GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR

GUS NACKAL VS SANTRI BARBAR
Bab 55


__ADS_3

‘Awas aja, Aku nanti akan memarahi Mas An habis-habisan. Ya kali, adek ipar sakit malah Aku dibiarin tidur enak-enakan’, gerutu Naila dalam hati seraya mencoret-coret satu halaman buku tulisnya yang masih ksosong. Laras dan Rara saling berbisik, “lihat tuh Naila sampai segitunya, emang Gus An keterlaluan sih pergi nggak bilang-bilang.”


“Aku tau apa yang kalian bicarakan, jangan ngomong dibelakang ya. Sini kalau berani main tonjok-tonjokan,” Laras dan Rara dibuat heran dengan sikap Naila baru saja. Duh, gara-gara menikah malah otak anak ini jadi agak gesrek.


Bel istirahat berbunyi, Naila tidak berselara untuk turun. Dia lebih memilih untuk duduk diam sambil murung dibangkunya sendirian. Kedua sahabatnya sudah mengajak untuk pergi ke kantin bersama, tapi Naila menolak. “Kalian aja deh yang pergi, Aku lagi males kemana-mana,” ucap Naila tidak berselera padahal sebenarnya perutnya keroncongan karena tadi tidak mau sarapan.


“Nanti kamu sakit loh Nai, perutmu sejak pagi tidak terisi apapun,” bujuk Laras sampai lelah pun Naila tetap tidak mau. Dia anak yang keras kepala. Kalau sudah terlanjur mengucapkan sesuatu enggan untuk menariknya kembali.


Dengan terpaksa akhirnya Laras dan Rara pergi ke kantin hanya berdua. Biasanya mereka bertiga akan membuat kegaduhan di kantin, entah ada saja yang mereka bicarakan.


Sebelum ke kantin, Laras mengantarkan Rara ke kamar terlebih dahulu untuk mengambil uang. Gus An berada diambang pintu Ndalem, sepertinya sedang mencari sesuatu. Bukan sih, lebih tepatnya mencari seseorang. Siapa lagi kalau bukan istrinya.

__ADS_1


“Laras, sini...” panggil Gus An, membuat Laras mendekar ke arah beliau. “Iya Gus,” jawabnya dengan nada yang sopan untuk menghormati guru.


“Naila dimana...? kenapa nggak sama kalian...?”, Gus An berkata dengan lirih agar tidak didengar oleh santri yang berseliweran. “Anu Gus, hmm...Anu...”, mulai deh gagapnya muncul.


“Dimana heh...? di kelas? atau di kamar?”, tanya Gus An yang semakin tidak sabaran. “Jadi begini Gus, Naila itu tadi menangis, dia ngambek karena nggak diajak pergi sama jenengan. Sampai-sampai tidak mau sarapan loh tadi, sekarang juga malah murung di kelas nggak mau diajakin beli jajan,” Gus An menarik nafas panjang. Dugaannya memang benar, pasti tadi Naila bingung mencari kemana perginya semua orang yang ada di Ndalem.


“Sekarang tolong panggilkan Naila ya, suruh dia ke Ndalem sekarang juga,” Laras belum sempat mengangguk. “Sekarang juga Laras,” Gus An membentak Laras yang masih diam mematung seperti orang bengong.


“Hei Laras tungguin dong, kok kamu ninggalin Aku sih...”, teriak Rara yang baru saja keluar dari kamar setelah mengambil uang saku. Laras tidak menghiraukannya, dia lekas memanggil Naila yang sedang berada di kelas.


“Di panggil, hmm... ayo cepetan,” Naila tidak tega melihat Laras yang berbicara sambil nafasnya tersengal. Dia pasti tengah panik makanya sampai tidak bisa berbicara lagi. Terpaksa Naila mengikuti Laras meskipun belum tau sebenarnya apa yang akan dilakukan Laras kepadanya. Si gendut itu hanya menarik lengan Naila sampai berada di lantai satu kemudian menyeretnya kedalam Ndalem.

__ADS_1


“Gus...”, satu kata yang bisa diucapkan oleh Laras. Kasihan sekali dia, selain tubuhnya yang terlalu subur juga ternyata punya penyakit gagap. “Naila...”, muncul-lah orang yang dipanggil oleh Laras tadi.


“Hmm,” Naila berkata datar. Niatnya mau nyuekin suaminya itu. Gus An malah menarik lengan Naila dan membawanya sampai ke ruang tengah. Laras melongo melihat pemandangan tersebut.


“Haduh, Naila mau diapain tuh sama Gus An,” fikirannya mulai melayang kemana-mana. Membayangkan sesuatu akan terjadi kepada Naila. Laras memukuli kepalanya sendiri, kenapa otaknya menjadi kotor begitu ya.


“Naila, dengarkan Aku baik-baik. Aku minta maaf karena tidak sempat bangunin kamu tadi malam. Aufa sakit, dan umi’ sudah sangat panik. Sedangkan kamu tidur sangat nyenyak, jadi Aku nggak tega bangunin kamu,” Gus An menjelaskna panjang lebar berharap agar istrinya mau menerima alasan tersebut.


“Ya udah mau gimana lagi, memang Aku nggak begitu penting kan buat Mas An. Kalau udah terlanjur mau gimana lagi...” Naila masih berkata dengan cuek. Meskipun Gus An sudah memberikan alasan, tapi dia tidak terima.


“Naila, tolong ngertiin ya. Umi’ mau di temenin sama kamu. Aufa mau di operasi habis ini,” mata Naila langsung membulat mendengar adik iparnya mau dioperasi.

__ADS_1


“Ya Allah, Neng Aufa sakit apa Mas? Eh, dek Aufa maksudnya...” boro-boro ngelanjutin marah, dengar kata operasi aja Naila sudah luluh.


“Dia sakit usus buntu, sama badannya panas. Kamu ganti baju dulu, kita langsung kesana.”


__ADS_2