
Tok, tok... Tok, tok....
Suasana menghening, baik Zaidan atau 'pun Nina tidak berani berbicara. Mereka hanya bertatap-tatapan hingga suara yang berasal dari luar itu berhenti.
"Itu adalah teman Zaidan yang waktu itu," bisik Nina kepada Zaidan.
'Teman?'
Zaidan menatap Nina keheranan. Ia bertanya-tanya bagaimana wanita itu bisa tahu, sedangkan pintu dari awal sudah tertutup.
Meski ia bisa menghampiri dan melihat langsung siapa yang ada di luar, tetapi ia tidak mau melakukannya. Terselip rasa takut yang membuatnya memilih untuk tetap duduk.
"Halo... Siapa yang di luar?"
Pintu yang tidak tekunci itu bergerak ke dalam. Ketika sudah terbuka, terdengar suara ricuh pelajar-pelajar yang beristirahat. Bersamaan dengan itu seorang laki-laki muncul dari belakang pintu dengan membawa sebuah tas hitam, tas yang terlihat familier bagi Zaidan. Jika ia tidak salah... itu adalah tasnya.
Dengan gerakan yang lambat, dia merapatkan pintu supaya Zaidan tidak merasa terganggu oleh keadaan di luar.
"Halo juga.. Maaf aku masuk tiba-tiba," ia menyapa dan mendekat.
"Tidak masalah. Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?"
Zaidan melirik tas yang dipegang Eja. Seolah tahu, Eja langsung menyodorkan tas tersebut dengan senyum yang lebar. Tapi bagi Zaidan, tingkah Eja yang seperti itu terlihat tidak biasa.
"Bu Laras menyuruhmu untuk pulang karena mendengar kondisimu yang tidak baik. Aku di sini mau memberikan tasmu sekaligus ingin melihatmu. Apa panasnya masih berlangsung?" Dia meletakkan tas itu di sebelah Zaidan dengan niat ingin berbincang lebih lama sebelum Zaidan benar-benar pulang.
"Aku rasa panasnya menurun... Oh, ya. Terima kasih sudah mengantarkan tasku, sebenarnya aku tidak apa-apa jika melanjutkan jam berikutnya"
Zaidan meyakinkan Eja seperti yang dilakukannya kepada guru tadi.
"Mana bisa begitu, Zaidan. Kau tetap harus pulang. Malah jika kamu lanjutkan, kondisimu akan semakin parah," paksanya.
Zaidan tersentak. Tidak dapat dipungkiri kalau Ia sebenarnya tahu siapa Eja di pandangan orang-orang sekitarnya, dari awal juga Zaidan tahu jika dia adalah anak yang dikenali seluruh orang di sekolah. Zaidan tentu akan sangat curiga jika orang seperti itu tiba-tiba mencoba mendekati dirinya. Berkali-kali dipikirkan, sangat sulit untuk memercayainya.
Namun, tidak seperti kemarin yang terlihat santai, saat ini laki-laki itu terlihat seolah ingin memberitahukan sesuatu yang tidak bisa langsung diucapkan.
Dan kali ini Zaidan mencoba mengatakan sesuatu yang bakal membuatnya tertarik.
"Aku sudah tidak apa-apa. Daripada itu... Tidak bisakah kita membicarakan soal kemarin secara rinci? Kebetulan paman Eja tadi pagi ada di rumahku, dan beliau mengatakan kalau Eja adalah keponakannya" Zaidan mengatakan itu sepelan mungkin agar kata-katanya terdengar jelas dan tidak terbelit lidah karena gugup.
__ADS_1
Ini adalah pertama kalinya ia mengungkit masalah itu, dan sebuah reaksi diterima olehnya.
"Pamanku...?" alisnya mengerut seolah tak percaya.
"Aku tidak tahu jika pamanku akan ke rumahmu, apa dia menceritakan masalah dirumahnya seperti yang pernah aku ceritakan?"
Awalnya Zaidan masih tidak percaya jika pria itu adalah paman dari laki-laki yang sekarang ada dihadapannya. Tetapi setelah mendengar pengakuan langsung darinya, berarti tidak salah lagi.
"Tidak... Dia hanya menberikan sejumlah uang. Aku bisa memberikannya kembali kepadamu, jika kau mau"
"Apa?" Eja menghela napasnya, "Mengapa pula aku mengambil uang yang sudah diberikan untukmu? Simpan saja. Pamanku memang suka memberikan orang lain uang saku tambahan tanpa alasan, itu hal yang biasa dilakukan orang dewasa jadi, tidak usah bingung kenapa dia memberikannya tiba-tiba"
"Lain lagi jika dia memintamu melakukan sesuatu."
Zaidan mengangguk-angguk mengerti. Tapi ia masih tidak lupa oleh siapa gelangnya diambil. Uang 20 ribu ditukar gelang kain... Itu tidak masuk akal.
Zaidan juga akan menolaknya sejak awal jika gelang pemberian Kesti akan ditukar dengan uang 20 ribu. Menurutnya tak ada keuntungannya, karena yang ada itu bakal membuat Kesti kecewa.
...
