
Naila menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tangannya menunjuk ke arah ponselnya yang jatuh ke bawah tempat tidur. Ibunya meraih ponsel itu dan betapa kagetnya saat yang muncul pertama kali di layar adalah wajah Gus An sedang video call.
“Gus...”
“Ada apa dengan Naila bu...? apa dia baik-baik saja...?” tanya Gus An dengan nada cemas.
“Naila baik-baik saja Gus, emang kenapa ya...?” tanya bu Ania dengan tidak mengerti.
“Soalnya tadi tiba-tiba video call, terus pas saya angkat malah teriak-teriak. Apa dia baik-baik saja bu...?” bu Ania mendengus, Naila memberikan isyarat kalau dia baik-baik saja dan meminta ibunya untuk segera mengakhiri panggilan.
“Kamu sebenarnya kenapa sih nak...? tadi juga ibu dengar kamu teriak. Kalau ada apa-apa kenapa nggak bilang sama ibu dulu, kenapa langsung bilang ke Gus An...? emang ibu ini kamu anggap apa...?” Naila menggigit bibirnya. Kenapa malah merembet kemana-mana sih masalah ini. Padahal dia juga tidak tau kenapa tiba-tiba memanggil Gus An, apalagi video call. Itu sangat memalukan. Dia menceritakan kepada sang ibu agar tidak terus salah paham. Ibunya malah tertawa.
__ADS_1
“Makanya kalau pegang handphone itu hati-hati, jangan sembarangan naruh. Nanti takutnya ada hacker canggih yang tiba-tiba memanggil nomor yang ada di kontak kamu. Masih beruntung kalau yang di panggil Ayah atau Ibu, kalau misalkan kayak tadi apa nggak malu...?” bu Ania masih tertawa sambil menasehati anaknya yang suka ceroboh itu.
“Emang seseram itu ya bu...?” tanya Naila dengan wajah cemas bercampur takut.
“Iya, hackernya itu juga tangan kamu sendiri. Terkadang kita sering kali tidak sengaja memanggil orang lain, itu juga ulah jari kita sendiri.” bu Ania tertawa. Naila baru paham apa yang di maksud ibunya, dia juga ikutan tertawa.
Di saat ibunya sudah keluar, Naila kembali membuka pesan dari Gus An yang belum sempat dia buka tadi. Dia memperbaiki posisi duduk lantas menyiapkan mentalnya terlebih dahulu. Mau membaca chat aja sama kayak mau tampil teater di panggung pesantren.
Deg... desiran jantung Naila semakin kencang. Dia membaca chat itu seperti sedang bermimpi. Dia pukul kedua pipinya, lantas mencubit pinggangnya, sakit. Berarti ini memang kenyataan. Gus An tiba-tiba akan menikahinya hanya dalam jarak waktu yang dekat.
“Gus, ini Cuma bercanda kan...?” balasnya dengan asal karena tangannya gemetar tak karuan.
__ADS_1
“Saya tidak pernah bercanda Naila. Tanpa persetujuan kamu, pernikahan ini sudah pasti akan terjadi.” Naila semakin panik, namun ekspresinya justru semakin lucu. Dia kepalkan tangan dan berkata___.
Yes... Aku jadi menikah dengan Gus An...
Naila berteriak mencari ibunya, batinnya tidak bisa sejalan. Sebenarnya tadi mau menolak Gus An lagi, menarik ucapannya untuk menerima lamaran lamaran itu. Akan tetapi entah kenapa seperti kegirangan.
“Ibu, Aku jadi menikah dengan Gus An... hore...” ibunya semakin bingung dengan apa yang dialami anaknya. Kenapa bisa berubah secepat itu, baru kemarin dia nangis-nangis bimbang. Eh, taunya sekarang kegirangan udah ngebet mau nikah aja. Bu Ania menyentuh kening Naila, jangan-jangan putrinya ini sedang kesambet atau mengalami setres akibat kebanyakan memikirkan lamaran Gus An.
“Aku baik-baik saja ibu, jangan kira kalau Aku lagi demam. Ini beneran chat dari Gus An. Beliau akan menikahi Naila dalam waktu yang singkat. Naila sangat senang mendengarnya.” Bu Ania semakin takut akan kesehatan mental anaknya yang tiba-tiba berubah ini. Beliau menelepon suaminya untuk memberitahukan keadaan di rumah. Pak Said justru tertawa mendengar celoteh istrinya yang terus menghawatirkan Naila.
“Bagus dong bu kalau Naila mau, jadi kita nggak perlu repot-repot untuk membujuknya. Ibu tenang saja, Ayah juga habis dapat telepon dari Gus An kok.” bu Ania bernafas lega mendengar penjelasan dari suaminya.
__ADS_1