Guess The Ghost

Guess The Ghost
Halaman 7


__ADS_3

Ia tetap akan membantu wanita itu seperti apa yang dia inginkan. Mungkin saja itu membutuhkan waktu yang lama, bisa berhari-hari..berbulan-bulan... namun ia pastikan bahwa pada suatu hari nanti, Nina akan damai dialamnya.


Walaupun begitu, sekarang ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan selagi hari ini diumumkan ada rapat guru yang berarti semua pelajar akan pulang lebih cepat dari biasanya.


"Nina, Jika aku memiliki kesalahan, tolong beri tahu aku karena aku terkadang tidak sadar diri kalau aku barusan membuat kesalahan... aku minta maaf. Aku benar-benar ingin membantu mu"


"Maka dari itu, mulai saat ini mari kita bekerja sama."


ia mengangkat dagunya. Ia tidak tahu seberapa jelek raut wajahnya saat ini karena matanya berkaca-kaca, tetapi gagahnya, ia sangat percaya diri saat menatap kearah Nina.


Bola mata miliknya yang hitam pekat dan bola mata cokelat milik Nina saling bertemu. Sejenak mereka menikmati sesi pandang-memandang itu, tetapi tak berselang lama, terlihat sudut bibir Nina sedikit terangkat yang membuat Zaidan termangu.


"Oh..."


*set.


Wanita tersebut mengangkat tangan kirinya yang memiliki kuku panjang, dan menerapkan telapak tangan nya mengarah keatas. Disana Zaidan tiba-tiba mengingat kejadian saat tangan itu menyentuh ke kaca jendela ruang tamu.


"Itulah sebuah jawaban."


"Kalau begitu.. aku akan menantinya..."


. . .


Pada saat sarapan, Zaidan sekali bertanya kepada Kesti kapan dan dimana dia menemukan nyonya hantu. Lalu sungguh tak terduganya, Kesti menjawab dengan kata-kata yang sama, yaitu "Pohon besar" saat menuju ke rumah Bi Dila. Ketika Zaidan kembali bertanya dimana pohon itu terletak, Kesti malah mengatakan bahwa ia lupa tentang itu.


Semuanya jadi semakin rumit karena semua pernyataan mengarah ke berbagai arah.


Walaupun sudah ditanya berkali-kali, Kesti pasti tidak menjawabnya dengan alasan lupa, dan bahkan dia menyuruh Zaidan untuk mencari informasi lain selagi dia berusaha mengingatnya.


Momanya sangat tidak dapat diandalkan saat ini. Sungguh.


Tetapi ada beberapa hal yang dikatakannya yang bisa jadi penting, yaitu, "Apa Zidan tahu? setiap makhluk tidak tenang seperti mereka, memiliki sifat yang berbeda-beda. Diantaranya akan menunjukkan 'reaksi' aneh ketika melihat atau membicarakan sesuatu mengenai kematian nya. Itu bisa membantu mu, yakni dengan menggunakan insting perasaan mereka."


Dan pernyataan inilah yang menjadi penguat keteguhan Zaidan. Dan bahkan tak akan ada yang bisa dengan mudah merobohkan keteguhan itu sekarang.


. . .


Nina menurunkan tangan nya kembali.


"Kamu terlihat sangat penasaran dengan makanan ini"


"apakah belum pernah melihatnya di 'dunia' ini?"


Ia selalu merasa jika Nina selalu memerhatikan sosis ditangan nya. Ia menjadi tidak enak hati, oleh karena itu Zaidan menyodorkan tusuk sosis tersebut dan menunggu tanggapan dia.


"Zaidan tidak tahu alasan kenapa Nina tidak menemui Zaidan?"


"Eh, ke.. kenapa?"

__ADS_1


Ia tetap mengangkat tusuk itu meski Nina terlihat tidak sama sekali berniat mengambilnya.


"Nina tidak suka bawang. Apakah Zaidan tidak tahu itu?",


"Di makanan yang Zaidan pegang itu... terdapat bawang."


Mendengar itu Zaidan sangat terkejut.


"eh... kamu tidak suka bawang???, bagaimana bisa kamu tahu di sosis ini ada bawangnya?" 'Aku bahkan tidak menyadari itu..'


Memerhatikan nya saja memang tidak akan kelihatan, tetapi jika seseorang yang sering memakan sesuatu dengan saus tomat... pasti tahu bahwa salah satu campuran saus tomat adalah BAWANG agar rasanya lebih sempurna. Dan kebetulan sosis yang dijual dikantin sekolah adalah sosis matang yang diberi saus tomat diatasnya.


Nina yang sudah tahu kalau Zaidan akan terkejut, terlihat bisa memaklumi reaksi itu.


"Ternyata memang tidak tahu, ya?"


"Itulah mengapa Nina tidak bisa berada disekitar Zaidan, karena dirumah Zaidan selalu memotong bawang. Jika aku tetap memaksa masuk, seluruh tubuhku akan mulai terasa sakit..."


"Dan saat itu Zaidan langsung masuk kedalam tanpa menunggu Nina, jadi Nina hanya bisa berada diluar"


"..."


Ia sangat merasa bersalah telah meninggalkan Nina, dan sekarang Zaidan juga baru mengetahui bahwa wanita itu bukan menghilang, tetapi hanya tidak bisa mendekati Zaidan yang berada di dalam rumah karena harus menjauhi bau bawang.


"lalu... apakah Nina sendiri yang mematikan lampu belajar Zaidan tadi malam?"


Seakan dia tidak menduganya, wanita itu tersentak dan membulatkan matanya di antara helai-helai rambutnya.


