GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR

GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR
Bab 36


__ADS_3

“Silahkan Abi, Umi.” keluarga Naila menyambut dengan ramah. Sedangkan Naila sendiri belum mengerti maksud dari kedatangan tamu yang sangat terhormat itu.


“Kata Ibu yang datang rekan kerja Ayah, kok malah keluarga dari pesantren...?” ucap Naila tanpa sengaja meluncur begitu saja. Semua yang ada di ruangan itu tersenyum. Apakah ini kejutan yang akan di berikan oleh Ayah?


“Jadi ini kejutannya dari Ayah sayang. Ibu tidak berbohong, memang benar Gus An adalah rekan kerjanya Ayah.” Pak Said menceritakan awal mula mengenal Gus An. Mereka berdua bertemu di bandara saat pak Said baru saja datang dari luar kota untuk urusan bisnis, sedangkan Gus An akan berangkat ke Mesir. Di saat kurang dua jam lagi pesawat yang akan di tumpangi Gus An take off, beliau tiba-tiba di rampok. Pelakunya membawa tas Gus An yang berisi handphone, pasport, uang, ATM serta dokumen-dokumen penting lainnya. Mengetahui Gus An yang sedang mengejar si pelaku, pak Said berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Gus An sampai akhirnya berhasil menemukan jejak dan mengambil alih barang-barang berharga tersebut. Akan tetapi, Gus An masih tetap saja terlambat dan harus menunda keberangkatan. Hal itu tidak menjadi masalah besar. Beliau di beri keselamatan dan barang-barangnya kembali saja sudah alhamdulillah. Sebagai imbalan, Gus An menawarkan untuk kerjasama serta memberikan sebagian sahamnya untuk pak Said. Bukan hanya itu, Gus An juga menawarkan beasiswa pendidikan jika pak Said berkenan menyekolahkan anak-anaknya di pesantren milik Abinya. Tapi pak Said tidak menerima itu, beliau ingin pendidikan anaknya murni di tanggung sendiri.

__ADS_1


“Oh jadi seperti itu, kenapa Ayah tidak pernah bercerita padahal kejadian itu sudah lama, sejak Aku masih SD.”


“Karena kamu masih kecil, mau Ayah cerita bagaimanapun kamu tidak akan faham.” Pak Said merangkul Naila yang ada di sampingnya. Semua orang tertawa mendengarnya. Suasanya menjadi hangat saat canda tawa bercampur menjadi satu.


“To the point saja, intinya hari ini saya melamar kamu untuk menjadi bagian dari hidup saya. Saya sudah membicarakan ini dengan Pak Said jauh-jauh hari. Saya akan menunggu sampai kamu siap untuk menikah.” Naila tidak menyangka Gus An akan bicara se-serius ini. Dia tercengang tidak bisa berkata-kata lagi. Beberapa hari lalu Gus An sempat mengungkapkan, akan tetapi Naila mengira kalau itu hanya lelucon. Bagaimana mungkin Dia akan menikah dengan seorang putra kiyai yang sudah berpendidikan tinggi serta memiliki karir yang bagus. Sedangkan dirinya hanyalah bocah ingusan yang belum mengerti apa-apa. Nasabnya pun hanya dari orang biasa, bukan dari seorang kiyai ataupun wali. Bisa-bisa Dia akan di bicarakan oleh orang sedunia. Nyalinya ciut. Dia benar-benar insecure.

__ADS_1


...****************...


Sudah lewat tengah malam, Naila tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan keputusannya menolak Gus An. Apakah sudah benar atau justru akan berakibat sangat fatal. Masalahnya Dia harus berurusan langsung dengan keluarga kiyai. Dia mencoba mengingat semua kebaikan yang telah dilakukan Gus An kepadanya, juga mengingat semua kejahilan Gus An.


“Aaa... sial banget sih kamu Nai, masih bocah harus berurusan dengan orang dewasa.” Naila menutup wajahnya dengan guling. Dia jungkir balik memikirkan masalah itu.

__ADS_1


__ADS_2