
Barang pusaka. Pada kelas 5 Zaidan pernah mempelajari materi itu dan memahami keseluruhan artinya begitu juga macam ciri-cirinya. Barang yang disebut pusaka adalah barang yang telah turun-temurun diberikan kepada generasi ke generasi dengan tujuan tertentu. Pada saat ini, barang yang ada di tangannya adalah barang yang serupa dengan barang pusaka menurut apa yang telah ia pelajari. Perasaan tak percaya, bingung dan gugup menyertai Zaidan.
"Moma, bagaimana bisa hantu menyakiti manusia? Sedangkan manusia kebanyakan tidak bisa melihat hantu? Lalu, apakah manusia dan hantu bisa berinteraksi kulit-ke-kulit?" Zaidan mengatakan hal yang membuatnya penasarannya selama ini.
Kesti 'pun menjawab,
"Pertama, arwah dan hantu itu adalah dua hal yang berbeda. Kamu tidak bisa membuat keduanya terdengar sama. Mudahnya, beberapa keluarga di sekitar daerah sini sering meminta bantuan kepada Moma untuk membantu salah satu kerabat mereka agar dapat tenang tanpa meninggalkan rasa penyesalan atau perasaan dendam setelah mati. Itu disebut arwah yang gentayangan. Karena Moma bisa melihat hal-hal yang tidak semua orang bisa melihatnya, maka dari itu Moma selalu berurusan dengan dunia tak kasat mata atas permintaan keluarga yang merasakan kehadiran makhluk-makhluk itu."
"Mengenai interaksi... Walaupun manusia tidak bisa melihat sosok itu, dengan aura-aura yang tak biasa dua makhluk tersebut bisa saling berkomunikasi secara langsung atau 'pun tidak langsung. Dan sebenarnya, meski kita tidak bisa melihat mereka sekali 'pun, mereka akan selalu bisa melihat kita dan juga rasa takut kita terhadap mereka."
Setelah mendengar penjelasan Kesti yang sungguh panjang, Zaidan mengangguk-angguk paham. Moma sungguh luar biasa karena sudah sabar mendengarkan dan menjelaskan, tetapi kalimat-kalimat itu tidak dapat menutupi semua rasa penasaran Zaidan saat itu, dan ia menginginkan jawaban yang lebih.
"Apakah seseorang yang bisa berbicara dengan orang mati disebut 'Penyalur' atau 'pun 'Penghubung'? Seingatku, aku pernah mendengar Moma menyebutkan itu sebelumnya"
Mata Zaidan terus tertuju kepada Kesti yang bersikap sangat tenang. Zaidan menghargai Moma-nya yang berperan sebagai tetua dalam keluarga, dan itu tidak mengurangi rasa sayangnya untuk anggota keluarga lainnya.
"Benar, persis seperti yang Zidan katakan"
...
Setiap baris katanya disusun dengan baik dan bijak. Entah bagaimana perasaan wanita itu ketika melontarkan kata-katanya namun, Zaidan begitu senang mendengar penekanan-penekanan tanpa kenal takut itu. Zaidan seolah dibuat merinci dan memahami satu per satu maknanya.
'Jadi, aku juga 'Penyalur' atau 'Penghubung' itu?' Ia benar-benar tidak percaya jika ia bisa mendapat panggilan yang seperti itu.
'Tapi... Aku mendengar bahwa hanya orang-orang Indigo 'lah yang sangat dekat dengan hantu dan apapun itu! Jika dipikir-dipikir lebih jelas, kenapa aku bisa melihat Nina? Padahal aku juga bukan seseorang yang bisa merasakan kehadiran 'mereka' dari kecil, dan aku hanya pernah mendengar ceritanya saja... Bagaimana itu tidak terpikirkan olehku?'
Di benaknya menetap banyak pertanyaan yang tidak mungkin akan Kesti jawab semuanya. Selama Zaidan tidak segera mendapatkan jawaban yang ingin ia dengar, semua itu akan memperlambat pemecahan masalah ini.
__ADS_1
"Sekarang, cobalah pegang Keris itu, Zidan" pinta Kesti dengan halus.
"Hm! Baiklah."
Meski penuh keraguan, Zaidan mengangkat benda penting itu di tangannya dan menyentuhnya. Kedua matanya berbinar-binar saat memutar benda tersebut untuk melihat setiap pola yang terukir di sana. Ia melirik ke arah Kesti dan Vivie dengan niat meminta persetujuan mereka untuk membuka benda yang bukan miliknya melalui lirikan itu. Kesti menundukkan kepalanya sejenak, lalu menegakkannya seperti semula, menandakan ia menyetujui.
*Sringg.
Zaidan menarik gagangnya dan balik menjauhkan sarung atau penutup bagian dalamnya.
"Eh...?"
Zaidan sangat terkejut melihat ketajaman bilah di dalamnya yang bahkan mengeluarkan percikan cahaya saat ditarik.
Keris merupakan jenis belati yang khas dari beberapa daerah di Indonesia. Seperti yang disebutkan Kesti, nama Keris yang hampir keseluruhannya terbuat dari kayu itu adalah Capenti. Sebuah nama yang sangat asing bagi Zaidan. Di bagian gagang terdapat pola batik yang terbuat dari kayu coklat biasa, lalu, bagian sarungnya terdapat pola bulu merak dan berbagai hiasan bunga emas, sedangkan bilahnya sendiri memiliki bentuk yang meliuk-liuk menyerupai badan ular dan dihiasi bunga emas pada bagian yang mendekati gagang.
