GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR

GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR
Bab 42


__ADS_3

Nggak nyangka banget guysss, ternyata banyak permintaan update dari kalian. Terus kasih dukungan buat author biar makin semangat ya😍😍😍 thanks udah ngikutin sejauh ini🥰🥰🥰🥰


...----------------...


Hari-hari Naila di pesantren di liputi dengan kesedihan. Dia tidak bercerita kepada siapapun sekalipun dua sahabatnya, Laras dan juga Rara. Mereka berdua sedih karena merasa kehilangan Naila yang dulu. Naila yang selalu ceria, apa adanya dan memang barbar itu kini menjadi suka murung di kamar, sering menyendiri dan melamun. Padahal musuh sejatinya yang selalu menjadi biang kerok semua santri sudah tidak ada. Fatma, sudah di keluarkan dari sekolah dan pesantren. Entah kemana larinya anak itu mencari tempat menampungan sekolah sebagai ganti dari pesantren Darunnajah.


“Nai, cerita dong kalau ada apa-apa. Kamu nggak asyik deh kalau gini terus. Kamu udah menganggap kita lagi ya...?”


“Iya Nai, Aku tuh jadi sedih kalau kamu gini terus. Siapa sih yang bikin kamu kayak gini...?” mereka berdua sudah berusaha menghibur Naila setiap hari. Akan tetapi masih sama. Hari-harinya di penuhi dengan kesedihan. Orangtuanya sering menelepon Naila untuk bertanya kabar, dan selalu menghibur Naila jika jodoh pasti tak akan kemana. Kemanapun larinya orang itu kalau jodoh pasti akan kembali. Kalaupun tidak jodoh, entah di kejar kemanapun juga akan tetap pergi.

__ADS_1


“Kamu patah hati...?” Naila hanya menggeleng, tidak selera untuk menjawab pertanyaan kedua sahabatnya. Mereka sendiri juga takut jika Naila kenapa-napa, terutama yang berhubungan dengan sekolah. Pasalnya mereka saat ini sudah kelas XII, pelajaran dan hafalan tentu meningkat jadi semakin sulit. Bukan hanya itu, ustadz Taufiq kembali menjadi wali kelas mereka. Sehingga tidak ada negoisasi untuk tidak menyetorkan hafalan.


...****************...


“Subhanallah, cantik banget ya Neng Farah.” puji seluruh santri putri saat melihat seorang perempuan beserta kedua orangtuanya masuk ke ndalem. Di lihat dari penampilannya saja sudah kelihatan jika mereka bukan dari kalangan biasa, melainkan dari keluarga yang berbasis pesantren.


“Itu kan Neng Farah.” celetuk Rara saat pulang sekolah bersama Naila dan juga Laras.


“Naila kok diam aja sih...?” protes Laras saat mendapati Naila justru duduk termenung di kursi.

__ADS_1


“Lalu Aku harus bagaimana...? Aku nggak kenal sama sekali dengn Neng itu.” kedua sahabatnya manggut-manggut, kemudian mencoba untuk menjelaskan kepada Naila tentang Neng Farah. Yang pasti beliau adalah putri salah satu pemilik pesantren yang juga sangat dekat dengan keluarga Ndalem. Selain itu, Neng Farah juga merupakan lulusan Al-Azhar Kairo, Mesir yang seangkatan dengan Gus An. Laras dan Rara juga mengatakan saat stalking instagramnya Neng Aufa terdapat beberapa foto bersama Gus An. Hati Naila bagai di sambar petir, sangat sakit mendengarnya. Boleh jadi, Neng Farah memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Gus An. Lalu apa maksudnya beliau melamar Naila?


Tak terasa air mata Naila lolos begitu saja. Cukup sampai di sini dia mengharapkan kepastian dari Gus An yang tiba-tiba menghilang. Rasanya dirinya sangat kerdil jika di bandingkan dengan Neng Farah. Lebih baik mengubur dalam-dalam rasa cinta yang baru saja di pupuk, daripada memupuk cinta yang berujung dengan lelahnya jiwa dan raga. Naila lari menuju ke lapangan madrasah, menangis sejadi-jadinya disana. Kedua sahabatnya juga ikut menyusul, belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Naila.


“Nai, ada yang salah dari ucapan kita berdua...?” mereka berdua tampak berpikir keras. Setelah Naila sedikit tenang, mereka mulai angkat bicara. “Ini pasti soal Gus An kan Nai...?” Rara bertanya dengan hati-hati, takut jika kalimatnya akan menyinggung Naila. Laras ikut meratapi kesedihan Naila yang tidak terus terang untuk menjawab. Hanya dengan mengangkat kedua bahunya saja, mereka berdua bisa memahami kesedihan yang di alami Naila selama ini.


Dengan dada yang sesak akhirnya Naila mau bercerita. Dua sahabatnya juga ikut geram kepada Gus An yang telah mengingkari janjinya. Kata mereka, Naila harus bisa move on meskipun itu sangat berat. Tidak pernah mencintai laki-laki, sesekali bisa jatuh cinta malah di khianati. Sakit.


__ADS_1


Setelah beberapa hari belajar untuk melupakan Gus An, Naila kembali menjalankan aktifitasnya seperti biasa. Kembali semangat dan ceria menjalani hari-harinya. Sekalipun masih sering mendengar cerita Neng Farah dari mulut para santri, kini dirinya sudah mulai terbiasa. Apalagi Gus An yang tak kunjung pulang dari Mesir dan Neng Farah di kabarkan berangkat ke Mesir juga. Instingnya mengatakan jika memang benar ada hubungan di antara mereka.


__ADS_2