GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR

GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR
Bab 53


__ADS_3

‘Tok, tok, tok...’ pukul 02.30 dini hari, pintu kamar gus An diketuk dari luar. Terdengar suara umi samar-samar memanggil putra sulungnya tersebut. Gus An masih sulit untuk membedakan mana yang mimpi dan mana yang bukan. Beliau mengabaikan suara diluar dan kembali melanjutkan tidur. Kali ini tidurnya sangat nyenyak karena bisa sesuka hati memeluk Naila. Toh istrinya tidak akan bangun hanya karena pelukannya, bahkan ada petir yang menyambar atau kebakaran pun sepertinya masih bisa tidur nyenyak.


“An, bangun... tolongin Aufa,” saat nama adiknya disebut ternyata gus An langsung terperanjat bangun dan membuka pintu. Tak disangka suara umi’ yang samar-samar tadi ternyata memang ada di alam nyata. Gus An mengucek matanya berusaha untuk melebarkan penglihatan.


“Umi’, ada apa mi’...?” tanya gus An melihat umi’ yang sedang panik. “Aufa, badannya panas banget. Ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang juga,” gus An mengangguk mengerti maksud umi Azizah. Tanpa membangunkan Naila yang masih terlelap semalaman, gus An menyambar kontak mobil. Kemudian memastikan kondisi adiknya yang masih terbaring di kamar, bisa berjalan atau tidak.


Kondisi neng Aufa saat ini sangat lemah, bibirnya pusat pasi dan suhu badannya terlalu tinggi. Mungkin saking panasnya, sampai-sampai tidak mau membuka mata. Tanpa pikir panjang gus An membopong adiknya kedalam mobil. Suasana Pesantren masih sepi, baru ada beberapa santri yang bangun sholat malam dan beberapa lainnya mungkin sedang berjaga.


Gus An melajukan mobil dengan kecepatan tinggi karena jalanan masih belum padat. Umi Azizah tanpa hentinya berdzikir dan sesekali menitikkan air mata karena tidak tega melihat kondisi putrinya. Abi Amir, jangan tanyakan beliau. Saat ini beliau sedang bepergian beberapa hari untuk mengisi acara pengajian di beberapa daerah. Mungkin santri-santri beliau hanya bisa bertemu dua sampai tiga kali saja dalam sebulan.


...****************...


Naila terperanjat saat mendengar suara bel jama’ah sholat subuh. Meskipun dia tidak ikut sholat, tapi memang santri-santri yang sedang berhalangan juga harus dibiasakan bangun subuh untuk membaca wirid khusus.

__ADS_1


‘Astaghfirullah, semalam mas An nggak bangunin Aku buat belajar. Aduh, gimana ini mana belum punya stok hafalan lagi’


Naila bergegas mencari buku saku khas anak pesantren, apalagi kalau bukan nadhoman. Dia menepuk jidatnya karena lupa membawa buku tersebut. Bagaimana tidak, niatnya ke Ndalem kan cuma mau ikut bersih-bersih saja, tapi gus An malah menyuruh Naila ke kamar saja. Sepertinya dia lupa kalau saat ini statusnya sudah jadi menantu kiyai.


‘Huft’, Naila mendengus kesal merutuki dirinya yang seringkali lupa menaruh atau membawa barang-barang penting. Tapi ini untuk urusan barang saja, kalau soal pelajar mah Naila nomor satu.


Mata Naila terbelalak saat ingat akan suatu benda yang tidak ada di sekitar tempat tidurnya. Benda apa lagi sih itu?


‘Ya handphone lah...’


‘Pasti ini ulah mas An, aku nggak boleh main lama-lama kali. Yaudah deh aku tungguin aja sampai turun dari mushola’


Sambil menunggu gus An, Naila memilih untuk mandi terlebih dahulu. Mandi di jam-jam subuh rasanya sangat segar bahkan sangat dianjurkan karena dapat memperlancar aliran darah, itupun kalau keramas. Tapi tidak berlaku buat kalian yang pemalas ya, ada yang bilang masih terlalu pagi lah, kedinginan lah atau bla bla bla.

__ADS_1


Setelah mandi, Naila bergegas memilih baju yang sudah tersedia di kamar gus An. Maksudnya kamar mereka berdua. Baju-baju itu tidak akan langsung Naila gunakan semua, bisa-bisa di curigai anak-anak se-pesantren kalau bajunya baru setiap hari. Biasanya kalau seperti itu pasti dituduh habis nyuri uang terus dibuat beli baju, ya begitulah dunia Pesantren. Padahal kita semua kan nggak tau, mungkin saja orang itu anak sultan atau bahkan konglomerat.


Jarum jam menunjukkan pukul 05.30, itu artinya jama’ah sholat subuh sudah selesai sejak tadi. Naila mondar mandir di kamar. Apa mungkin suaminya berceramah panjang kali lebar karena sampai saat ini belum selesai juga. Tapi di Pesantren sudah ramai dengan suara para santri. Naila mengintip ke arah kamar pesantren, siapa tau mungkin hanya anak-anak yang sedang berhalangan. Tapi dugaannya salah, justru kebanyakan dari mereka malah sudah mengenakan seragam sekolah masing-masing.


‘Lalu mas An kemana?’, Naila melangkahkan kaki keluar dari kamar. Eh, pas sekali langsung disuguhin ketemu sama Laras yang sudah siap bersih-bersih disertai dengan seperangkat alat perang yang dibawa.


“Kamu nggak lagi halangan kan...?” Naila bertanya kepada sahabatnya itu. Si Laras menggeleng. Kalau saja sedang halangan pasti kan bilang-bilang sama Naila. Karena pastinya mereka akan memiliki waktu yang lebih untuk bermain-main, biasanya sih ghibah kesana kemari.


“Tadi siapa yang jadi imam sholat...?”, Naila masih terus memberondong Laras dengan pertanyaan-pertanyaan. Karena semakin kesini sepertinya Ndalem sangat sepi. Biasanya pagi-pagi begini sudah terdengar suara umi’ yang sedang muroja’ah atau neng Aufa yang tengah membaca pelajaran di ruang tengah.


“Itu loh, yang mirip sama ustadz Taufiq, entahlah siapa namanya Aku lupa.”


‘Lalu kemana perginya semua anggota keluarga ini? Apa semalam Aku terlalu tidur pulas sampai tidak bisa dibangunkan untuk pergibersama mereka?’

__ADS_1


“Nai kok bengong sih...?”, Laras membuyarkan lamunan Naila. Entah mengapa saat ini dirinya sangat merasa bersalah akibat penyakitnya yang suka tidur ngebo itu. “Kamu lihat umi’ sama mas An pergi nggak?”, laras menggeleng.


‘Aku benar-benar tidak berguna bagi mereka, sampai-sampai di tinggal pergi begitu saja’, Naila meremas dadanya yang tiba-tiba sakit. Memang sejak awal dia tau, resiko jadi menantu kiyai itu banyak cobaan. Nggak tanggung-tanggung lagi.


__ADS_2