
Mereka baru keluar dari kamar setelah melaksanakan sholat isya’. Tidak ada percakapan serius antara Naila dan Gus An selama di kamar. Mereka hanya sesekali bercerita untuk mengenal antara satu sama lain. Ibu Naila menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Naila mengenakan kaos oblong panjang dan sarung ala pesantren.
“Kamu kenapa masih memakai pakaian seperti itu...?” bisik ibunya saat baru ada mereka berdua di meja makan. Ayahnya dan Gus An masih belum ikut bergabung karena masih diskusi masalah bisnis.
“Emang kenapa bu...? bukannya Naila selalu mengenakan pakaian seperti ini juga saat di rumah. Toh tidak ada aurat Naila yang kelihatan kan...?” bu Ania menepuk jidatnya. Beliau menyesal karena lupa memprivat Naila terlebih dahulu sebelum menikah.
“Bukan begitu maksud ibu, justru jangan pakai yang seperti itu. Kamu sudah pasti tidak akan menarik di mata suamimu nanti.” bisik bu Ania dengan lirih agar tidak di dengar oleh siapapun. Naila mengangkat kedua bahunya, masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan sang ibu. Tentu saja ibunya di buat gemas sendiri. Apalagi belum sempat memberikan penjelasan kepada Naila, Ayahnya dan Gus An sudah datang.
Gus An duduk di samping Naila dengan canggung lantaran baru pertama kali makan bersama istri dan mertuanya. Pak Said berdehem, memberikan isyarat agar makan malam segera di mulai. Bu Ania meraih piring kemudian mengambilkan nasi untuk suaminya. Sedangkan Naila masih seperti kebiasaannya, dia ikut meraih piring lantas menyodorkan kepada ibunya agar di isi dengan nasi beserta lauknya. Gus An hanya melongo menyaksikan tingkah Naila yang ternyata masih sangat kekanakan.
__ADS_1
“Ambil sendiri lah, kamu itu sudah besar. Jangan lupa ambilkan untuk suamimu juga.” celetuk Ayahnya sambil terkekeh. Naila benar-benar lupa kalau saat ini sudah berganti status menjadi seorang istri. Dia ternyata telah mengabaikan Gus An yang duduk di sampingnya begitu saja.
Apa aku ini cuma di anggap patung sama Naila?
Naila dengan canggung mengisi piring kemudian di letakkan di depan Gus An. Orangtuanya tersenyum tipis. “Lauknya mana...? masa cuma makan nasi doang...?” ayahnya sengaja menggoda Naila. Melihat anaknya salah tingkah sendiri itu di anggap sebagai pemandangan yang sangat lucu.
Setelah ritual makan malam selesai, Naila menyempatkan untuk menonton TV. Dia meraih remote untuk mencari channel kesukaannya. Tak butuh waktu yang lama akhirnya rasa kantuk datang dan membuatnya terlelap. Gus An kembali diskusi dengan mertuanya mengenai kelanjutan kerjasama meraka. Saat semua sudah di anggap beres, mereka memilih untuk melanjutkan aktifitasnya masing-masing. Pak Said segera masuk kamar dan Gus An masih tetap bersantai di ruang tamu
“Kebiasaan nih anak, kalau tidur suka sembarangan.” Pak Said menyaksikan Naila yang tertidur di sofa, lantas beliau membangunkannya. “Nak, pindah ke kamar sana. Jangan tidur disini.” tidak ada reaksi apapun, Naila hanya menggeliat. Anak itu jika tidur susah untuk di bangunkan. Ayah dan ibunya sampai capek membangunkan Naila, mau di gendong Ayahnya ke kamar tapi sungkan dengan menantu karena bagaimanapun juga putrinya itu sudah ada yang punya. Sedangkan Gus An sendiri sebenarnya sudah berinisiatif untuk membawa Naila ke kamar, akan tetapi sungkan dengan mertua.
__ADS_1
“Naila, jangan seperti anak kecil. Kamu sudah bersuami, dia menunggumu sejak tadi.” Ibunya sengaja membisikkan kata-kata yang horor agar Naila bangun. Akan tetapi tetap sama, tidak ada reaksi apapun.
“Biar saya pindahkan ke kamar aja yah...” Gus An akhirnya mengalah. Tubuh Naila yang ideal ternyata membuat Gus An yang tak begitu kekar itu keberatan. Beliau langsung menjatuhkan Naila dengan keras ke atas ranjang karena nafasnya sudah senin kamis.
“Bangun Naila, kamu harus ke kamar mandi dulu sebelum tidur, wudhu dan menggosok gigi agar tidak di ganggu setan.” Gus An mengguncang tubuh Naila, akan tetapi istri kecilnya itu tetap di posisi yang sama.
Naila kalau tidur udah kayak kebo aja
Gus An mendengus kesal karena tidak berhasil membangunkan Naila. Beliau sendiri memutuskan untuk ke kamar mandi, berwudhu lantas ikut tidur di samping istrinya.
__ADS_1