GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR

GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR
Bab 34


__ADS_3

Dua orang yang tak lain para pengikut circle Fatma mengaku dan menjelaskan apa saja yang telah mereka lakukan. Gus An sangat geram mendengarnya, apalagi Naila sebagai korban tuduhan. Nama baiknya terlanjur buruk di kacamata para santri. Bukan hanya itu, Abi Amir dan Umi Azizah sangat syok mendengarnya. Untung saja Gus An melarang pengurus untuk menelepon orangtua Naila saat masalah belum clear. Bisa-bisa Pak Said mendadak sakit jantung.


...****************...


Libur kenaikan kelas telah tiba. Inilah saat-saat yang di tunggu oleh semua santri. Biasanya Naila akan menjadi orang yang paling semangat saat baru saja mendengar kabar liburan. Tapi untuk kali ini tidak, Dia ingin di pesantren saja tidak pulang.



Seluruh santri sudah bersiap untuk melaksanakan acara penutupan. Biasanya dalam acara ini akan diisi oleh Abi Amir langsung karena mencakup santri keseluruhan baik putra maupun putri. Semuanya berkumpul di lapangan utama. Acara ini yang nantinya akan menjadi sebuah moment kebahagian sekaligus moment yang membuat senam jantung karena bersamaan dengan pengumuman kenaikan serta kelulusan kelas XII.


__ADS_1


Para ustadz dan ustadzah duduk di barisan paling depan. Naila duduk di barisan kedua bersamaan dengan Laras dan Rara. Mereka semua sudah baikan karena memang terbukti Naila tidak melakukan kesalahan. Gus An berhasil membantu menyelesaikan masalah tersebut. Laras dan Rara menjadi orang yang paling menyesal karena tidak percaya dengan Naila, sahabatnya sendiri. Sedangkan para pelaku dan orang-orang yang terlibat sudah di berikan hukuman yang setimpal oleh Gus An, mereka tidak di naikkan kelas dan yang paling berat adalah Fatma selaku pimpinan circle, Dia di keluarkan dari sekolah dan pesantren. Orang tuanya sangat marah mendengar kelakuan Fatma. Akan tetapi meskipun bersalah, Fatma tetap tidak mau meminta maaf kepada Naila. Malah Dia memberikan ancaman yang macam-macam kepada Naila kalau sampai Dia di keluarkan. Naila tidak perduli, orang yang melakukan kesalahan sangat fatal tidak perlu di ampuni.



Acara itu berjalan dengan meriah mulai dari awal, karena setiap kelas akan menampilkan beberapa penampilan. Naila memilih untuk jadi penonton saja. Kini sudah sampai pada acara puncaknya. Yaitu pengumuman kenaikan kelas dan murid berprestasi.


Deg... deg... detak jantuk para murid ikut serta meramaikan acara. Takut jika tidak naik kelas, ada juga yang takut tidak mendapatkan prestasi. Laras semakin gugup, Dia hanya duduk diam sambil menunduk. Begitupun dengan Rara. Akan tetapi sangat berbeda dengan Naila, Dia hanya biasa saja. Siap menerima berbagai macam kenyataan.


“Peringkat pertama kelas XI kategori putri di raih oleh...” suara MC yang sangat menggelegar semakin membuat deg-degan.


“Ah yang bener, salah ucap kali.” Sanggah Naila karena dirinya sendiri tidak percaya. Hingga akhirnya di panggil untuk yang kesekian kali barulah percaya bahwa benar-benar meraih prestasi. Kedua sahabatnya memeluk dengan erat.

__ADS_1


“Inilah Naila yang sejati, cantik, cerdas, tegas, cerdik...” bisik Rara di telinga Naila sambil bersalaman memberikan selamat. Setelah itu para murid yang meraih prestasi naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan. Jantung Naila berdebar-debar karena yang menyerahkan penghargaanya tentu saja Gus An, selaku wali kelasnya. Sedangkan Dia tidak ingin dekat-dekat dengan beliau. Mengingat dirinya bukan siapa-siapa yang tiba-tiba di cintai Gus An begitu saja.


Cekrek... Beberapa foto telah di ambil. Naila turun dengan bangga membawa sebuah piala dan piagam penghargaan. Usahanya ternyata tidak sia-sia, besok jika orangtuanya berkunjung akan Dia tunjukkan. Mereka berdua pasti akan senang.


Seluruh santri bersalaman dengan para ustadz dan ustadzah beserta pengasuh sebelum pulang. Tak lupa mereka saling bertukar nomor dan berbagai macam media sosial untuk di follow setelah memegang HP masing-masing.


“Naila, ada Ayah kamu. Katanya nggak pulang, kok di jemput...?”


“Ayah...? Aku sudah bilang kalau tidak pulang.” Laki-laki paruh baya itu menuju ke arah Naila.


“Ayah kenapa kesini...? Aku kan sudah bilang kalau nggak pulang.” Tanya Naila sembari mengecup kedua punggung tangan Ayahnya.

__ADS_1


“Ayah Cuma mau lihat anaknya yang dapat prestasi. Ayah sangat bangga sama kamu nak...” Pak Said memeluk Naila erat-erat. Beliau sangat merindukan moment-moment ini, dimana Naila mendapatkan prestasi yang unggul.


Setelah puas memeluk anaknya, Pak Said meminta Naila untuk tetap pulang karena beliau akan memberikan kejutan. Naila memaksa Ayahnya untuk menyebutkan kejutan itu, akan tetapi Ayahnya tidak mau jika Dia tidak pulang terlebih dahulu.


__ADS_2