GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR

GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR
Bab 54


__ADS_3

“Coba kamu telepon saja Naila, pasti saat ini dia sedang mencari keberadaan kita. Kalau nggak gitu pasti dia sedang cemas,” umi memerintahkan gus An untuk menghubungi Naila untuk memberitahukan keberadaan beliau. Gus An menyetujui permintaan uminya. Dicarinya nomor telepon Naila yang sudah disimpan semenjak beberapa bulan lalu.


‘Memanggil’, eits benar saja. Gus An sengaja menyembunyikan ponsel Naila setelah semalam dipakai buat membaca novel horor. Tapi ini bukan soal horornya hantu dan kawan-kawan. Melainkan horor dalam urusan 21++.


“Gimana, udah bisa dihubungi belum...? ini mumpung dia masih belum berangkat ke sekolah lo An,” seru umi’ yang tidak sabaran. Gus An memijat kepalanya karena baru ingat jika hari ini ada rapat bersama pengurus yayasan dan Gus An harus hadir mewakili Abi Amir. Selain itu juga ada jadwal mengajar di sekolah. Pak Said juga semalam barusaja bilang jika hari ini ada meeting bersama klient penting. Dunia gus An serasa tiba-tiba menjadi sempit, mau gimana lagi saat ini tanggung jawabnya semakin besar bersamaan dengan usianya yang semkain dewasa. Semoga saja selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk menjalai semuanya, itulah do’a yang selalu diucapkan gus An setiap kali ingin mengeluh.


“Mending Aku susul aja deh mi, biar gantian sama umi’ jagain dek Aufa. Masa iya umi’ mau jaga sendirian kan nggak lucu,” umi Azizah mengangguk. Akan tetapi dokter baru saja datang, itu artinya neng Aufa baru akan diperiksa oleh dokter setelah ini dan gus An harus menemani umi, terlebih jika membutuhkan apa-apa sesuai dengan saran dokter.


Sedangkan Naila yang berada di Pesntren sana, dia menumpahkan seluruh kekesalannya dengan menagis di pojokan kamar pesantren, kamarnya yang menjadi saksi kenakalannya dulu. Laras dan Rara sudah berusaha menghibur dan menengankan, akan tetapi tangis Naila semakin kencang. Dia merasa tidak dianggap oleh keluarga gus An.

__ADS_1


‘Baru aja nikah tiga hari tapi udah kayak gini’, batin Rara karena merasa ikut sedih melihat sahabatnya menangis seperti itu. Laras hanya hanya bisa menatap iba kepad Naila, dia juga bingung harus melakukan apa untuk sahabat terbaiknya tersebut.


“Kamu harus sarapan dulu Nai, kalau tidak nanti kamu bisa sakit loh. Kan kita juga nanti yang repot,” bujuk Laras kepada Naila yang air matanya tak kunjung reda. Wow, kayak hujan deras aja nih air mata Naila. Hingga akhirnya dia menyudahi ketika bel masuk kelas telah berbunyi. Mau nggak mau harus masuk, karena ini adalah masa-masa terakhir duduk di bangku kelas XII. Dengan mengusap airmata terlebih dahulu, Naila berjalan sangat malas menuju ke ruang kelasnya.


“Kamu habis nangis ya Nai, matamu kelihatan sembab banget...?” tanya salah satu teman sekelas Naila yang tidak dihiraukannya sama sekali. Mungkin orang-orang akan mengira jika Naila kehabisan uang saku sehingga tidak bisa membeli jajan dan akhirnya menangis semalaman.


“Assalamu’alaikum, hari ini saya tidak masuk kelas sepenuhnya karena harus mengambil alih jobdesk gus An untuk memimpin rapat bersama pengurus yayasan. Jadi saya mau berikan tugas buat kalian, dikerjakan dan harus dikumpulkan hari ini juga,” titah ustadz Taufiq dengan tegas. Guru dengan usia belum sampai kepala tiga itu sangat berwibawa dan disegani oleh banyak orang. Selain ketampanannya yang sebelas dua belas dengan gus An, beliau juga sangat lincah dalam masalah apapun.


“Hah, banyak banget ustadz tugasnya, mana bisa kami semua mengerjakan dalam waktu yang sesingkat ini,” protes salah satu siswa tidak terima.

__ADS_1


“Hari ini mungkin kegiatan belajar kalian akan diisi tugas oleh semua guru, jadi manfaatkan waktu sebaik mungkin. Ingat kalian sudah hampir lulus, jangan menyerah ditengah jalan hanya karena masalah sepele,” keluarlah jurus mantra yang selalu diucapkan oleh ustadz Taufiq.


“Emang ada acara apa sih ustadz kok sampai harus jamkos seharian...?”, lagi-lagi ada yang protes. Maklum lah, mereka sekolah juga bayar. Kalau sering-sering jamkos kan kapan pintarnya. “Saya kan sudah bilang tadi, ada rapat bersama pengurus yayasan. Itu artinya seluruh dewan guru terutama yang ada jadwal mengajar hari ini tidak bisa masuk kelas. Awalnya seharusnya Cuma guru-guru tertentu saja yang harus ikut. Tapi gus An malah menyuruh semuanya karena beliau hari ini harus menjaga neng Aufa di rumah sakit, sehingga tidak bisa mengikuti acara tadi.”


‘Neng Aufa sakit?’


‘Sejak kapan?’


‘Kenapa Aku tidak tau?’

__ADS_1


__ADS_2