GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR

GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR
Bab 50


__ADS_3

Sampai di pesantren Naila langsung menuju ke kamarnya. Wajahnya tampak lesu, badannya juga sudah lengket. Cuaca di luar sangat panas meskipun berada di dalam mobil. Dia merebahkan tubuhnya di lantai, sayup-sayup kesadarannya sedikit melayang. Alias on the way tidur.


“Rara, tuan putri sudah datang...” teriak Laras sambil memeluk tubuh Naila yang tidur, membuat jantung sahabatnya itu langsung berdenyut lebih cepat, kepalanya pusing, baru saja mau tidur tiba-tiba di kagetkan. Naila tentu memarahi Laras habis-habisan.


“Bisa nggak sih nggak ngagetin orang tidur. Aku tuh capek habis perjalanan jauh, sekarang kamu harus tanggung jawab. Kepalaku pusing banget gara-gara kamu,” Laras semakin bersemangat menggoda Naila kalau gini caranya. Dia menunjukkan wajah tanpa dosa sambil mengedipkan matanya sok imut.


“Cerita dong Nai, udah berapa kali kamu ngadon? kenapa wajahmu kusut seperti itu, pasti kamu capek ya...?” Rara datang menghampiri mereka, membuat suasana semakin riuh. Dia mendapatkan sebutan The master of enceria karena sangat lihai dalam hal mencairkan suasana.


“Aku sih nggak ikut ngadon, biasanya ibu sendiri yang melakukannya. Ibu takut kalau ada yang salah soalnya Aku kan masih belajar,” ucap Naila dengan wajah tanpa dosa. Laras dan Rara memijat jidatnya masing-masing, ini bukan soal mengadon kue. Pasti Naila mengira kalau yang di tanyakan adalah soal mengadon kue karena merupakan makanan favoritnya. Dia begitu polos dalam urusan percintaan dan dunia pernikahan meskipun telah di cap sebagai The master of bar-bar.

__ADS_1


“Coba kamu berdiri,” Rara meminta Naila untuk berdiri, kemudian berjalan dan kembali duduk. “Nggak ada yang aneh,” batin Rara.


“Emang kenapa sih kalian ini pada nggak jelas semua deh,” protes Naila yang anehnya dia ternyata menuruti intruksi Rara.


“Kamu belum melakukan apa-apa Nai...?” Naila yang di tanya membulatkan mata. Sejak tadi masih tidak mengerti dengan apa yang di maksud teman-temannya. “udah makan, mandi kemudian berangkat kesini. Kalian kira aku kebo apa nggak ngelakuin apa-apa,” Rara dan Laras di buat gemas sendiri. Kenapa Naila masih sangat polos? Apa dia kira pernikahan hanyalah sebatas dua insan yang hanya bersama kesana kemari saja?


“Naila sayang, Neng barunya Aku, dengarkan Rara baik-baik ya. Maksudnya apa kamu belum anu-anu sama Gus An...?”, Rara mencoba berbicara tanpa sensor agar Naila cepat faham. Akan tetapi masih sama, Rara membuang nafas kasar. “Aku pengen kamu jadi muridku deh Nai, bakal Aku privat biar kamu nggak lola dalam hal beginian.”


Naila masih melaksanakan aktifitas di ndalem seperti biasa meskipun Umi dan Gus An sudah melarang. Dia takut jika ada santri yang curiga akan statusnya yang sekarang kalau dia hanya ke ndalem tanpa mengerjakan apapun. Padahal Rara dan Laras sudah sangat siap untuk menggantikan tugas Naila secara kesluruhan.

__ADS_1


“Naila sini,” Gus An menarik lengan Naila agar menuju kamar beliau. Di bukanya lemari pakaian yang sudah terisi dengan pakaian perempuan. Naila sangat terkejut melihatnya, ada banyak set gamis dan tunik baru. Bukan hanya itu, ternyata ada beberapa lembar pakaian dalam yang tentu membuatnya malu sendiri.


“Ini pakaian baru buat kamu, terserah mau di pakai yang mana dulu. Satu hal yang harus kamu taati, tiap malam harus tidur di sini,” Gus An menepuk tempat tidurnya. Naila tidak bisa berkata-kata, sebenarnya ini impas. Dia punya permintaan, Gus An juga punya permintaan. Naila menarik nafas, kemudian mengangguk meskipun dengan berat hati. Gus An lega mendengarnya.


“Barang-barang kamu yang masih di pesantren juga seharusnya di pindah ke kamar ini Naila,” Naila segera menggeleng. Bagaimana mungkin, semua orang akan curiga kalau Naila terus-terusan ke ndalem untuk mengambil barang.


“Wow, lihat mereka so sweet banget,” Laras menarik Rara yang sama-sama sedang bersih-bersih tepatnya di depan kamar Gus An. Akibat pintunya terbuka lebar, jadinya mereka berdua bisa mengintip Naila dan Gus An yang sedang berdebat.


“Mbak, lagi ngapain?”, Neng Aufa tiba-tiba muncul membuat Rara dan Laras salah tingkah dibuatnya. Mereka berdua langsung menunduk tanpa menjawab apapun. Neng Aufa menggeleng, lantas menutup pintu tersebut.

__ADS_1


“Mas, lain kali di tutup dong. Awas ada yang ngintip...”


Mana nih support nya😌😌😌 kok pada nggak ngasih dukungan sih, author nggak semangat loh kalau gitu🥲🥲


__ADS_2