
Pagi harinya, Naila menggeliat saat mendengar suara Gus An yang sedang membaca Al-Qur’an. Suaranya nyaring akan tetapi membuat candu bagi Naila. Dia memicingkan mata untuk mengintip Gus An kemudian pura-pura masih tidur agar bisa berlama-lama mendengar suara merdu suaminya itu. setelah dirasa cukup, Gus An mengakhiri bacaannya.
“Shodaqallaahul ‘Adhiiim...” Gus An menutup Al-Qur’an lantas meletakkannya di meja belajar Naila.
“Bangun Naila, waktu subuh sudah hampir habis.” Gus An mengguncang tubuh Naila. Masih sama sejak semalam, tidak ada respon sama sekali. Naila kembali memicingkan mata untuk mengintip apa yang akan di lakukan Gus An selanjutnya. Gus An menyadari jika Naila melakukan hal itu.
“Apa Aku cium aja kali ya, biar bangun...” ucap Gus An sambil tersenyum licik. Naila yang mendengar dengan jelas langsung meloncat dari tempat tidur agar suaminya tidak jadi mencium. Saking kagetnya Gus An sampai terjatuh ke lantai. Beliau yang awalnya berniat untuk mengerjai Naila kini justru terkena adzab sendiri. Sedangakan orang yang akan di kerjai malah tertawa terbahak-bahak.
“Sssttt, jangan keras-keras. Nggak baik perempuan tertawa seperti itu,” Gus An menutup mulut Naila dengan telapan tangannya.
...****************...
__ADS_1
Sore harinya, mereka berdua akan kembali ke pesantren karena Naila hanya mendapatkan izin tiga hari dengan alasan ada urusan keluarga. Jantung Naila semakin berdebar-debar saat mobil Gus An mulai melaju dengan kecepatan sedang. Meskipun sudah pernah sekali naik mobil hanya berdua dengan Gus An, akan tetapi untuk kali ini rasanya berbeda dengan yang sebelumnya. Rasanya seperti sedang berkencan.
“Kamu kenapa diam saja...?” tanya Gus An sambil tatapannya fokus ke depan menyetir. Sesekali beliau menoleh ke arah Naila yang ada di sampingnya. Naila menggeleng cepat.
“Masih nggak nyangka aja Gus, rasanya itu kayak mimpi. Nikah di usia yang masih sangat muda tidak pernah melintas di kepalaku.”
“Lalu apa kamu akan menyesali pernikahan ini?” Naila menggeleng lagi. “Aku hanya mengkhawatirkan beberapa hal saja Gus,” ungkapan Naila membuat Gus An menaikkan satu alisnya.
“Hmmm siapa itu, Aku jadi lupa,” Gus An tidak menemukan nama si gendut. Mungkin yang di maksud adalah Laras. Karena satu-satunya teman Naila yang berbadab gemuk adalah Laras, selebihnya badannya ideal semua. Mungkin hanya beberapa yang terlalu kurus sampai terlihat tulangnya.
“Laras...?” Gus An menepuk jidatnya, “Ah iya kenapa Aku sampai lupa nama muridku sendiri,” beliau terkekeh. Niatnya mau mencairkan suasana akan tetapi malah crispy, Naila tidak tertawa sama sekali.
__ADS_1
“Sebenarnya apa yang kamu takutkan sayang...?” Naila mengerucutkan bibir, dia belum terbiasa dengan panggilan itu. Telinganya sangat geli setiap mendengarnya. “Banyak sih Gus, eh ma’af, Mas...” mata Gus An langsung berbinar saat mendengar Naila memanggilnya dengan sebutan Mas. Beliau sangat antusias untuk mendengarkan cerita dari Naila, akan tetapi istri kecilnya justru menampakkan wajah resah. Dia meremas jemarinya, tidak berani untuk mengungkapkan permintaannya. Tangannya berkeringat dingin. Gus An memegang tangan Naila agar sedikit lebih tenang.
“Kamu terlihat sangat gugup, sebenarnya apa yang mau kamu katakan?”
“Anu, hmm, anu...” Gus An membulatkan matanya untuk menyimak apa yang akan di ucapkan Naila. Akan tetapi tak kunjung mengucap sepatah kata apapun.
“Aku tidak mau hamil terlalu cepat, apa kata teman-temanku nanti. Apalagi Aku juga masih ingin kuliah,” Naila memberanikan diri. Sebenarnya kata-kata itu sangat berat untuk di ucapkan kepada suaminya. Dia takut jika Gus An akan marah kepadanya, kalaupun tidak mau hamil kenapa harus menikah?
Gus An mengangguk kemudian tersenyum, beliau sangat memaklumi keadaan Naila. Semenjak awal sudah merencanakan ini. Tidak akan menyentuh Naila kecuali saat istrinya sudah siap.
“Mas tidak marah kan...?” Gus An ikut menggeleng seperti kebiasaan yang di lakukan Naila.
__ADS_1