Dalam diam, Zaidan tersenyum miris.


Bukan hanya beberapa hari terakhir bundanya memasak makanan yang mengandung bawang, bahkan sebelum-sebelumnya 'pun segala makanan kebanyakan memakai bawang. Namun, kali ini berbeda. Sekarang ada 'tamu' yang bagaimanapun juga harus diperlakukan baik.


Dan oleh karena hal tersebut, Zaidan menjadi kepikiran untuk mengenal tentang Nina terlebih dahulu yang sekarang bisa selalu bersamanya, dari pada mencari cara untuk mengetahui penyebab kematian dia.


..


"Aku tidak melihatnya, tetapi aku sekilas mendengar suara tombol yang dipencet. Dan paginya aku bertanya pada bunda, tetapi katanya dia tidak masuk ke kamarku malam tadi"


"Nah, kalau begitu, siapa lagi jika bukan Nina?"


"ohh, begitu ya.."


"Hah, Nina, kemarilah!", Zaidan menepuk-nepuk ruang kosong disebelahnya. "Jika tidak salah, kau berdiri disitu dari pagi, ya??"


Meskipun hantu sekalipun, tidaklah mereka bakal bosan jika berdiri di satu tempat untuk waktu yang cukup lama?.


Tanpa basa-basi lagi, Nina langsung mendekat dan berdiri sebentar didepan pemuda tersebut, sebelum akhirnya teduduk dengan posisi kaku.


"Eh! apa Nina tidak apa-apa jika berdekatan dengan bawang??, kata Nina, Nina akan merasakan sakit", spontan Zaidan menjauhkan tusuk sosisnya dari Nina. Namun jauh dari itu, Nina malah kembali tersenyum manis menanggapi kekhawatiran Zaidan.

__ADS_1


"Kenapa Zaidan begitu takut?, itu adalah bawang yang berbeda. bau yang dikeluarkan ini lebih halus"


Zaidan berpikir sejenak.


"Jadi, yang membuatmu kesakitan adalah bawang merah yang baunya lebih menyengat?"


"Hum? bawang merah...?"


"Nina rasa begitu."


Zaidan lalu menghembuskan nafas lega.


Perasaan bersalah dan kekecewaan kepada dirinya sendiri sudah mulai menurun. Namun masih tidak dengan kebingungan nya dengan pria bernama Luo Yan yang pagi ini mendatangi rumah keluarganya, dan bahkan menggenggam tangan Nina saat berada didepan pintu.


Zaidan ingin langsung menanyakannya, tetapi saat melihat wajah melamun Nina yang memerhatikan langit... Zaidan menjadi tidak memiliki tenaga untuk mengatakannya.


Ada hal pula yang perlu dibicarakan dengan kedua orang tua nya(Kesti, Vivie) yang berkaitan dengan masalah Nina yang tidak bisa tahan dengan aroma bawang. Zaidan ingin mendiskusikan ini agar Nina bisa tinggal bersama dengan keluarganya dengan tenang.


*hemm...!


Ia mulai menghirup udara dengan panjang, dan menikmati ketenangan ini yang seakan tidak ada duanya.


"Zaidan...."


Karena tiba-tiba menghirup terlalu kencang, Nina bahkan sampai terkejut dan langsung menoleh. "Hahaha! apa Nina kaget?",


Karena dirasa sudah cukup lama mereka berada di tempat itu, Zaidan memutuskan untuk pergi ke kelas dan mengambil tas nya sekaligus memastikan keadaan, kemudian mengajak Nina pulang. " Tunggu disini sebentar, aku ingin mengambil tasku"


"Tunggu Zaidan!"


Saat baru melenggang pergi, Nina dengan cepat menarik lengan seragam Zaidan.


Dan itulah pertama kalinya ia merasakan tarikan Nina yang terasa nyata dan kuat.


"A.. ada apa, Nina?" Diantara bingung dan terharu, Zaidan menjadi tidak fokus ketika mengucapkan kata-kata nya, hingga terdengar terbatah-batah.


"Apa benar kita akan pulang?" Wajah wanita itu seketika menjadi lesu.


"ee.. lalu kemana seharusnya kita pergi jika bukan kerumah?"


Dia tidak menjawab. Tetapi meskipun begitu, dia tetap tidak melepaskan tangannya dari seragam Zaidan. Sampai pemuda itu hanya bisa berpasrah.


"Baiklah, baiklah... Apakah ada tempat yang Nina ingin kunjungi?". Dengan wajah yang bersinar-sinar, Nina langsung menyarankan pohon besar yang kemarin mereka lihat.


Tentu saja Zaidan langsung bertanya kenapa harus tempat itu. Dimana itu adalah tempat yang kemarin baru terjadi inti kegaduhan. Jika ada seseorang yang melihat dirinya dan Nina disana, entah kegaduhan semacam apa lagi yang akan terjadi...


Tetapi jawaban Nina ternyata lebih sederhana dari yang Zaidan pikirkan. "Nina hanya terpikir pohon yang sama seperti pohon yang saat itu", dia menarik tangannya.


"Jadi karena itu?"

__ADS_1


"Kalau begitu tunggu disini sebentar, ya. Aku akan mengambil barang-barang ku dulu, baru mengajakmu kesana." Zaidan 'pun memberikan lambaian tangan, dan lalu berlari secepat mungkin meninggalkan Nina yang kembali tidak bergerak dengan tatapan yang kosong. Tanpa kesedihan, kekecewaan, ataupun kebahagiaan.


__ADS_2