
“Aku masih penasaran deh, kejutan apa yang akan Ayah berikan kepadaku...?” serbu Naila yang tak ada hentinya menanyakan itu sejak tadi. Dia terpaksa harus mengikuti kemauan Ayahnya untuk pulang meskipun belum lama Dia baru saja kembali ke pesantren.
“Besok kamu akan tau sendiri sayang. Ini surprise, nggak bisa di ceritakan sekarang.” Jawab Ayahnya yang di ulang-ulang sejak tadi.
“Apakah Ayah akan memberikanku uang karena Aku berhasil mendapatkan prestasi itu kembali, atau membelikan HP baru...? mengajak liburan...? atau Aku mau punya adik...?” Naila sangat penasaran. Dia terus menerus memberondong Ayahnya. Si Ayah hanya melotot saat mendengar pertanyaan yang paling akhir.
“Ada-ada saja kamu mau punya adik. Ibumu itu sudah tidak bisa hamil lagi. Andai saja mau punya adik beneran apa kamu nggak malu...?” ledek Ayahnya sambil mengambil beberapa barang barang belanjaan. Naila hanya mengekori Ayahnya, seleranya untuk shopping hilang seketika karena Cuma penasaran dengan kejutan yang akan di berikan sang Ayah.
“Ayah, yang bener dong...” rengek Naila dengan manja seperti anak kecil. Meskipun seperti itu Ayahnya tetap bersikeras untuk tidak memberitahu. Ibunya pun juga sama. Akhirnya sampai larut malam Dia tidak bisa tidur. Membayangkan apa yang akan di berikan kepadanya.
Ceklek...
“Sayang, kamu belum tidur...?” Ibunya tiba-tiba muncul dari luar.
__ADS_1
“Belum bu, bagaimana Aku bisa tidur kalau Ayah dan Ibu tidak memberitahu kejutannya. Aku tuh penasaran banget, kenapa sampai di jemput Ayah gitu loh bu...” Ibunya tersenyum tipis. Apalagi mendengar pertanyaan yang terus di lontarkan Naila hanya itu-itu saja. Apa dia akan memiliki adik?
“Jangan terlalu di pikirin napa sih nak, yang penting kamu sekarang harus istirahat, tidur, biar besok nggak bangun kesiangan. Soalnya besok kita harus bangun pagi. Bakalan ada tamu spesial buat kita.”
“Tamu siapa bu emangnya...?”
“Rekan kerjanya Ayah bakal berkunjung kesini.” Naila menurut. Dia mengambil wudhu kemudian mematikan lampu. Dia tutup rapat-rapat seluruh tubuhnya dengan selimut hingga terdengar adzan subuh baru terbangun karena Ibunya sudah sibuk di dapur.
“Spesial banget ya bu tamunya, sampai di masakin segini banyak...?” bu Ania mengangguk sambil tersenyum. Naila membantunya tanpa banyak bicara seperti kebiasaan sebelumnya.
Bu Ania tidak banyak menjelaskan apapun kepada Naila. Beliau hanya meminta putrinya untuk berdandan. Beliau juga sudah memilihkan baju yang cocok untuk Naila.
“Bu kenapa ada budhe sama pakdhe juga...?” tanya Naila karena saudara Ibu dan Ayahnya saling berdatangan. Ibunya hanya mengatakan jika tamu ini terlalu spesial sampai mereka ingin ikut serta menyambut.
__ADS_1
“Tamunya sudah datang dek Ania...” budhe sangat antusias ingin menyambut. Beliau menggandeng satu lengan Naila dan Ibunya juga ikut menggandeng tangan satunya.
Duh, kayak apa aja aku di gandeng begini...
“Assalamu’alaikum...” ucap salah satu orang yang baru saja turun dari dalam mobil. Beliau membawa beberapa kardus yang berisi kue ke dalam rumah Naila.
“Wa’alaikum salam. Silahkan Pak, rumah kami ya memang seperti ini. Seadanya, hehe...” seorang paruh baya tadi tersenyum dengan ramah.
“Oh ternyata bapak ini rekan kerjanya Ayah, tapi kenapa sampai pakdhe dan budhe datang...? dan Ibu juga masak cukup banyak...?” batin Naila sambil menyuguhkan air mineral ke hadapan tamu.
“Ini putri pak Said...?” Ayah Naila mengangguk, beliau tersenyum ramah. “Cantik...” ucap si bapak tadi. Naila pikir tamunya hanya itu saja, akan tetapi Dia salah. Justru ada mobil lagi yang berhenti di depan rumahnya.
“Assalamu’alaikum...” beberapa orang masuk ke dalam rumah. Membuat Naila tercengang saat melihatnya. Bukannya Ayahnya bilang rekan kerjanya. Tapi ini kenapa malah ada__.
__ADS_1
“Abi, Umi’...” ternyata yang datang adalah orang-orang yang sangat dia kenal. Neng Aufa pun menyusul di belakang di sertai Gus An. Naila masih terpaku sambil menyikut Ayahnya. Maksudnya apa benar tamunya adalah keluarga Abi?