GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR

GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR
Bab 39


__ADS_3

“Siapa cowok tadi...?” tanya Gus An dengan nada datarnya. Tatapannya sangat serius. Membuat Naila menunduk, hanya menatap makanan yang tersaji di hadapan mereka berdua. Setelah kejadian bersama Rendi tadi, Gus An mengajak Naila untuk berpindah dari kafe pertama. Ada hal penting yang perlu di bicarakan.


“Hmm, itu, itu cuma __”


“Cuma apa...? temen lama...?” ucap Gus An menyela Naila yang terbata-bata karena gugup. Entah kenapa rasanya Dia saat ini sangat takut menghadapi orang yang terus menatapnya dengan tajam. Naila mengangguk.


“Kamu beneran nggak cinta sama cowok itu...? atau ucapanmu tadi hanya sebagai pembelaan...?” Naila tidak bisa berkata-kata. Dia hanya diam.


“Jawab Naila...” bentak Gus An dengan nada tinggi. Membuat Naila semakin ketakutan. Tak terasa air matanya lolos begitu saja. Gus An menarik nafas panjang, ini benar-benar di luar ekspektasi. Niatnya hanya menggertak Naila, akan tetapi gadis kecil itu terlanjur ketakutan. Sebenarnya Gus An juga tidak tega melihat perempuan yang amat di cintai itu menangis.


“Saya... terima... lamaran jenengan Gus...” ucap Naila dengan nada terbata-bata di tengah tangisan yang begitu dalam. Gus An melotot, kenapa semakin kesini Naila semakin sulit untuk di mengerti. Barusaja lusa menolak lamarannya, sekarang malah mengatakan kepada teman-temannya jika Gus An adalah calonnya.


“Lelucon macam apa ini Naila...?” Gus An tersenyum kecut. Meskipun beliau juga memahami jika Naila masih bocah labil yang belum bisa mengambil keputusan dengan bijaksana, akan tetapi Gus An kecewa akan sikap yang plin plan itu.

__ADS_1


“Demi Allah, dari hati yang tulus saya menerima lamaran jenengan Gus...” ucap Naila dengan lantang dan mantap.


“Jaga ucapanmu, jangan mudah bersumpah. Saya tidak buru-buru mendapatkan jawaban. Hapus air matamu dan kita pulang sekarang juga.”


...****************...


Gus An terpaksa mengantarkan Naila pulang ke rumah. Di sepanjang jalan mereka tak banyak bicara. Naila kerap kali memandang keluar jendela menyaksikan kendaraan yang berlalu lalang. Dadanya masih sesak karena tadi sempat menangis. Sesekali Gus An mengajak bicara yang simple, Dia hanya menjawab iya dan tidak.


“Nggak masuk dulu Gus...?” tanya Naila saat sudah sampai di sepan rumahnya. Meskipun Dia canggung menawarkan demikian, akan tetapi lebih baiknya memang seperti itu.


“Kok udah pulang nak...? katanya mau reunian...?” tanya Ibunya yang sedang duduk di ruang santai sambil menonton sinetron kesukaan beliau. Naila mencuci tangan dan kakinya kemudian mencium tangan sang ibu.


“Iya bu...” hanya kata itu yang di ucapkan. Mengingat suaranya masih sedikit parau karena habis menangis dan untuk menghindari berbagai macam pertanyaan. Naila memilih untuk langsung masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


“Kamu tadi pulang sama siapa nak...?” teriak ibunya karena Naila sudah berada di dalam kamar.


“Sama temen lah bu.”


Naila memilih untuk mandi terlebih dahulu kemudian sholat dhuhur. Setelah kegiatannya selesai, dia meraih ponsel yang masih ada dalam tas travelnya. Terdapat beberapa pesan masuk. Di antaranya dari Resti yang meminta maaf karena tiba-tiba membawa Rendi yang justru merusak suasana hatinya. Selain itu juga ada pesan dari Gus An sejak tadi yang belum sempat Dia baca.


“Kamu mau makan apa Nai...? Aku mau ke rumah kamu untuk bertemu Pak Said.”


Jleb... hatinya langsung seperti ter-iris. Gus An ternyata begitu perhatian dengannya. Jangan-jangan beliau tadi sebenarnya mau memesan makanan untuk di bawa ke rumahnya, batin Naila. Dia sangat merasa bersalah dengan Gus An. Ingin meminta maaf, tapi malu. Ingin bersikap biasa saja, tapi tidak bisa. Dia tidak tau lagi entah bagaimana Dia harus menyikapi Gus An saat bertemu di pesantren nanti.


Ting... matanya melotot saat menatap layar notifikasi, satu pesan dari Gus An. “Aduh, gimana ini...? di buka nggak ya...?”, dia ambil bantal untuk merebahkan punggungnya yang terasa lelah. “Di rumah nggak ngapa-ngapain, sekali keluar langsung capek. Capek hati capek badan juga, hmmm...?” gerutu Naila sambil kembali meraih ponselnya yang di letakkan di samping tempat duduknya tadi.


“Halo Assalamu’alaikum, kamu baik-baik aja kan Nai...” suara dari seberang sana membuat Naila terkejut. Dan___.

__ADS_1


“Aaa...” Naila melemparkan ponselnya ke sembarang arah karena tadi tiba-tiba wajah Gus An muncul di video call. Sedangkan dirinya saat ini sedang tidak mengenakan hijab dan hanya mengenakan kaos lengan pendek.


“Naila, ada apa...?” ibunya langsung membuka pintu kamar saat mendengar Naila berteriak dengan sangat kencang. Sedangkan panggilan di ponselnya belum juga di matikan. Masih terdengar suara laki-laki itu terus memanggil Naila.


__ADS_2