GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR

GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR
Bab 47


__ADS_3

Setelah mandi dan membersihkan badannya, Naila memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Padahal hari itu mereka hanya melaksanakan akad nikah saja belum juga mengadakan resepsi, akan tetapi badannya sudah terasa sangat lelah. Gus An yang baru saja selesai mandi tersenyum tipis saat mendapati Naila terlelap. Di pandangi wajah istri kecilnya itu yang polos tanpa di ulas dengan make up.


Cantik, imut... batin Gus An dalam hati. Sambil menunggu waktu sholat ashar tiba, akhirnya Gus An ikut merebahkan tubuhnya di samping Naila. Dia pandangi lekat-lekat wajah Naila. “Kau sekarang bukan lagi gadis yang nakal Naila, dan Aku kehilangan sikap kamu yang meresahkan itu. Kau jadi sedikit lebih dewasa saat ini.” tanpa perlu waktu yang lama Gus An juga ikut terlelap.


Naila menggeliat saat alarm yang ada di ponselnya berbunyi. Biasanya Dia akan bangun untuk melaksanakan sholat ashar pada waktu itu. Dadanya sedikit sesak karena ternyata ada sesuatu yang ada di atasnya.


“Aaa...” pekik Naila saat melirik ke arah sampingnya mendapati Gus An yang tidur sambil memeluknya dari samping. Seketika Gus An langsung terbangun karena kaget dengan teriakan Naila. Sedangkan Ayah dan ibunya yang sedang berada di ruang santai merasa cemas akan putrinya yang mungkin saja sedang di unboxing oleh Gus An.


“Naila kenapa itu yah...? apa Gus An akan melakukannya langsung sampai Naila berteriak seperti itu.” bu Ania terlihat sangat cemas dan panik. Mengingat dulu beliau pernah merasakan hal yang sama setelah pernikahan di langsungkan.

__ADS_1


“Udahlah bu, Naila sudah ada yang punya. biarkan Gus An melakukan apapun yang dia suka. Toh itu sudah maklum terjadi pada pengantin baru.” jawab Pak Said dengan santai. Bu Ania mencubit perut suaminya dan membuat Pak Said meringis kesakitan. “Laki-laki memang tau enaknya doang, nggak tau apa kalau saat pertama kali melakukan itu rasanya sakit banget.” Pak Said hanya tersenyum smirk.


Di kamar, Gus An langsung menutup mulut Naila dengan kedua tangannya karena takut jika mertuanya akan mendengar teriakan istri kecilnya itu. Tentunya mereka akan berburuk sangka akan adegan apa yang telah di lakukan sang menantu kepada anaknya.


“Aww...” Gus An meringis saat Naila menggigit tangannya. Gadis kecilnya ini ternyata masih nakal juga.


“Naila, kamu kenapa nak...?” mata Gus An melolot memberikan isyarat agar Naila diam dan tidak berteriak lagi. Sedangkan orangtuanya yang semakin panik karena takut terjadi apa-apa dengan putrinya menggebrak pintu kamar tersebut. Gus An langsung melepaskan tangannya yang membungkam mulut Naila kemudian melemparkan senyum kepada mertuanya. Sedangkan Naila malah lari ke arah orangtuanya, mengadukan apa yang di lakukan Gus An kepadanya.


“Ayah, ibu... Gus An mau membunuhku. Mulutku di bungkam dengan kedua tangannya sampai Aku kesulitan bernafas.” Gus An mengusap wajahnya kasar, dirinya telah di permalukan di depan mertuanya. Pak Said dan bu Ania tersenyum.

__ADS_1


“Kamu jangan nakal, yang nurut sama Gus An.” ucap Ayahnya sambil mengedipkan mata kepada Gus An. Bu Ania jadi ingin ikut tertawa melihat putrinya yang masih polos tiba-tiba menikah dengan laki-laki yang sudah cukup umur. Mereka berdua pamit undur diri agar tidak mengganggu aktifitas menantu serta anaknya.


“Lain kali jangan teriak seperti itu Naila, kau membuatku malu di depan Ayah dan ibu...” ucap Gus An sambil mendengus kesal.


“Salah siapa Gus An tiba-tiba tidur di sampingku, lalu tau-tau membungkam mulutku sampai Aku hampir mati.” jawab Naila dengan nada tidak bersalah sama sekali. “Kau tau, Ayah dan ibu pasti mengira kamu kesakitan saat melakukan itu.” Naila menutup mulutnya saat Gus An memberikan pengertian kepadanya. Benar saja, mereka senyum-senyum sendiri saat menatapnya.


Setelah drama yang panjang kali lebar, masing-masing memutuskan untuk mandi dan melaksanakan sholat ashar berjamaah. Pemandangan yang sangat indah, itulah pertama kali Naila melaksanakan sholat hanya berdua dengan Gus An. Meskipun kerap kali Gus An menjadi imam sholat saat di pesantren, tapi untuk kali ini rasanya sangat berbeda. Suara Gus An yang merdu lebih menentramkan hatinya.


Mungkin ini jawaban dari Allah, dulu Aku pernah berdo’a untuk meminta jodoh yang seperti ini, dan sekarang do’aku sudah terkabul.

__ADS_1


__ADS_2