
Naila perlahan mengerjapkan matanya. Pandangannya sedikit kabur dan dadanya masih terasa sesak. Netranya menyapu seluruh isi ruangan. Tampak dari kejauhan seorang laki-laki paruh baya mendekat kepadanya.
“Kamu udah bangun sayang...?” ucapnya dengan lembut. Suara yang sangat khas di pendengaran Naila.
“Ayah...” ucap Naila dengan lirih. Lidahnya terasa pahit, akhir-akhir ini dia sering merasakan hal yang sama. Mungkin karena terlalu keseringan stres. Seorang laki-laki yang baru saja memasuki ruangan langsung menyapa Naila.
“Naila...” orang yang di sapanya itu tidak menjawab, hanya membuang muka ke arah lain. Bayang-bayang kejadian yang barusaja di alami terus melintas di kepalanya.
“Nak, Ayah tau kamu sangat marah dengan Gus An. tapi tolong dengarkan beliau memberikan penjelasan terlebih dahulu ya sayang...” pinta Ayahnya dengan wajah sangat memohon. Beliau tau betul apa yang sekian lama di alami oleh putrinya itu. Naila hanya diam tidak memberikan jawaban apapun, tatapannya kosng ke depan. Dia sama sekali tidak mau melihat wajah Gus An. Jangankan melihat, melirik saja tidak.
__ADS_1
“Naila, izinkan saya berbicara sebentar. Ada hal yang harus kamu mengerti.” Ucap Gus An dengn lembut. Naila hanya diam tidak mau mendengarkan. Gus An langsung angkat bicara karena Naila juga pasti tetap akan mendengar.
“Tolong beri kesempatan kedua, tidak ada niatan untuk memberikan harapan palsu kepada kamu selama ini Nai. Saya tentu akan menepati janji, menikahi kamu secepatnya. Saya tau, kamu sudah belajar dengan keras untuk mencintai saya___”
“Ah siapa yang bilang.” seru Naila memotong ucapan Gus An. wajahnya sudah memerah seperti tomat. Membuat Gus An ingin lebih cepat mengikatnya dengan status yang halal agar bisa leluasa mencubit hidung gadis itu.
“Ayah yang bilang...” ucap Ayahnya tidak terima. Naila ingin protes karena tidak terima dirinya dibicarakan di belakang. “Jangan memotong ucapan Naila, dengarkan sampai Gus An selesai berbicara.” Ayahnya sedikit menaikkan volume suara. Gus An mengehela nafas panjang, kemudian melanjutkan pembicaraan.
“Idih nggak masuk akal, bilang aja kalau cuma akal-akalannya Gus An.” Sergah Naila dengan nada yang ketus. Dia kembali menunduk saat melihat wajah Ayahnya dengan mata membulat. “Gus An tidak berbohong Naila...”
__ADS_1
“Lalu kenapa tidak beli ponsel baru...? kan uang Gus An banyak...?”
“Saya dengan mudah bisa membeli ponsel baru, akan tetapi tidak bisa membeli kontak orang-orang yang telah hilang Naila...” Gus An sedikit meninggikan volume suara. Kali ini harus ekstra sabar menghadapi bocah labil. Salahnya sendiri, mencintai gadis yang umurnya terpaut lumayan.
“Butuh waktu yang lama untuk kembali bisa menghubungi orang-orang di Indonesia.”
“Lalu kenapa Gus An tidak segera menghubungi Aku ataupun Ayah...? kasihan Ayah selalu mengkhawatirkan keadaanku yang sering stres.” Pak Said dan Gus An tersenyum simpul. Naila tidak terima, ada sesuatu yang mereka sembunyikan.
“Gus An sudah menghubungi Ayah sejak lama...”
__ADS_1
“Lalu...?” Pak Said dan Gus An tertawa secara bersamaan. Membuat suasana yang awalnya ingin di buat sedih oleh Gus An kini justru sebaliknya. “Ah, Pak Said merusak suasana saja.” batin Gus An sedikit kesal. Naila membulatkan matanya.
“Kalian menyembunyikan sesuatu dariku kan...?”