
“Naila di panggil umi’...” Laras datang tergopoh-gopoh saat Naila baru saja selesai mandi. Tentu saja membuatnya ikut panik, karena tidakbaik membuat guru kita menunggu lama. Dengan mengenakan pakaian yang masih compang camping dan hijab yang belum sempurna di kancing, Naila menuju ke dalam kamar umi.
“Kamu harus ikut umi Naila...” ucap umi sambil membenarkan hijab dan make up yang sedikit kurang rapi.
“Kemana mi...?”
“Udah ayo jangan banyak tanya. Ini seharusnya umi sudah harus ada disana.” Naila mengangguk, akan tetapi saat dia izin untuk mengganti pakaian umi melarangnya.
“Nggak usah, pakai itu saja sudah cantik. Ayo cepetan...” mau nggak mau Naila harus tetap mengenakan pakaian yang dia kenakan saat ini. Neng Aufa sudah menarik tangannya untuk segera masuk ke dalam mobil. Tak butuh waktu yang lama, akhirnya mobil yang mereka kendarai sudah meluncur ke jalan raya. Naila hanya terus memandang keluar jendela karena masih belum tau tujuan mereka mau kemana. Neng Aufa membuka snack yang di beli di indomaret, kemudian menyodorkan kepada Naila juga.
“Mbak harus makan ini, jangan diam saja.” bujuk Neng Aufa yang memecahkan keheningan. Naila enggan menerima, karena perutnya masih kenyang. Sebelum mandi dia baru makan.
__ADS_1
Butuh waktu dua jam akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Lapangan yang sangat luas dan di penuhi dengan suara kebisingan, banyak orang yang berlalu lalang sambil menyeret barang bawaanya. Mata Naila menyapu ke seluruh penjuru. Dia mungkin asing dengan tempat itu, bandara. Iya tepat sekali itu bandara. Mungkin ini yang pertama kali dia pergi ke tempat itu. Naila merasa insecure saat melihat orang-orang disana mengenakan pakaian yang bagus-bagus, sedangkan dirinya hanya mengenakan sarung dan baju tunik selutut yang sudah agak berubah warna. Sandalnya pun sudah mau putus saat di ajak berjalan. Maklum sekali, di pesantren tidak boleh mengenakan pakaian dan dandanan yang berlebihan. Cukup seadanya saja meskipun mereka dari kalangan konglomerat. Karena di pesantren di ajarkan prinsip hidup sederhana dan tampa membeda-bedakan status.
“Mbak ayo cepetan...” Neng Aufa tidak sabar untuk segera turun dari mobil. Naila hanya pasrah setiap kali Neng Aufa menarik lengannya. Dia belum mengerti tujuan datang ke bandara.
“Mbak Aku punya kejutan, sekarang Mbak harus tutup mata rapat-rapat, nggak boleh ngintip ya. Awas aja kalau ngintip nanti Aku tinggalin Mbak disini.” cerocos Neng Aufa mengancam. Naila terpaksa harus mengikuti meskipun tidak mengerti kemauan Neng-nya tersebut.
“Kalau udah nyampe pada hitungan ke-tiga mbak harus buka mata ya. Kita mulai, satu, dua, tiga...” dengan perlahan-lahan Naila membuka matanya dan betapa terkejutnya dia saat mendapati orang yang ada di depannya ternyata adalah__.
“Gus...” dengan susah payah dia menyebut nama orang tersebut. Air matanya tiba-tiba luruh begitu saja. Semua orang mengira jika itu adalah tangis bahagia. Akan tetapi justru sebaliknya.
Naila tak kuasa menahan sesak di dadanya lantaran di belakang Gus An tiba-tiba muncul seorang gadis yang pernah dia lihat sebelumnya. Si gadis cantik itu menyapa umi dan Neng Aufa kemudian mengecup tangan umi. Hati Naila semakin panas, dia langsung pergi begitu saja menuju ke arah mobil yang terparkir agak jauh. Dia menangis sesenggukan disana.
__ADS_1
“Cepat kejar Naila, dan jelaskan padanya sebelum keadaan semakin rumit.” perintah umi yang sepertinya memahami pikiran Naila saat ini. Gus An tentunya sudah berinisiatif sendiri. Beliau mengejar Naila sendirian tanpa ada yang mengikuti di belakangnya.
“Naila, tolong tenangkan pikiran kamu dulu. Baru kita bicara baik-baik.” Pinta Gus An seraya tidak tega melihat Naila yang menangis begitu dalam. Bagaimana tidak, setelah berjanji akan menikahinya justru laki-laki itu pergi begiru saja tanpa memberikan kabar apapun. Empat bulan lamanya Gus An berada di Mesir, dan itu bukanlah waktu yang singkat untuk bisa move on. Pikirannya kacau balau, niat belajarnya yang baru saja dia tata dengan rapi, kini hancur lebur. Lalu, setelah sekian lama menyiksa pikirannya, kini Gus An tiba-tiba pulang bersama dengan Neng Farah dan umi Azizah malah mengajak untuk menjemput mereka. Rasanya dia seperti di cabik-cabik oleh serigala.
“Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi gus, semua sudah cukup jelas. Dan saya tidak butuh penjelasan itu.” ucap Naila dengan terbata-bata dan mata yang di penuhi dengan kekecewaan.
“Naila, saya tau kalau kamu pasti marah besar. Saya minta maaf sama kamu. Ada hal yang harus kamu ketahui.” Naila tersenyum miring, enak saja udah bikin anak orang setres datang-datang cuma mau minta maaf. Permintaan maaf tidak bisa menebus rasa kecewa yang di alaminya selama ini, batinnya.
“Mau menjelaskan apa lagi sih gus, setelah lamaran itu saya terima dan jenengan bersedia untuk menikahi saya dalam waktu singkat, akan tetapi jenengan malah mengingkari janji itu, membuat semua keluarga saya kecewa terutama Ayah sama ibu. Lantas jenengan menghilang begitu saja, nomor dan media sosial nggak bisa di hubungi, tanpa ada kejelasan hubungan yang seharusnya kita jalani. Dan sekarang tiba-tiba pulang bersama gadis lain, lalu maksudnya apa jenengan melamar saya itu gus...? lelucon mana yang mau jenengan lakukan buat menghancurkan hidup saya. oke, saya paham, saya bukanlah siapa-siapa. Hanya santri nakal yang selalu berbuat rusuh di pesantren, hanya orang biasa yang bukan berasal dari keluarga terpandang. Sedangkan jenengan sudah pasti memilih perempuan yang jauh di atas saya...”
“Cukup Naila...” bentak Gus An saat melihat nafas Naila semakin tersengal. Hatinya sakit melihat Naila menangis seperti itu, serta dia pasti sedang dalam puncak kemarahan.
__ADS_1
“Naila...” Gus An langsung merampas tubuh yang tiba-tiba lemas lunglai terjatuh ke tanah. Beliau menyesal telah memperlakukan seperti itu. Hati perempuan mana yang tidak sakit dengan harapan palsu seorang laki-laki, sedangkan dia sudah memiliki komitmen untuk mencintai laki-laki itu bahkan siap untuk menjadi pendamping hidupnya. Umi Azizah, Neng Aufa serta Neng Farah iba melihat dari kejauhan. Mereka semua segera menuju ke tempat Gus An dan Naila.
“Kita bawa ke rumah sakit sekarang juga An...” ucap umi dengan panik karena takut terjadi apa-apa sama Naila.