
“Ma’af Gus, eh maksudnya Mas. Kalau Naila tidur disini kayaknya bisa. Tapi kalau semua barangnya ikut dibawa kesini kayaknya nggak bisa. Semua Santri akan curiga, seakan-akan Naila santri yang spesial bagi Abi dan Umi’...”, Gus An menampakkan ekspresi tidak terima. Toh memang Naila spesial buat Abi sam Umi’, apalagi buat Gus An sendiri.
“Turutin saja permintaan Naila, dia nggak salah. Bukankah kalian masih ingin menutupi pernikahan bukan?”, Umi Azizah menyahut dari ambang pintu. Entah sejak kapan beliau ada di situ.
“Umi’...” ucap Naila dan Gus An hampir bersamaan karena dikejutkan oleh Umi’. Gus An menunduk, mengisyaratkan bahwa dirinya menerima masukan dari Umi’.
“Kamu jangan terlalu mengekang Naila, dia juga pasti masih pengen bareng-bareng sama teman-temannya. Nggak masalah lah, bentar lagi juga mau lulus kan, entar terserah kamu mau ngapa-mgapain Naila sesuka hatimu bebas...”, Umi’ mengulas senyum mengejek kepada putranya lantas meninggalkan mereka berdua. Sedangkan Naila dan Gus An saling tatap.
“Mas, Umi’ tadi bilang apa?”, tanya Naila kepada Gus An. ternyata dia tidak sepenuhnya mendengar ucapan Umi’. “Yang mana...?, Umi’ bilang kamu nggak apa-apa naruh barang dikamar sana, yang penting jangan lupa naruh hati.”
“Bukan begitu, yang tadi lo akhir-akhir ucapan beliau sebelum Umi’ meninggalkan ruangan...”, Gus An sendiri merasa kesal dengan Naila. Istri kecilnya itu ternyata super kepo. Ya, bagaimana tidak. Dia alumni Santri bar-bar nomor satu di Pesantren.
“Umi’ bilang, biarkan kamu bersama teman-teman dulu sebelum kalian lulus. Mas kasih kamu dispensasi buat ngelakuin apapun sama temen-temen, besok kalau udah lulus tinggal Mas yang apa-apain kamu,” Gus An melemparkan senyum nakal sambil menaik turunkan alisnya.
“Maksudnya gimana sih, aku nggak ngerti,” Gus An membuang nafas kesal. Istri kecilnya selain cerdas dalam urusan pendidikan ternyata juga lola dalam urusan rumah tangga. “Bocil mana paham”, karena kesal Gus An langsung menyambar handuk dan masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan Naila masih memutar otaknya, berusaha memahami apa saja yang diucapkan Umi’ dan suaminya tadi sambil menata ulang baju-baju yang ada di lemari pakaian.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Gus An keluar dalam keadaan rambut dan tubuhnya masih basah. Naila terperangah melihat pesona Gus An yang nampak sangat berwibawa dalam keadaan seperti itu, meskipun postur tubuh Gus An tidak begitu kekar dan sispact akan tetapi sudah cukup membuat jantung Naila berdetak tak karuan.
Saat Gus An menyadari tatapan Naila. Istrinya itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia merasa malu karena terciduk menatap suaminya cukup lama. “Kamu harus biasakan melihat tubuh yang gagah perkasa ini Nai”, Gus An tersenyum sambil mengangkat lengannya sebelah kanan. Mungkin niatnya untuk menujukkan otot-otot yang kuat kepada Naila, akan tetapi tidak lama diturunkan kembali karena merasa insecure tidak seperti kebanyakan pria yang rajin olahraga. Naila cekikikan sendiri melihat kelakuan suaminya yang dianggap lucu.
‘Ternyata Gus An receh banget, kalau ngajak ketawa itu bilang-bilang dulu kek biar nggak crispy’
“Kamu nggak siap-siap sholat jama’ah Nai, ini Mas udah siap banget loh...”
“Aku lagi berhalangan Mas, mau disini aja dulu sampai entar malam pas musyawarah baru balik ke kamar.”
“Baru tadi pas mau kesini”
“Yah, gagal dong...” Gus An menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
...****************...
__ADS_1
Naila merasa sangat jenuh di kamar Gus An sendirian, biasanya saat tamu bulanannya datang selalu saja bareng Laras atau Rara. Sholat jama’ah beserta wirid yang dipimpin oleh Gus An ternyata cukup lama.
‘Sejak kapan Gus An suka berlama-lama?’
Rasa kantuk mulai menyerang Naila, akan tetapi saat ini dirinya teringat sesuatu. Tangannya dengan sigap mencari benda tersebut di tengah tumpukan baju.
‘Ini dia, sepertinya lumayan buat ngurangin ngantuk’
Di bukanya benda pipih miliknya sendiri, bukan milik Gus An. Apalagi kalau bukan ponsel. Gus An mengizinkan Naila mengoperasikan telepon pintarnya selagi tidak mengganggu belajar, siapa tau bisa jadi alat hiburan karena selama ini Naila sudah banyak belajar dengan keras. Itung-itung buat nyenengin Naila juga kan.
Naila mulai berselancar di aplikasi membaca online, sebuah platform novel gratis yang menyediakan berjuta-juta cerita menarik. Dia barusaja mendownload aplikasi itu beberapa hari lalu, saat pikirannya suntuk dan takut untuk menghadapi pernikahannya dengan Gus An. Tak butuh waktu yang lama ternyata dia malah terlelap bersamaan dengan rasa kantuknya.
Gus An yang baru saja turun dari jama’ah berdecak melihat Naila yang tidur dalam keadaan ponselnya masih menyala. Benda pipih itu diraih oleh Gus An dengan niatan untuk mengeluarkan layar dari aplikasi tersebut.
“Astaghfirullah Naila baca beginian...” Gus An terlihat murka saat menatap layar ponsel Naila. Akan tetapi amarah itu mau diluapkan kemana? Naila sendiri juga sedang tidur. Akhirnya Gus An hanya membuang nafas kasar lantas menghapus aplikasi itu dari ponsel Naila. Selain itu semua aplikasi yang ada di cek seluruhnya oleh Gus An, siapa tau ada aplikasi aneh-aneh yang disimpan Naila.
__ADS_1