GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR

GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR
Bab 38


__ADS_3

Naila tak habis pikir, tentu saja Gus An akan dengan mudah mendapatkan nomornya. Bisa bertanya kepada Ayah atau Ibunya dan sudah pasti mereka akan memberikan begitu saja. Gus An menanyakan kabar Naila setelah lamarannya di tolak. Naila sangat bimbang antara menjawab pesan beliau atau mengabaikannya. Rasanya kalau tidak di jawab sudah pasti tidak sopan. Hingga akhirnya Dia memilih untuk tetap menjawab akan tetapi dengan jarak waktu yang cukup lama alias slow respon.


“Kamu lagi ngapain...?” pertanyaan itu yang setiap hari Gus An lontarkan lewat aplikasi hijau. Naila bosan membaca pesan yang hanya itu-itu saja. Akan tetapi mau nggak mau tetap harus di jawab, toh nggak baik juga mengabaikan pertanyaan orang lain. Hingga akhirnya percakapan yang awalnya hanya sebatas menanyakan kesibukan berubah menjadi lebih dalam. Naila menjadi sering membuka ponsel demi menunggu chat dari Gus An. Jika seharian belum di hubungi rasanya seperti galau.


Ting... sebuah notifikasi membuyarkan lamunannya. Dia segera meraih ponsel dan dengan semangat membuka pesan tersebut.


“Kamu sudah makan belum...?” Naila segera menjawab. “Belum Gus.” Langsung centang biru. Menandakan kalau Gus An sedang online dan menunggu balasan dari Naila.


“Naila di cariin teman kamu.” Bu Ania tiba-tiba muncul di depan Naila. “Kayaknya teman SD kamu. Ibu juga agak lupa sih soalnya sekarang makin tampan.” Naila membulatkan matanya, siapa teman laki-laki yang berani datang ke rumah?


Naila menyapa temannya satu persatu, Resti dan Andika mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Akan tetapi yang d terima hanya tangan Resti, Dia tidak mungkin menyentuh yang bukan mahram. Meskipun Rendi agak canggung mendapatkan perlakuan seperti itu dari Naila, Dia menyembunyikan ekspresi agar Naila pun tidak ikut canggung.

__ADS_1


“Wah, kamu sekarang udah banyak berubah ya Nai. Masyaallah udah kayak bu haji saja pakai gamis sama hijab syar’i.” ucapan Resti mungkin biasa saja, akan tetapi Dia sedikit tersinggung.


“Ayok main keluar Nai, sekali-sekali gitu loh. Mumpung lagi ketemu, sekalian reunian kecil-kecilan.” bujuk Resti dengan menaik turunkan alisnya. “Ayolah Nai, please. Jangan di tolak ya.” Resti kembali memelas. Membuat Naila tidak sampai hati untuk menolak. Dia mengangguk tanda setuju. Akan tetapi Dia hanya mau di bonceng oleh Resti saja. Mereka bertiga pergi ke sebuah kafe yang sangat indah, favorit anak remaja.


Resti menyikut lengan Rendi, memberikan isyarat akan sesuatu. Si empunya langsung berpindah posisi duduk menjadi di samping Naila. Dia langsung menyambar kedua telapak tangan Naila dan menggenggamnya dengan erat. Naila yang tentu sangat terkejut hanya terpaku sambil memandangi tangannya yang ada dalam genggaman Rendi.


“Nai, tolong dengarkan baik-baik. Ini yang Aku ucapkan benar-benar tulus dari hati.” Rendi memperbaiki posisi duduknya dan semakin mendekatkan kursinya ke samping Naila.


“Terus...?” Naila memicingkan matanya. Masih berusaha menangkap arah pembicaraan Rendi yang banyak basa basinya. Rendi mendengus kesal.


“Rasa itu masih ada sampai sekarang Nai, meskipun Aku sudah lama tidak bertemu dengan kamu tapi perasaan ini justru semakin tumbuh subur, makin berkembang. Please terima cinta ini, dan jadikan Aku sebagai pacar kamu. Aku nggak bisa terus-terusan memendam dan merasakan rasa cinta ini sendirian tanpa ada balasan dari kamu. Please...” ucap Rendi sambil mengecup tangan Naila. Dia langsung menarik dengan kasar karena risih dengan sentuhan dan ucapan Rendi.

__ADS_1


“Maaf Ren, Aku nggak bisa.” Ucap Naila dengan nada datar. Rendi tentu saja sedih mendengar penolakan yang langsung di ungkapkan Naila seketika itu juga.


“Kenapa Nai...? apa sudah ada cinta lain yang mengisi hatimu...? andai kamu tau, semenjak dulu rasa ini tidak pernah berubah. Aku enggan mencintai perempuan lain selain dirimu.” Resti hanya diam menyaksikan adegan tersebut.


Ehm... suara deheman seseorang membuat semuanya terkejut. Orang yang sangat Naila kenal. Dia tercengang melihatnya.


“Gus...”


“Bukan mahram nggak baik pegang-pegangan.” Naila langsung bangkit dari kursi duduknya. Dia mendekat ke arah Gus An. Membuat kedua temannya heran. “Siapa laki-laki itu...?”.


“Ma’af Rendi, memang benar katamu. Ada hati yang harus Aku jaga, ada cinta yang harus Aku pupuk agar tumbuh lebih subur lagi. Jadi tolong, berhenti mengharapkan apapun dariku. Maaf jika kata-kataku terlalu menusuk hatimu. Tapi ini memang kenyataan. Setiap orang berhak atas pilihannya masing-masing.”

__ADS_1


*Jleb*... hati Rendi sangat hancur. Tapi ini memang resiko orang yang jatuh cinta, antara patah hati atau mendapatkan balasan dari cinta yang selama ini bersarang di hatinya. Tampak dari wajahnya kelihatan bersedih. Dia benar-benar patah hati.


__ADS_2