Keindahan antara perpaduan kayu coklat dan hiasan emas menjadikan Keris itu sangat mewah tapi juga sederhana bersamaan. Ini mengingatkan Zaidan kepada Kesti yang jika ia dapat gambarkan melalui benda, benda Keris itulah yang sangat cocok padanya.
"Zidan belum pernah melihat Keris seperti ini sebelumnya, bukan? Semua hiasan ini adalah emas yang dilelehkan, makanya itu bertahan meski sudah bertahun-tahun lamanya" Vivie yang sekarang dalam suasana hati senang mengubah nada suaranya menjadi lebih lembut, seperti biasanya.
Merasa cukup, Zaidan menutup kembali bilah Keris dengan sarung Keris-nya.
"Mengapa Moma menyerahkan benda berharga ini kepadaku?"
Kesti mulai mengatakan maksudnya dengan alasan kenapa ia memberikan Keris itu kepada Zaidan. Ternyata, itu adalah salah satu barang yang diturunkan khusus untuk anak laki-laki itu agar dapat melindungi diri di masa depan.
"Perjalanan Zidan masih begitu panjang, dan ini baru permulaannya saja. Sekarang kamu sudah bisa melihat beberapa sosok yang seharusnya tidak kamu lihat, seperti Nina dan hantu sekolah itu, dan kedepannya bertambah banyak lagi yang akan bermacam-macam bentuknya, oleh karena itu benda Keris ini akan membantumu dalam melawan roh atau para hantu yang menyerangmu. Apa kau tahu bagaimana cara melawan mereka?"
__ADS_1
Karena sungguh tidak tahu, Zaidan hanya menjawab "Tidak" dengan singkat sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah," ucap Kesti.
Kesti lalu meletakkan cangkir tehnya sedikit jauh, dan meminta Keris yang tadi berada di tangan Zaidan.
"Saat melihat sosok yang sekiranya bahaya, Zidan bisa mengayunkan ini ke arah sosok itu. Seperti saat manusia tertusuk, sosok yang terkena bilahnya akan mengalami rasa sakit yang tidak biasa, yaitu rasa sakit yang membuat kekuatannya melemah dan terasa terbakar"
"Biasanya, mereka akan menghilang seperti asap dan menjauh sebisa mungkin. Tetapi bagi beberapa jenis, mereka akan tetap menyerang tanpa tahu batas kekuatan mereka. Dalam posisi itu juga Zidan perlu berhati-hati, karena meski Keris ini bisa digunakan selamanya, tetapi Keris ini secara tidak langsung akan menghabiskan stamina Zidan saat bertarung, dan akibatnya Zidan akan mengalami pusing dan sangat-sangat berkeringat"
Di akhir, Kesti menambahkan informasi yang cukup berguna mengenai Keris itu.
"Jadi, ada alasan kenapa hiasan bunga-bunga dan batik-batik ini terbuat dari emas asli. Selain menambahkan gaya mewahnya, emas ini juga bisa terang di kegelapan. Apakah Zaidan memercayai itu?"
Zaidan yang serius kala mendengarkannya 'pun mulai tertarik dan ingin mencoba Keris itu secara langsung. Tetapi ia juga mengerti, bahwa saat ini masih begitu dini bagi dirinya untuk bisa mengayunkan benda tajam seperti itu di udara. Seperti yang sudah ia katakan tadi, ia tidak pernah menggunakan pisau, karena setiap pekerjaan yang menggunakan benda tajam dan sesuatu yang dianggap berbahaya bagi keluarganya akan dilakukan oleh bundanya dan bibinya. Gunanya Zaidan dalam dapur, ya hanya mengupas bawang, mencuci sayuran atau buah-buahan dan makan makanan yang sudah jadi saja.
"Apa aku akan bisa melakukan itu?... "
Wajah Zaidan muram. Ia tidak begitu yakin dengan kemampuannya, tetapi ia berusaha karena itu mungkin keinginan keluarganya.
Zaidan menyimpulkan, jika Moma-nya adalah seseorang yang terpandang karena sering membantu orang-orang dengan kelebihannya. Dan sekarang dia ingin Zaidan untuk bisa membantu para arwah yang tidak tenang seperti Nina. Tapi, dapatkah ia bisa mengikuti kemampuan Moma-nya dahulu yang tentunya jauh lebih baik?
*Srak, srak.
Zaidan tersentak saat merasakan sesuatu yang menyentuh kepalanya.
Itu adalah tangan Vivie yang sedang mengelus rambutnya dengan pelan. Dia tersenyum manis ke arah Zaidan dan mengatakan, "Zaidan Izra Rowen... Tidak ada permulaan yang sempurna. Setiap hal perlu usaha dan kerja keras"
__ADS_1
Dia melanjutkan dengan suara yang sangat-amat dalam.
"Ada juga kalanya di mana situasi memaksamu untuk melakukannya, tetapi itu berarti bukan kemampuan, melainkan cara agar kamu bisa menyelesaikan itu bagaimana 'pun caranya."