Guess The Ghost

Guess The Ghost
Halaman 16


__ADS_3

Zaidan menghela nafasnya, "Huh..."


Dia dan Nina kembali datang ke lapangan, di sana Zaidan hanya merenung sembari menaiki ayunan yang terbuat dari ban bekas yang digantung ke sebuah ranting pohon yang kokoh.


Zaidan belum menceritakan apapun mengenai kejadian tadi kepada Nina, tetapi ya sudah, masalah tadi begitu rumit, akan lebih baik apabila ia menceritakannya nanti di rumah sekalian dengan bunda dan Moma-nya. Zaidan mengayunkan tubuhnya ke depan dan belakang bergantian. Saat mendongak, ia melihat Nina yang memerhatikan dirinya. Zaidan bertanya, "Mau coba?"


Nina mengangguk cepat.


"Ya, kemarilah. Aku yang akan mengayunkannya" ia berdiri dan membiarkan wanita itu untuk menaiki ayunan tersebut.


Nina memutar tubuhnya dan mundur ke belakang secara perlahan. Dia berdiri tegak di depan ayunan seperti balok dengan wajah yang serius, membuat Zaidan sampai-sampai menyentuh dahinya karena tidak habis pikir dengan ketidaktahuan wanita itu.


"Aku akan pegang ayunan ini supaya tidak bergerak, dan Nina duduk di atas benda ini."


Setelah menghabiskan banyak waktu, akhirnya Nina sudah duduk di ayunan dengan nyaman. Dia kini duduk dengan tangan yang bertumpu di atas pahanya, dan seolah itu pertama kalinya ia mencoba, dia terlihat lebih menikmatinya dari pada Zaidan dan itu cukup menyenangkan untuk dilihat. Tetapi herannya, ayunan tetap terasa berat meski Nina seharusnya tidak memiliki berat tubuh sama sekali.


"Nina, apa kamu benar-benar tidak mendapat ingatan atau mengetahui sesuatu tentang tempat ini? Jika belum ada kita pulang saja dan mencobanya di keesokan hari" saran Zaidan karena ia mulai merasa letih.


Mendengar itu Nina melihat ke arah Zaidan dan menggeleng. Dengan suara lirih Nina berkata, "Aku masih tidak ingin kembali.. Aku akan berusaha mengingatnya!" Dan untuk pertama kalinya ia menunjukkan wajah memelas kepada Zaidan. Tentunya pemuda itu tidak sanggup untuk menolaknya, dan berakhir mengikuti kemauan wanita tersebut.


*Syutt.


Nina berdiri tanpa terduga, seketika ban tetap berayun pelan lalu menembus badan Nina. Zaidan terkaget beberapa saat karena masih tidak terbiasa melihat sesuatu yang bisa ditembus seperti itu. Sekujur tubuhnya menjadi lemas.


"Nina mengagetkanku. Kenapa tiba-tiba berdiri seperti itu? Bukankah tadi Nina bilang masih ingin di sini?"


Nina mulai menanyakan sesuatu yang membuat Zaidan berpikir keras.


"Apakah Zaidan akan menerima anak tadi?" Seseorang yang dia sebut "Anak Tadi" adalah Eja. Zaidan langsung memahami panggilan itu.


"Eng... Aku juga masih bingung. Dia tidak pernah berbicara padaku di tahun sebelum-sebelumnya, aku takut jika sebenarnya dia ingin mencarimu" Genggamannya pada tali ayunan semakin erat.

__ADS_1


"Mencariku?" balas Nina meminta penjelasan.


"Benar. Kata dia, dia penasaran dengan keberadaan hantu yang pernah dilihat adik kelas, dan yang dilihat adik kelas itu adalah Nina, bukan? Makanya dia ingin melihatmu"


Sebenarnya Zaidan cukup kesal karena Eja berniat ingin melihat sosok Nina. Tanpa Ba-Bi-Bu, laki-laki tersebut membicarakan banyak hal meski itu baru pertemuan kesekian mereka, apalagi saat laki-laki itu memanggilnya di kelas, seluruh mata menuju kepada Zaidan. Ia tidak bisa melupakan perasaan takutnya saat itu.


Tetapi bagusnya, sampai saat ini tidak ada yang bisa melihat Nina di sekolah, terkecuali dirinya.


"Aku tidak mengerti sama sekali...."


Hendak berkata, Zaidan dihentikan oleh pandangannya yang menangkap sesuatu sosok. Dari kejauhan, kelihatannya itu adalah seorang wanita. Zaidan 'pun memandangnya tak henti-henti dan pada suatu ketika ia menyadari bahwa sosok itu adalah seseorang yang tampaknya ia kenali.


"Zaidan!! Ini Moma!!" teriak wanita itu dari kejauhan.


"Eh? eh? Moma?"


