
“Kalian curang, Naila benci sama kalian.” setelah mendengar cerita dari Ayahnya serta Gus An, Naila kesal dengan mereka lantaran Gus An ternyata sudah sering menghubungi Ayahnya. Akan tetapi dia tidak di beritahu, Ayahnya membiarkan dia sering stres akibat memikirkan Gus An yang di anggap memberikan harapan palsu. Itu pun ternyata juga dengan permintaan Gus An dengan alasan agar Naila fokus belajar terlebih dahulu. Tapi ternyata di luar ekspektasi, justru itu Naila tidak ada semangat belajar lagi bahkan sampai kehilangan selera untuk hidup. Dia benar-benar patah hati.
“Lalu kenapa Gus An pergi kesana bareng sama Neng yang tadi...?”
“Itu hanya kebetulan saja Naila, kegiatan itu membuat seluruh alumni yang berasal dari Indonesia datang kesana. Lalu bagaimana saya tidak pulang bersama Farah, hanya dia satu-satunya alumni yang sedaerah dengan saya. Jadi mau nggak mau harus satu pesawat dengannya.” jelas Gus An yang semakin gemas dengan pertanyaan-pertanyaan Naila.
“Udah foto berapa kali sama Neng itu...?”
“Banyak...” goda Gus An di tengah Naila merasa cemburu dan kurang nyaman akan kehadiran Neng Farah saat di bandara. Naila langsung memicingkan matanya.
“Sini lihat instagramnya...” Gus An tidak memberikan ponselnya meskipun Naila sedikit memaksa. “Nanti kamu malah makin cemburu soalnya ada banyak foto Farah disini.” Gus An terkekeh, sangat semangat untuk membuat Naila semakin cemburu.
__ADS_1
“Yaudah pilih Neng itu aja. Udah cantik, pendidikannya tinggi, anaknya kiyai, selebgram, banyak followers, terus apa lagi ya__” Naila sengaja menggantungkan ucapannya sambil terlihat berpikir keras.
“Yaudah kalau gitu saya nikah sama Neng Farah aja. Nggak jadi sama kamu...” Gus An sengaja menggoda Naila yang semakin memanyunkan bibirnya.
“Kalau Gus An mau membunuh saya nggak usah gitu, mending langsung ambil pedang sana. Sembelih saja leher Naila. Biar nggak lama-lama sakitnya.” sontak membuat pak Said dan Gus An tertawa terbahak-bahak. Putri kesayangannya itu ada-ada saja, dia kira hewan kurban apa minta di sembelih seenaknya.
Setelah keadaannya benar-benar pulih, Naila kembali ke pesantren dengan hati berbunga-bunga. Hubungannya dengan Gus An kian membaik. Semua sudah jelas. Rasa sakit hatinya tiba-tiba luntur begitu saja. Perempuan memang sulit di mengerti, moodnya suka berubah-ubah. Gus An juga harus bisa sabar menghadapi Naila.
“Ada deh...” jawan Naila sembari merebahkan tubuhnya yang lelah selepas menjadi objek sandiwara Gus An dan Ayahnya. Dia senyum-senyum sendiri mengingat kebodohannya selama ini. “Dasar bocil, bisanya cuma nangis doang.” Batinnya dalam hati.
“Kelihatan bahagia banget kamu Nai, cerita dong sama kita. Jangan cuma pas sedih aja, gini kalau bahagia juga kamu harus cerita.” sindir Rara yang baru saja datang lalu mencomot jajanan yang di bawa Laras. Mau gimana lagi, Naila juga tetap harus cerita.
__ADS_1
“Hah...? kamu jadi menikah dengan__?” Naila langsung membungakam mulut mereka berdua agara tidak kelepasan. Bisa bahaya kalau sampai ada anak lain yang mendengar. Bisa-bisa dia di cibir dan di bully oleh seluruh santri, terutama fans-fans Gus An yang selama ini tidak terbalaskan.
“Kamu yakin mau nikah sama Si Asep...?” tanya Rara yang tiba-tiba membuatkan nama samaran untuk Gus An agar hubungan Naila tidak cepat di ketahui orang lain. Naila memang meminta kepada siapapun untuk merahasiakan hubungannya dengan Gus An sampai waktu yang tepat untuk menyebar luaskan hubungan mereka tiba.
“Asep...?” mereka bertiga tertawa mendengar nama samaran yang di anggap lucu itu. Buruk sekali menurut mereka. Dari Khoirul Anam menjadi Asep.
“Ya jadi dong, salah siapa dulu yang mulai. Sini udah terlalnjur cinta mana mungkin di tinggalkan begitu saja.” Jawab Naila dengan sok imut. Meskipun sebenarnya memang imut sih...
“Tapi menikah itu bukan soal cinta saja Naila, bukan soal dua manusia yang di satukan kemudian menjadi__”
“Sudah tau, Gus An sudah pasti faham semuanya. Biar dia lah yang mengatur urusan rumah tangga. Aku nggak mau ikut campur...” Laras dan Rara menepuk jidat. Sahabatnya yang satu ini memang keras kepala. Jadi tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali mendukung sepenuhnya.
__ADS_1