GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR

GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR
Bab 41


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu, akan tetapi Gus An masih juga belum menampakkan batang hidungnya untuk bertemu Ayah Naila. Padahal beliau sudah berjanji untuk segera menemui pak Said dan menikahi Naila dalam waktu kurang dari satu minggu, sebelum waktu liburan pesantren habis. Naila semakin murung dan lebih memilih untuk tidak keluar dari kamar saat nomor Gus An tidak bisa di hubungi. Hatinya sangat sedih, apalagi Ayahnya mengatakan hal yang sama. Nomor Gus An tidak aktif. Perasaan kecewa muncul dari hati kedua orang tua Naila yang akan menjadi mertuanya. Begitupun dengan Naila, keluarga mereka seakan telah di bohongi dan di permainkan oleh seorang putra kiyai yang terhormat. Gus An benar-benar menghilang.


Tiba waktunya liburan habis, semua santri bersiap untuk kembali ke pesantren termasuk Naila. Dia sangat patah hati hingga kehilangan selera untuk kembali ke pesantren. Kedua orangtuanya terus membujuk agar Naila mau kembali. Meskipun dengan berat hati, Naila harus tetap kembali. Dia terus menangis di sepanjang perjalanan. Kedua orangtuanya juga ikut sedih.


“Kamu jangan begitu dong sayang, Ayah sama Ibu jadi makin sedih kalau kamu gini terus. Nanti kita tanyakan ke Abi ya, Gus An kemana kok sampai nggak bisa di hubungi.” dengan berat hati kedua orangtuanya melepaskan Naila, rasanya seperti saat awal Naila berangkat ke pesantren.


Tiba di ndalem, Abi Amir dan Umi Azizah sendiri yang menyambut tamu. Termasuk kedatangan Naila dan keluarga. Tidak ada Gus An yang biasanya ikut berbincang-bincang dengan para tamu.

__ADS_1


“Alhamdulillah, nggak kerasa ya Naila udah naik kelas XI.” Sambut Umi dengan nada ramah di antara wali santri yang ikut sowan bersama putra putrinya. Tidak menampakkan jika ada sesuatu antara keluarga beliau dengan keluarga Naila, memang Naila sendiri yang meminta agar dirinya tidak semakin di benci oleh para hatters-nya. Naila hanya tersenyum simpul, tidak mungkin akan membenci Umi dan Abi sekalipun mereka orangtua dari Gus An yang telah mengingkari janjinya.


“Putra putrinya lagi pada kemana mi, kok ndalemnya sepi...?” tanya bu Ania tentunya dengan profesional juga agar tidak memancing kecurigaan wali santri.


“Yang Aufa mungkin lagi muroja’ah bu, kalau yang Aan lagi main ke Mesir tempat kuliahnya dulu. Katanya ada masalah yang harus segera di selesaikan, ya maklum lah umur segitu masih suka pergi main-main sama temannya.”


“Keren banget ya mi bisa kuliah di sana, emang impian banyak orang sih. Tapi Naila katanya nggak mau kalau di kuliahin disana, takut nggak bisa pulang.”

__ADS_1


“Ya Allah Naila kenapa nggak mau, enak kok disana. Malahan sekarang itu banyak beasiswa loh, nanti kamu juga bisa tanya-tanya sama Gus An. Dia pasti juga mau membantu kalau ada yang minat.” Jelas umi’ panjang lebar seperti layaknya menghadapi seluruh wali santri.


“Apa boleh saya minta nomor-nya Gus An mi...? saya mau tanya-tanya. Siapa tau nanti Naila jadi minat.” bu Ania berhasil memancing umi Azizah untuk memberikan nomor telepon putranya. Langsung beliau catat di ponselnya meskipun sebenarnya sudah punya nomor Gus An yang sudah tidak bisa di hubungi itu.


Kok sama...? batin Naila dan bu Ania saat mau mencoba menghubungi nomor tersebut. Umi Azizah juga mengatakan jika beberapa hari ini nomor Gus An tidak aktif, entah apa saja yang di lakukan Gus An disana sampai tidak sempat memberikan kabar kepada Adik dan orantuanya. Padahal sebenarnya umi mau menitip beberapa kitab dan Al-Qur’an yang asli dari sana, jelas umi panjang lebar.


Tubuh Naila mendadak lemas, pikiran dan hatinya cemas. “Apa yang terjadi dengan Gus An...?”, kedua orangtuanya hanya bisa menghibur agar putrinya tidak sedih lagi. Akan tetapi itupun akan sia-sia saat seseorang sudah merasakan jatuh cinta. Iya, Naila memang sudah jatuh cinta kepada Gus An meskipun baru sepuluh persen.

__ADS_1


__ADS_2