Itu sudah cukup 'kan? Moma lah yang akan mengurusi selebihnya, jadi jangan sampai kamu sakit lalu Bunda akan mengeluarkanmu dari sekolah karena itu" Tanpa memedulikan kepentingan Zaidan, Vivie menolak permintaan itu.
Wanita itu berbalik dan meneruskan kegiatan mencuci bahan masakan yang akan dia siapkan untuk Kesti.
"Hufff...." 'Bagaimana lagi?... Jika aku tidak sekolah, maka akhirnya akan lebih buruk'
Zaidan tidak begitu berharap kepada bundanya, tapi, tidak bisakah pemikiran wanita itu berubah? Zaidan takut untuk meminta Kesti agar membujuk Vivie. Dan Zaidan juga takut untuk menghadapi Vivie lagi dengan pertanyaan yang sama. Ia sungguh berharap semoga ia memiliki alasan yang lebih kuat supaya bisa mendapatkan izin itu demi Nina.
Zaidan menggelengkan kepalanya. Ia harus menjadi anak baik yang tidak keras kepala dan meminta perizinan itu lain kali di waktu yang tepat.
Ketika sedang sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri, Zaidan mendengar suara Kesti yang terdengar samar-samar, seperti sedang berbicara sendiri. Zaidan mau 'pun Vivie menengok.
__ADS_1
"Pagi-pagi tidak baik cemberut begitu" Kata Kesti yang sepertinya baru pulang.
Sejak pagi buta, Zaidan tidak melihat Kesti sama sekali. Kata bundanya, Kesti sedang pergi mencari orang untuk memperbaiki atap rumah yang bocor. Hal itu langsung dimengerti karena sepertinya hujan akan turun lagi. Tetapi yang membuat Zaidan sedikit heran adalah beberapa perabotan yang hilang tanpa ia sadari. Padahal malam tadi tampaknya barang-barang masih berada di tempat biasanya.
"Siapa yang cemberut, Moma?" Alisnya terangkat, seperti ia tidak mendapatkan ide sama sekali tentang orang yang dimaksud Kesti.
"Ya, tentu saja kamu, nak. Siapa lagi jika bukan Zidan?"
Zaidan tersentak, perasaan aneh 'pun mulai muncul.
Walau 'pun Moma terlihat jarang tersenyum dan tenang, tetapi kenyataannya dia adalah salah satu orang yang memiliki senyuman hangat dan paling bisa menebak perasaannya. Sehingga ketika wanita itu sekali melontarkan kata-kata yang menunjukkan kepeduliannya kepada Zaidan, pemuda itu akan tersenyum tiba-tiba.
"Omong-omong, Zidan. Apa ada masalah diantara kamu dan wanita ini?"
Sesosok wanita muncul dari belakang tubuh Kesti. Seperti biasa, wanita itu memakai pakaian putih panjang yang bersih dengan potongan leher yang berbentuk U. Rambutnya yang terurai juga persis seperti terakhir kali. Tidak ada yang berubah sama sekali. Selalu sama.
"Moma menemukannya di halaman rumah sebelah. Moma pikir ada masalah yang terjadi, karena malam tadi juga dia tidak terlihat di rumah ini" Kesti menatap Zaidan. Tentunya pertanyaan tadi juga bertuju kepada pemuda itu.
Dengan gugup Zaidan berkata yang sebaliknya dan sebisa mungkin menghindari topik itu tanpa ada niat berbohong, "Tidak, kok! Tidak ada hal serius yang terjadi... Mungkin saja perkataanku pernah membuatnya tidak suka. Jangan khawatir, Moma"
Tak mau kalah bincang, Kesti kembali bertanya, dan pertanyaan akhir ini langsung membuat Zaidan tidak bisa mengelak.
"Perkataan apa yang sampai membuat dia 'seolah' tidak suka?"
"Emm... Sebelum Moma dan Bunda duduk bersamaku di ruang tengah, aku sempat memujinya cantik karena dia terlihat seperti bukan orang Indonesia. Mungkin saja perkataanku itu terlalu tidak sopan"
Kesti tidak kembali membuka mulutnya setelah mendengarkan penjelasan Zaidan. Dia hanya mengingatkan kepada anak laki-laki tersebut, bahwa, jam menunjukkan pukul 7 kurang 20 menit. Karena sebelumnya Zaidan sudah sarapan, Zaidan langsung meminta maaf harus segera pergi kemudian cepat-cepat mengecup punggung telapak tangan dua wanita itu. Pertama Kesti, lalu Vivie.