Sekarang hanya ada mereka bertiga di ruangan itu. Tidak seperti Zaidan, Eja tidak bisa melihat Nina yang ada di sebelah kiri Zaidan. Terus berdiam di dalam kecanggungan, mereka bertiga tiba-tiba merasakan sesuatu yang berubah. Bau busuk melintasi indra penciuman Zaidan dan Eja dan semakin menyengat seperti bangkai tikus yang mati.
Zaidan mengatakan iya sambil mencari-cari sumber bau tersebut.
Entah bagaimana, Zaidan tiba-tiba mendapatkan keberanian untuk berjalan dan mendekati pintu yang tidak benar-benar tertutup rapat. Mungkin saja baunya akan keluar jika dia membuka pintu lebar-lebar, itu pikirnya.
Syuushh...
Saat menarik gagang pintunya, sapuan angin dari luar mengenai dirinya yang bersuhu tinggi. Ia bisa benar-benar merasakannya sampai menggigil. Tapi... Apakah tadi halaman sekolah memang sesepi ini?
Zaidan tertegun, yang ia lihat hanyalah bangunan, tanaman-tanaman dan halaman yang kosong. Sungguh aneh karena beberapa waktu yang lalu suara bising masih terdengar begitu jelas. Begitu menyadari ada yang aneh, Eja langsung ikut melihat keadaan luar.
"Ini sudah masuk jam berikutnya?"
Tentu ia berkata begitu. Sangat tidak masuk logika jika semua orang menghilang dan tak terdengar suara sekecil apa 'pun hanya dalam sekejap. Tapi, di sisi lain Eja langsung menjawabnya dengan rasa percaya diri yang tinggi tanpa keraguan.
"Mana mungkin! Ini baru jam istirahat"
Perasaan pemuda bertampang lugu itu tidak baik. Dia melangkahkan kakinya keluar menjauhi Eja yang tadi berada selangkah di belakangnya. Kedua pupil matanya bergerak ke mana-mana dan mencari tanda-tanda seseorang di sekitar bangunan sekolah, tetapi tidak ada satu orang 'pun yang tertangkap oleh pandangannya.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin... Apakah aku berhalusinasi?" Semakin ia pikirkan, pikirannya menjadi berkecambuk.
"... Tidak... Zaidan tidak berhalusinasi. Akhir-akhir ini aku juga diganggu oleh sesuatu tak terlihat yang ada di sekolah ini selain yang di rumah. Aku tidak tahu apa itu, tapi, saat tadi aku berjalan menuju ke arah sini.. aku mengalami hal yang sama. Semua kelas tampak kosong, keadaan sekolah ini seperti sekolah yang terlupakan bertahun-tahun. Zaidan tidak mungkin akan mengabaikan ini, 'kan?"
Eja benar-benar memusatkan perhatiannya ke Zaidan.
"Aku tidak tahu bagaimana untuk menghentikan keadaan ini, tetapi di 'tempat' ini kita bisa mengobrol dengan puas. Jadi ayo ikuti aku, mungkin saja kita akan menemukan sesuatu," dia berusaha menarik pergelangan Zaidan untuk membawanya ke suatu tempat.
Eja kelihatan sangat bersemangat, dan percaya atau tidak dengan keadaan saat ini yang mencurigakan... Zaidan harus tetap berjaga-jaga, alam bentuk yaitu membawa tasnya yang tersimpan Keris di dalamnya. Benar, Zaidan telah menyiapkannya untuk keadaan yang mendesak. Tidak ada yang melanggar aturan karena Zaidan kemarin sudah diperbolehkan Kesti untuk membawanya.
"Tunggu. Kalau begitu, biarkan aku membawa tasku"
Sejenak terdiam, Eja kemudian mengiyakannya. Melihat dia yang tidak mempermasalahkannya, dia pasti tidak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam tas itu.
.
.
.
Melewati lorong sekolah, Zaidan dan Eja mengamati setiap ruangan yang kosong. Ketika mereka saling bertatapan, rasa canggung menghampiri keduanya. Walau 'pun begitu, mereka masih konsisten untuk berjalan tanpa tujuan.
"... Apa Eja juga mengenal nenekku?" Tiba-tiba Zaidan membawa topik. Hal itu langsung disambut baik oleh Eja.
"Yah... Bisa dibilang begitu" dia mengusap tengkuknya.
Zaidan tidak tahu harus senang atau tidak suka ketika mengetahui itu, tetapi jawaban yang tidak yakin tersebut memperkuat kecurigaan terhadap Eja. Ia hanya tidak suka sifat laki-laki itu yang aneh.
"Mau pergi ke atas?"
Eja menunjuk tangga menuju atas.
"Apa saja..." ucap Zaidan tidak ingin ambil pusing.
"Jangan seperti itu... Bagaimana aku bisa mengetahui pendapatmu kalau kamu hanya mangatakan 'Apa saja' seperti itu?" dia tidak bergerak. Menunggu jawaban yang ingin ia dengar.
Sungguh, laki-laki bernama Eja itu sangat, sangat mengesalkan di mata Zaidan. Setelah menarik napas yang panjang... Zaidan menjawabnya. Bukan karena kemauannya sendiri, tetapi karena paksaan berkedok 'Pendapat' yang dikatakan Eja.
"IYA..." ucapnya penuh penekanan.
__ADS_1