
Naila melotot mendengar jawaban dari Laras. “Kenapa bisa Gus An yang beliin nasi...?” batin Naila dalam hati. “Di makan Nai, jangan di lihatin mulu. Nggak kenyang kalau Cuma di lihat...”
“Assalamu’alaikum...” Gus An masuk kedalam kamar dimana Naila dirawat. Semua yang ada didalam menjawab dengan serempak.
“Wa’alaikum salam...”
“Udah dimakan belum...? ini saya bawakan buah untuk kamu.” Naila hanya tertegun tidak merespon pertanyaan Gus An. Laras menutup mulutnya kagum dengan apa yang dilakukan Gus An kepada Naila.
“Nai...” Laras dan Rara heboh, tapi Naila masih tetap tidak merespon. “Naila...” Gus An menggerakkan tangannya di depan mata Naila, baru tersadar.
“Bagaimana Gus...?”
“Hmm, kamu tidak mendengar pertanyaan saya tadi...?” Naila hanya menggeleng tanpa dosa. Gus An sudah malas untuk mengulangi pertanyaannya. “Kamu suruh Dia makan.” Perintah Gus An kepada Laras kemudian keluar dari ruangan meninggalkan mereka semua.
“Sepertinya Aku menemukan sesuatu yang aneh dari Gus An.” Selidik Rara. “Sepertinya Gus An menyukai Naila. Apa itu benar...?” tebak Laras. Rara mengangguk membenarkan. Naila masih berusaha memahami apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Apa benar Gus An menyukaiku...? sikapnya akhir-akhir ini agak aneh. Seperti mengistimewahkan Aku. Tapi, ah tidak mungkin... batin Naila dalam hati. Tapi Dia menepisnya jauh-jauh lantaran itu hal yang tidak akan mungkin terjadi. Dirinya bukan siapa-siapa dimata seorang putra Kiyai.
“Aku nggak mau makan.”
“Kenapa...?”
...****************...
Naila harus menginap semalam di puskestren. Laras dan Rara bergantian menjaga Naila. Malamnya, Neng Aufa datang menjenguk Naila dengan membawakan nasi goreng kesukaan Naila.
“Tidak ada yang merasa di repotkan Mbak, Aku tau Mbak Naila suka ini kan...?”
“Tau darimana Neng...?”
“Adalah pokoknya...” Naila membuang nafas kasar karena Neng Aufa tidak mau mengaku. Tidak ada yang tau jika Naila menyukai makanan itu kecuali orang tuanya dan Laras. Tidak mungkin Laras memberitahu kepada Neng Aufa kemudian putri kiyainya itu mau di repotkan hanya untuk membeli nasi goreng.
__ADS_1
“Ayo di makan Mbak, kok malah bengong sih...” hari ini benak Naila di penuhi dengan banyak teka teki. Dia menemukan beberapa kejanggalan yang terjadi.
“Mbak, itu tadi belinya penuh pengorbanan loh. Masak nggak di makan...?” Neng Aufa terus mendesak Naila untuk makan. Naila hanya bilang kalau dirinya masih kenyang. Akan tetapi Neng Aufa malah menawarkan untuk menyuapi Naila. Hingga akhirnya Naila kalah. Dia harus makan dengan di suapi Neng Aufa. Naila baru makan setengah, Dia masih penasaran.
“Neng tadi di suruh Umi’...?”
“Enggak, di suruh Mas.” Neng Aufa keceplosan. Dia menutup mulutnya rapat-rapat. Orang yang sedang mengintip dari balik jendela menepuk jidat.
Sudah ku duga, anak ini pasti keceplosan. Dasar pengacau...
“Sudah Neng, Aku nggak mau makan.” Naila menghentikan Neng Aufa yang masih terus menyuapi dirinya. Bukan karena apa-apa, Abi Amir pernah bilang “Seorang perempuan jangan sampai menerima makanan dari lawan jenis, takutnya ada guna-gunanya biar jatuh cinta.” Naila teringat akan itu.
“Ini masih banyak loh Mbak. Nggak baik buang-buang makanan.”
“Udah kenyang banget Neng. Kasih ke Laras aja, tuh Dia kasihan Cuma menggigit jari.” Naila terkekeh sendiri melihat sahabatnya yang saat ini memang hanya memperhatikan Naila makan. Perutnya yang tidak pernah kenyang pasti keroncongan saat melihat makanan apapun.
__ADS_1
Kriyuk...