Tangan lincahnya langsung mengambil tas berwarna hitam miliknya yang tergantung pada kursi makan, lalu menunduk melewati Kesti. Nina yang sepertinya sudah tidak mempermasalahkan kejadian kemarin berjalan keluar mengikutinya.
...
Zaidan sungguh tidak enak hati karena kajadian kemarin. Itu juga yang membuat tidurnya tadi malam tidak nyenyak, dan sekarang wanita itu masih mengikutinya yang membuat Zaidan sungkan untuk berbicara dengannya.
"Eh, jadi kamu itu adalah cucunya Nyonya Kesti, ya?"
Zaidan terkaget. Pria itu berdiri dari kursi tamu dan menyapa Zaidan yang baru saja lewat.
"Kalau tidak salah namamu Zaidan, 'kan?"
Di ruang tamu, Zaidan dan pria asing itu saling bertatapan.
Nina yang tahu ada seseorang di sana langsung menghilang terbawa angin yang masuk.
__ADS_1
"Ha.. halo Tuan! Maaf saya tidak melihat ada seseorang di sini, jadi saya langsung lewat begitu saja..." ia menunduk malu. Di dalam hatinya ia bertanya-tanya siapa pria ini yang mengenal namanya tetapi tampak terkejut mengetahui bahwa ia adalah cucu dari Kesti.
Apa mungkin dia adalah seseorang yang dibawa untuk memperbaiki atap rumah? Ini membuat Zaidan mengingat pertemuannya dengan tamu yang pertama Zaidan lihat. Seakan memori itu melekat di benaknya. Jika dipikirkan, tamu yang datang ke rumah itu bisa dihitung menggunakan tangan dan Zaidan masih mengingat mereka. Dan yang terakhir kemarin adalah lelaki luar negeri itu.
...
"Apa kamu tidak ingat pernah melihatku di suatu tempat?"
Pria asing itu mendekati Zaidan yang berada di ambang pintu. Suasana sangat canggung saat anak laki-laki itu tidak bersuara untuk waktu yang lama.
"...Maaf, saya tidak tahu."
"Tapi, kamu kenal dengan Eja, 'kan?"
Zaidan mengalihkan pandangannya 'tuk berpikir sejenak.
'Eja... Jika aku tidak salah itu adalah nama laki-laki itu, ya??'
Meski 'pun Zaidan tahu, ia memilih untuk tidak menjawab. Dan pria itu yang menyadari sikap diamnya malah tersenyum sembari menyelipkan sesuatu ke genggaman tangannya.
"Saya adalah pamannya, dan saya pernah bertemu dengan kamu saat pengambilan rapot. Di sana kamu kelihatan sendirian makanya saya bisa mengingatmu"
"Ini, ambil lah. Apa kamu tahu kenapa di sini begitu dingin? Saya rasa sebentar lagi akan hujan"
Mata yang berpaling seketika tertarik, dan kembali lagi bertatapan dengan pria itu. Zaidan bingung karena udara dingin yang dikatakan pria itu benar, dan itu baru terasa sekarang.
"Engg...."
"Kertas du-dua puluh ribu?"
Benar. Sesuatu yang diberikan oleh orang asing itu adalah selembar uang 20 ribu yang membuat Zaidan membulatkan kedua matanya.
"Iya, saya baru tahu kalau kamu cucunya Nyonya Kesti."
"Tuan! Maaf sebelumnya, tetapi saya tidak bisa menerimanya. Tolong ambil kembali saja...!"
Ia berusaha menyodorkan kembali uang itu, tetapi tidak diterima dengan alasan yang baginya membingungkan.
"Tidak apa-apa, saya juga tidak mau menerimanya lagi. Jika kamu tidak akan menggunakannya, bukan 'kah lebih bagus ditabung?"
...
Ini sungguh membingungkan... Mengapa ada seseorang yang memberikannya uang tanpa sebab dan berkata bahwa jika ia tidak menggunakannya akan lebih bagus ditabung? Apa maksudnya? Mengapa juga orang itu memberikan sesuatu kepadanya seolah sudah dekat, padahal ia sendiri tidak tahu siapa orang itu.
__ADS_1