
"Bapak meminta saya mengambil alih tanggung jawabnya. Meski awalnya ragu, tapi. Saat melihat keyakinan yang diberikan beliau pada saya, membuat hati saya tergerak dan ikut yakin dengan keputusan dan langkah yang harus saya ambil. Dan, inilah status kami saat ini, tuan," jelas Reza menjelaskan status barunya saat ini.
"Lalu, bagaimana dengan mu sendiri Mel? Kamu yakin dengan pernikahan ini?" tanya Laras pada rekan kerja sekaligus teman untuk nya itu.
"Insya Allah, Mbak. Jika Bapak yang baru saja bertemu dengan Mas Reza sudah yakin, kenapa aku harus ragu? Insya Allah, aku akan mencoba menerima pernikahan ini dan belajar menjadi istri yang baik untuk Mas Reza,"
"Kita akan sama sama belajar dan menerima hubungan ini Mel,"
"Iya Mas,"
.
***
***
Menjelang siang, Laras dan Bian pun akhirnya pamit pulang. Mereka pun memberi Meli dan Reza waktu libur hingga satu minggu kedepan untuk mengurus segala keperluan pemberkasan pernikahan dan juga menyelesaikan acara tahlilan untuk mendoakan almarhum Pak Anwar.
__ADS_1
Setelah dari rumah duka, pasangan pasutri itu tidak langsung pulang. Melainkan mampir dulu ke toko untuk mengecek ke adaan toko dan menitipkan toko ke pegawai lain selama Meli mengambil cutinya.
Laras pun tampak mengecek kedua tokonya yang dibantu oleh Bian yang turun tangan langsung melihat semua laporan pembukuan dikedua toko milik sang istri.
Menjelang sore, keduanya pun baru bertolak kembali kerumah. Saking lamanya mereka beraktifitas diluar, payu dara Laras bahkan sampai terasa sakit karena penuh dan belum di susukan pada sang anak.
"Kamu kenapa sayang? Kok terlihat gelisah?" tanya Bian saat melihat Laras yang tampak tidak tenang.
"Air susu aku sudah penuh Mas. Sepertinya Ghafin sudah mulai lapar deh, ini saking penuhnya sampai sakit," keluh Laras.
"Sabar ya, sebentar lagi juga sampai kok," jawab Bian yang duduk dibalik kemudi mobil.
Laras langsung turun dari mobil dan berlari masuk kedalam rumah saat Bian sudah memarkirkan mobilnya dihalaman rumah mereka.
Rasa tidak nyaman yang Laras rasakan yang bersumber dari sumber kehidupan milik sang anak membuatnya langsung masuk begitu saja kedalam rumah, mengabaikan Bian yang masih didalam mobil.
Namun hal itu sangat di maklumi oleh Bian. Toh Laras melakukan itu karena begitu khawatir dengan ke adaan putra mereka, Ghafin.
__ADS_1
Dan benar saja, saat menemukan sumber kehidupan nya. Ghafin menyusu dengan lahapnya. Bahkan Laras harus meringis saat sang anak menghisap ****** itu dengan begitu kuat.
Meski begitu, rasa lega pun langsung dirasakan oleh Laras karena kedua bukit kembarnya itu sudah tidak terasa sakit seperti tadi.
"Maaf ya Mah, tadi ada urusan di toko maka nya jadi agak lama," ucap Laras penuh rasa sesal karena sudah meninggalkan sang anak terlalu lama.
Belum lagi raut wajah lelah di kedua wajah para nenek membuatnya semakin tidak enak hati. Dan merasa bersalah karena sudah merepotkan kedua ibu itu.
"Tidak kok sayang, Ghafin anak yang pintar. Dia bahkan mau meminum susu formula karena ASIP yang kamu tinggalkan sudah habis tak bersisa,"
"Masa Mah? Padahal semalam aku lumayan menyimpan cukup banyak stok loh,"
"Lagi masa pertumbuhan sayang. Jadi wajar jika Ghafin sering merasa lapar dan sering menyusu,"
"Benar, kini berat badan nya juga sudah naik banyak. Sehat sehat ya sayang, semoga kelak bisa menjadi orang yang sukses dunia dan juga akhirat, Aamiin,"
"Aamiin,"
__ADS_1
.
****