GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR

GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR
Bab 46


__ADS_3

Dua hari kemudian Naila di jemput oleh Ayahnya. Sesuai dengan janji Gus An, pernikahan itu harus berlangsung sesegera mungkin. Menikah di usia muda bukan impian Naila, akan tetapi takdir berkata lain. Dia kini sudah berada di depan meja rias. Ayahnya menyewa perias kelas atas untuk make over putri semata wayangnya. Sejak pulang dari pesantren dia tidak bisa tidur dengan tenang. Memikirkan dan membayangkan apa yang harus di lakukan suami istri saja sudah menyeramkan. Apalagi melakukan dengan sungguhan.


Tidak... ini seketika membuatku gila...


Aku tidak mau hamil cepat, nanti tidak bisa ujian, tidak bisa kuliah, tidak bisa pakai ootd kekinian, gimana ini...? aku takut Ayah, Ibu...


Jantung Naila berdebar-debar saat Ibunya masuk ke dalam kamar dan mengatakan jika mempelai laki-laki sudah datang. Tentunya hanya dalam hitungan menit mereka akan melangsungkan akad nikah. Naila menatap dirinya di kaca, dari atas sampai bawah, cantik, pikirnya. Di luar sana terdengar suara ramai-ramai.


“Sah...?”


“Sah...” para saksi mengucapkan kesaksiannya. Air mata Naila tiba-tiba jatuh di pelupuk mata. Dirinya saat ini sudah menyandang status baru. Menjadi seorang istri. Jika dulu dirinya harus berbakti kepada orangtua, kini sudah berganti kepemilikan harus berbakti kepada suami. Ibunya masuk ke kamar untuk menjemput Naila. Tak terasa air mata beliau juga ikut luruh begitu saja, mengingat putri satu-satunya kini sudah menjadi milik orang lain.


Akibat gaun yang di kenakan terlalu berat, Naila kesulitan berjalan. Seluruh orang yang ada di ruang tamu menatap kagum kepada Naila, dia terlihat sangat cantik. Apalagi Gus An, beliau susah payah menelan salivanya. Suara deheman terdengar dari berbagai penjuru lantaran dirinya terpaku dengan pesona kecantikan Naila.


“Iya iya, nanti juga udah bisa di makan kok...” ucap Neng Aufa lirih tepat di telinga Gus An membuat kakak satu-satunya itu gelagapan mengalihkan pandangan.

__ADS_1


Sial... bikin malu aja nih adik perempuan...


Naila mencium punggung tangan Gus An yang sudah sah menjadi suaminya. Begitu pula Gus An mencium kening Naila. Semua orang bersorak bahagia menyaksikan pengantin yang nampak serasi meskipun sebenarnya Naila masih belum cukup umur untuk menikah.


...****************...


Setelah acara akad nikah selesai, Naila semakin gugup. Jantungnya berdetak tidak karuan sampai bisa di dengar orang lain. Ayah dan Ibunya tersenyum saat menyadari hal itu. “Maklum, semua pengantin baru akan merasakan hal yang sama.”



“Kamu sedang memikirkan apa sayang...?” mendengar panggilan baru untuknya, ternyata membuat telinganya sedikit geli. Padahal sudah biasa di panggil ibu dan Ayahnya seperti itu.


“Hmm tidak...”


“Apa setelah akad nikah selesai kamu baru menyesal karena telah menikah...?” tanya Gus An sambil sengaja menggoda Naila. Istri kecilnya itu hanya menggeleng dan masih tidak ingin berbicara.

__ADS_1


“Apa tidak ada panggilan lain selain yang tadi Gus...? itu panggilan khusus yang di gunakan Ayah sama Ibu untuk memanggil saya.” Gus An rasanya ingin tertawa mendengar pertanyaan dari Naila. “Tingkah laku Naila semakin lucu aja...” batin Gus An lantas mencubit hidung Naila yang mancung.


“Tidak ada, kamu sekarang bukan lagi anak kecil yang di manja sama Ayah dan Ibu. Semua tanggung jawab dan yang berhak atas kamu cuma saya.” Gus An tersenyum simpul saat Naila mengerucutkan bibirnya.


“Tapi jangan berbuat seenaknya ya Gus, saya ada beberapa permintaan. Apakah Gus An bersedia untuk memenuhi...?”


“Kamu masih sangat formal saat bicara. Coba ganti kosa katamu dengan yang lebih santai. Ini di rumah, bukan di sekolah atau tempat kerja. Kamu berbicara dengan suami, bukan dengan ustadz atau atasan. Ayo sekarang ganti kata saya menjadi Aku, Gus An menjadi Mas An. Oke sayang...?” Gus An menaik turunkan alisnya. Dia bukanlah Gus An yang di kenal para santri putri, tegas dan berwibawa, tidak banyak bicara dan dingin. Gus An yang ini lebih humoris dan terlihat kebapakan.


“Baiklah, Aku akan meminta sesuatu pada Mas__” Naila menutup mulutnya tidak mau melanjutkan. Dia sangat geli mengucapkan panggilan itu. Gus An tersenyum simpul, mengerti.


“Memanggil namaku saja kamu tidak bisa, lantas mau gimana suamimu ini bisa mendengar permintaanmu...?” Naila semakin gugup, terdengar nafasnya yang tidak beraturan. Pipinya berubah menjadi merah seperti tomat. Gus An benar-benar suka menggodanya.


“Mas An, Mas An, Mas An...” Naila mengulang-ulang nama Gus An, membuat pemilik namanya merasa heran. “Biarkan istri kecilmu ini berlatih untuk memanggil nama dengan sebutan yang aneh terlebih dahulu...” Gus An terkekeh mendengarnya.


“Kamu kenapa sih nggak lucu dari dulu, tau gitu Aku akan lebih cepat menikahimu sayang...? kenapa malah jadi santri yang sok suka berontak, suka bertengkar, pemalas, barbar lagi... padahal sebenarnya itu bukan sifat asli kamu...” Gus An terkekeh, Naila juga ikutan tertawa. Mengingat sikapnya dulu yang sangat barbar dan tidak karuan kini ternyata mudah di patahkan oleh putra kiyainya sendiri.

__ADS_1


“Ya udah lanjut saja, sebut sampai hafal nama suamimu yang tampan ini. Biar nanti malam kamu tidak lupa saat mau menjerit...” Gus An membisikkan di telinga Naila. Membuat bulu kuduk Naila berdigik ngeri. Takut jika Gus An akan langsung meminta jatahnya nanti malam.


__ADS_2