GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR

GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR
Bab 52


__ADS_3

Malam sudah melewati pukul 22.00, itu artinya Naila tidak mengikuti kegiatan musyawarah di Pesantren. Padahal semenjak tadi gus An sudah berusaha untuk membangunkan istri yang kalau tidur udah seperti kebo itu. Mungkin juga karena masih ada sisa rasa lelah setelah ada acara hajatan di rumah.


“Nai, kamu nggak ikut belajar tuh. Nanti dapat hukuman lo dari mbak Santi,” sekali lagi gus An membisikkan kata-kata yang sama serta mengguncang tubuh Naila. Siapa tau bisa bangun. Akan tetapi masih tetap sama, tidak ada respon sama sekali.


Gus An yang sudah lelah memilih untuk membiarkan Naila melanjutkan tidur. Beliau memutuskan untuk mengambil beberapa buku yang ada di lemari kemudian duduk di sudut ranjang dan membaca buku-buku tersebut. Saat gus An sudah larut dengan buku yang ada di tangannya, tiba-tiba sesuatu menghantam punggungnya.


‘Jedag’, jelas punggung gus An terasa sakit. Kaki Naila mengenai punggung suaminya yang sedang duduk memunggungi dirinya. Gus An mengaduh sakit, andai saja Naila tidak sedang tidur pasti gus An akan marah. Saat ini juga percuma memarahi orang yang nggak sadar diri, eh maksudnya nggak sadarkan diri ya.


“Hmm...” Naila menggeliat, membuat posisi tidurnya berubah. Gus An membalikkan badan, siapa tau Naila bangun. Tapi apa yang telah di lihat gus An?. Beliau mendapatkan hadiah tontonan gratis yang luar biasa. Kemeja tunik Naila tersingkap ke atas sehingga tampak bagian perut yang tertutup dengan pakaian dalam. Untung dia memakai kaos dalam, kalau tidak pasti sudah kayak orang India di film-film bollywood yang suka membuka pusarnya.

__ADS_1


“Hmm...” Naila menggeliat kembali, kali ini lebih dahsyat lagi. Bawahan Naila menyingkap keatas seluruhnya sampai tampak kain kecil berbentuk segitiga. Gus An meneguk salivanya, bagaimanapun beliau laki-laki normal. Posisinya serba salah, kalau dibiarkan seperti itu takutnya kalau tiba-tiba ada yang masuk kamar gimana. Karena biasanya adik yang super bawel itu seringkali membuat jantungan siapapun, tiba-tiba muncul, tiba-tiba menghilang. Kalaupun gus An mau membenarkan rok Naila, takutnya juga terbangun dan malah mengira gus An melakukan hal yang aneh-aneh pada dirinya. Duh, benar-benar dilema gus yang satu ini.


‘Biarin aja, toh sudah halal Aku lihatin terus’


Gus An lebih memilih untuk mengunci pintu kamarnya saja agar tidak ada yang masuk tanpa membangunkan Naila. Sambil cari kesempatan gitu loh, masa kalian nggak ngerti sih.


“Mas, bukain pintunya dong...”, tuh kan ada-ada saja yang datang. Neng Aufa menggedor pintu kamar kakaknya dengan sangat kencang. Gus An lupa akan sesuatu, beliau langsung membuka pintu begitu saja karena tidak tahan dengan ulah si bungsu kesayangannya.


“Astaghfirullahaladziim...” neng Aufa menutup mulutnya saat menyaksikan gaya tidur Naila yang ya, seperti tadi itu loh. Saat gus An menyadari akan hal itu, beliau mendorong tubuh adiknya keluar dari dalam kamar dan menutup pintu kembali.

__ADS_1


‘Kenapa Aku bisa seteledor ini, bisa-bisanya Aufa melihat aib istriku sendiri’, gus An merutuki dirinya sendiri karena lalai menutup aurat Naila. Beliau meraih ponsel lantas mencari nomor telepon neng Aufa, cara lain untuk bisa berkomunikasi dengan adiknya adalah dengan cara tersebut meskipun masih dalam satu rumah. Selain itu juga bisa menghindari cecaran adiknya dan ceramah yang panjang kali lebar kali tinggi seperti rumus matematika.


“Ada apa...?” gus An memulai percakapannya. Sedangkan orang yang mungkin sedang berada dibalik tembok kamar itu hanya diam saja, alih-alih seperti orang yang sawanen dalam bahasa Jawanya.


“Nggak jadi deh mas, lain kali aja,” suara neng Aufa melemah. Gus An tidak kepikiran apapun dengan adiknya. Beliau langsung menutup panggilan dengan sepihak. Gus An memandangi tidur Naila yang seperti jarum jam. Sepertinya memang benar dugaannya Naila terlalu kecapekan.


...----------------...


...Jangan lupa kasih kado buat author ya biar makin semangat, huhu🥰🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2