
Author ucapkan banyak Terima kasih kepada teman-teman yang sudah memberikan berbagai macam dukungan serta mengikuti cerita ini dari awal🥰🥰🥰
happy reading dan jangan lupa kasih sajen ya🥰🥰🥰🥰
...----------------...
Libur panjang membuat Naila bosan karena hanya di rumah saja dan tidak memiliki kegiatan apapun. Ayahnya belum sempat mengajak berlibur karena masih banyak kerjaan yang harus di selesaikan dalam waktu dekat. Dia hanya sibuk membuka tutup layar gadgetnya karena tidak ada yang menghubungi. Hanya sesekali saja video call dengan Rara dan juga Laras. Tidak ada yang menarik dalam gadgetnya membuat Dia malas untuk menyentuh benda itu.
Di saat yang seperti ini Naila teringat kembali mengenai lamaran Gus An yang langsung Dia tolak tanpa pikir panjang. Antara takut dan juga malu karena pasti akan mengecewakan semua pihak. Orangtuanya pasti akan malu, begitu juga dengan keluarga dari pesantren akan kecewa terutama Umi Azizah yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Meskipun dari kedua belah pihak bisa memaklumi karena Naila saat ini masih bocah labil, akan tetapi perasaanya sangat tidak enak.
__ADS_1
Beberapa malam semenjak kejadian itu Naila memutuskan untuk sholat istikhoroh. Dia berharap semoga dengan mendekatkan diri kepada sang pencipta akan di mudahkan segala urusannya serta di berikan petunjuk yang terbaik. Namun tidak semudah itu, untuk mendapatkan petunjuk dari sang maha kuasa juga perlu waktu.
“Naila, Ibu bawa makanan kesukaan kamu.” ucap bu Ania seraya membawa sepiring kue ke hadapan anaknya. Naila sangat bersemangat menerimanya.
“Ini nggak seperti buatan Ibu.” protes Naila saat merasakan comotan kue di dalam mulutnya. Bu Ania tersenyum karena putri satu-satunya ini sangat peka dengan masakan buatan beliau.
“Bu, sejauh mana sih Gus An mengenal Naila...?” Naila mencomot topik pembicaraan yang serius. Ibunya bercerita berbagai macam hal, seperti Gus An yang sudah seringkali datang kemari karena ingin segera mengikat Naila. Kemudian menanyakan hal-hal yang di sukai dan di benci dirinya. Beliau juga kerap kali melaporkan kegiatan-kegiatan Naila di pesantren. “Ternyata sejauh ini Gus An menggali informasi tentang diriku. Lantas Aku harus bagimana...?” batinnya dalam hati yang membuatnya ingin terus berpikir.
__ADS_1
“Kira-kira Gus An benar-benar tulus mencintai Naila nggak ya bu...?” ibunya tertegun mendengar itu. Pantas saja Naila bertanya, Dia juga takut jika suatu saat akan di madu oleh Gus An seperti kebanyakan keturunan kiyai lainnya yang menerapan teori menikahi perempuan lebih dari satu.
“Jadi itu yang kamu khawatirkan sayang...?” Naila mengangguk, bukan itu saja alasan Dia menolak menjadi menantu kiyai. Selain Dia bukanlah perempuan alim yang sudah paham berbagai macam hukum, latar belakangnya juga hanya dari orang biasa saja. Biasanya hal itu akan di perbincangkan oleh sebagian besar masyarakat setempat meskipun dalam dakwahnya Abi selalu menyampaikan maqolah, belajarlah kamu agar di mulyakan oleh makhluk Allah.
...****************...
Ting... ponsel Naila berbunyi. Dengan semangat Dia langsung meraih benda pipih itu. Dua sahabatnya sepertinya sudah saling rindu. Dia buka aplikasi hijau yang menjadi prioritas manusia jaman now. Tidak menemukan pesan dari Laras maupun Naila, yang ada malah dari nomor baru.
“Siapa ya...?” Naila berpikir keras terlihat menebak siapa yang mengirim pesan berupa salam karena tidak ada profil yang jelas mengenai pengguna nomor tersebut. Tidak ada namanya, poto profilnya pun hanya berupa logo sholawat. Naila terpaksa harus membalas pesan itu siapa tau ada hal penting yang harus di sampaikan.
__ADS_1
“Gus An.” Naila terkejut saat membaca balasan dari nomor tak di kenal tadi. “Dapat nomorku dari mana beliau?”