
Helaan nafas panjang dan berat pun terlihat dilakukan oleh Papah Sandi. Dimana dirinya berada ditengah tengah.
Tidak tega melihat sang istri yang selalu bersedih karena Bian, anak bungsu mereka tiba tiba saja menghilang tanpa adanya kabar.
Namun disisi lain, Papah Sandi juga takut terjadi sesuatu pada Laras dan juga janin yang saat ini tumbuh didalam rahim gadis yang kini sudah kembali resmi menjadi menantunya, jika dirinya berkata jujur tentang Fabian saat ini.
Papah Sandi pun akhirnya memutuskan untuk bungkam dan menunggu Bian yang menjelaskan semuanya nanti.
***
***
Sementara ditempat lain...
Lebih tepatnya disebuah kamar, tampak sepasang kekasih halal yang masih betah bergelung dengan selimut tebalnya meski matahari sudah menampakan teriknya.
"Pagi sayang," sapa Bian pada Laras yang baru saja membuka matanya.
"Pagi juga Mas, kamu sudah bangun ya? Ini jam sudah berapa?"tanya nya yang akan langsung segera bangkit namun urung dia lakukan setelah menyadari jika tubuhnya masih polosan.
Rona merah pun kini hadir diwajah cantiknya meski tanpa polesan makeup, saat mengingat aktifitas panas keduanya tadi malam.
Meski sudah mendapatkan larangan dari dokter, namun tampaknya hasrat itu begitu sulit ditahan oleh Bian yang sudah berpuasa selama satu tahun lamanya.
__ADS_1
Namun Bian melakukan nya perlahan dan dengan gerakan lembut yang membuat Laras nyaman dan ikut terhanyut menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Bian.
Bian tersenyum bahagia saat bisa melihat kembali bagaimana wajah malu malu Laras setiap kali mereka selesai berhubungan badan.
Wajah merah merona dan malu malu dari Laras selalu membuat pria itu candu akan aktifitas panas diantara mereka berdua.
Bian menarik Laras masuk kembali ke dalam pelukkan nya, hingga kulit tubuh mereka kembali saling menempel dan itu menghadirkan kembali sensasi dan gelenyar aneh ditubuh keduanya.
"Lepas Mas, aku mau mandi," lirih Laras mencoba melepaskan diri saat merasakan sesuatu yang kembali tegak dibawah sana.
Laras mengigit bibir bawahnya saat tahu apa yang terjadi pada tubuh Bian saat ini. Sehingga Laras pun mencoba melepaskan diri.
Sisa semalam pun tubuhnya masih terasa lemas dan tak berdaya. Masih belum siap rasanya jika suaminya itu kembali meminta haknya pagi ini.
Bian terkekeh saat melihat wajah panik Laras, tidak tega melihat Laras yang kalang kabut menghadapi sikap mesum nya.
Bian pun akhirnya memberi jarak lalu mencium kening Laras sebelum dirinya bangkit dari pembaringan, lalu mengangkat tubuh Laras dan membawanya ke kamar mandi dalam gendongan nya.
"Mas, ya ampun. Aku bisa jalan sendiri," seru Laras yang kaget saat tiba tiba tubuhnya terasa melayang karena Bian mengangkatnya.
"Tidak boleh, aku sudah membuat tubuhmu lemas dan tidak nyaman saat berjalan kan? Maka dari itu, aku harus bertanggung jawab,"
"Tapi___"
__ADS_1
"Kita hanya akan mandi sayang, Mas janji tidak akan macam macam, dan kita hanya akan mandi bersama, ok."
Mendengar penjelasan dari Bian, Laras pun merasa sedikit lega. Dan kini dimengangguk setuju dan keduanya pun akhirnya mandi bersama tanpa ada drama lain nya.
Selesai membersihkan diri, Laras langsung menyiapkan ganti untuk suami nya itu. Laras sempat dibuat kaget dengan jejeran baju baju milik Bian dan juga jejeran baju baju wanita yang diperuntukkan untuknya.
Laras heran, kapan baju baju itu ada disana? Perasaan koper yang di isi baju baju ganti keduanya belum sempat Laras bongkar untuk dipindahkan ke lemari yang ada di kamar itu.
Namun lemari yang lebar dan dingginya sama seperti dinding kamar itu pun sudah dipenuhi oleh baju baju ganti untuknya dan juga untuk Bian, suaminya.
"Hari ini kekantor nggak Mas? kalau kekantor, bias aku siapkan baju kerjanya," tanya Laras yang bingung saat melihat deretan baju baju milik Bian.
"Tidak sayang, hari ini aku ingin menghabiskan waktu bersama mu dan calon anak kita. Mungkin besok aku akan kembali bekerja, saat ini kamu tengah hamil, bisakah tidak bekerja dulu? Untuk toko, kamu serahkan sama orang yang bisa dipercaya, bagaimana?" jawab Bian kembali memeluk tubuh Laras yang tengah fokus memilihkan baju untuknya.
"Aku juga sudah berpikir begitu. Ini anugrah yang kita tunggu setelah sekian lama. Dan aku tidak mau kehilangan nya,"
"Baiklah, terima kasih karena sudah menghadirkan dia sebagai pengikat hubungan kita agar jauh lebih kokoh lagi,"
"Tapi, bagaimana dengan Mamah Mas,"
"Ssstttt, stop memikirkan Mamah. Fokus saja pada pertumbuhan calon bayi kita. Untuk urusan Mamah, kita urus nanti setelah anak kita lahir, ok."
Laras hanya bisa mengangguk patuh. Jujur, Laras pun takut terjadi sesuatu yang buruk pada kehamilan nya jika dia memaksakan diri untuk menyelesaikan masalahnya dengan sang mertua.
__ADS_1
Namun Laras berharap, semoga keputusan yang dia dan Bian ambil memang lah yang terbaik untuk hidup dan keluarganya nanti.