Zaidan melirik Nina sekilas dengan raut wajah yang kebingungan dan panik. Tidak ingin membuat neneknya menunggu, Zaidan langsung menghampiri dan meraih tangannya dengan lembut kemudian menciumnya. Tidak ketinggalan dengan Nina yang mengikuti Zaidan dari belakang seperti seekor kucing yang menguntit.


Tetapi seperti yang diduga, Kesti mengelus pucuk kepala Zaidan dengan penuh kasih sayang dan juga berkata, "Zaidan seharusnya langsung pulang, cuaca hari ini lumayan mendung."


Karena faktanya memang begitu, Zaidan 'pun mengangguk lesu.


"Tadi Zidan menemani Nina ke lapangan ini, di mana ia bisa memiliki ingatannya kembali selama hidup di dunia. Dan tetapi, itulah satu-satunya hal yang bisa Zidan lakukan, itu 'pun tidak menghasilkan apapun..." Zaidan mengatakan ini karena ia berharap Moma-nya akan membantu dirinya, karena Zaidan masih tidak ingin menyerah.


Kesti melihat ke arah Nina dan langsung mengerti seperkian detik kemudian.


"Zaidan masih tidak tahu apa yang Zaidan harus lakukan dan sesuatu yang Zaidan bisa lakukan?... Dan juga, Zaidan telah memberinya nama?"


Selama ini Zaidan memanggil Nyonya hantu dengan nama pilihannya tanpa memberi tahu Vivie ataupun Kesti. Dan selama itu juga semuanya tetap berjalan seperti hari-hari biasa. Hari ini, ia menyebutkan nama itu dihadapan Kesti untuk pertama kalinya.


"Kenapa Zaidan tidak kasih tahu Moma dan bunda?" tanya Kesti kepada Zaidan.

__ADS_1


"Maaf, Moma."


Dua kata yang terasa pahit untuk diucapkan, namun begitu sulit jika tidak dikeluarkan. Ia juga tak tahu apa yang harus ia pertahankan, tetapi satu yang pasti, ia tidak menyesalinya.


"Hei, jangan murung. Tidak masalah jika Zaidan memberinya nama, tetapi beri tahu juga Moma dan bunda Zaidan. Sekarang kita pulang" Kesti mencoba menghibur Zaidan sebisa mungkin.


"Baik" balas Zaidan dengan sopan.


...***...


Saat sampai di rumah, Kesti menyuruh Zaidan untuk mandi dan menunggu di ruang tengah selagi dia mengambil sesuatu. Zaidan langsung melakukannya tanpa bertanya-tanya lagi. Selain ia tidak terbiasa menanyakan alasannya ketika diperintah, saat ini posisinya yang bersalah 'pun memperkecil keberaniannya untuk bertanya.


Rumah suasananya sangat sunyi. Padahal bunda dan Moma ada di kamar saat Zaidan belum mandi tadi, lalu kenapa sampai sekarang mereka belum keluar dari ruangan? Ini aneh.


Zaidan duduk bersila di lantai yang beralaskan karpet halus lalu menyalakan kipas. Nina juga langsung muncul dari belakang dan duduk di samping Zaidan, tak melepaskan pandangannya seolah kipas angin itu telah menyita perhatiannya.


Dia melihat setiap bentuk rambut Nina dengan mata yang membesar dan cahaya yang memantul di area bola matanya.


Kenyataan bahwa ia kagum dengan rambut yang menjuntai panjang dan kulit yang seputih gula itu membuat ia merasakan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya.


Ia bergumam, "Kupu-kupu yang beterbangan?.... Ha. Dari mana aku mengetahui kata-kata itu?"


Dia berhenti menatap dan mencoba mengarahkan badan kipas agar menghadap ke Nina. Begitu angin-angin menerpa wajahnya, rambut yang selalu menutupi langsung berserakan dan berhempas ke belakang. Disaat itu Zaidan baru melihat seluruh bentuk wajah Nina meski ada beberapa helai yang masih mengganggu.


"Ini pertama kalinya aku melihat wajah Nina, ternyata lebih cantik dari pada saat rambut depanmu menutupi..."


Ia memuji kecantikan sosok itu seperti ia memuji Vivie.


Tiba-tiba suara kipas meredup. Zaidan menoleh untuk memeriksa kipas angin tersebut, ternyata memang mati. Itu hanya sekitar 3 detik saat Zaidan melihat ke arah depan. Saat menoleh kembali ke samping... Nina sudah menghilang tanpa meninggalkan jejak.


"Dia... Bisa menghilang?...."

__ADS_1


"Seharusnya aku tidak mengatakan itu. Apa aku sangat tidak sopan, ya?" ia menundukkan kepalanya, lalu mendongakkannya ketika mendengar suara pintu yang terbuka.


__ADS_2